BALI EXPRESS, AMLAPURA - Kerbau merupakan jenis hewan mamalia. Salah satu desa yang masih melestarikan kerbau di Bali adalah Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Di desa itu, hewan yang oleh orang Bali disebut kebo ini termasuk hewan suci. Desa setempat menyebutnya Duwe atau Kebo Sanghyang.
Bagi wisatawan yang biasa malali (jalan-jalan) ke Desa Tenganan Pegringsingan , mungkin pernah melihat kerbau hitam berkeliaran di desa wisata itu. Hewan tersebut termasuk dilindungi di sana. Namun, tak dikandangkan. Hidupnya liar, mencari makan sendiri. Terkecuali saat sakit, kekurangan makanan, berkeliaran hingga ke luar desa, atau mati dengan sendirinya, baru ada yang mengurus, yakni Rencang Adat. Rencang ini adalah keluarga pendatang yang menetap di Tenganan Pegringsingan. Ketika Rencang Adat ini kewalahan mengurus kerbau itu, dibantu krama adat.
Saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), salah satu Kelian Adat Desa Tenganan Pegringsingan, I Wayan Sudarsana, tak bisa menjelaskan sejak kapan ada kerbau di desanya. Pihaknya sebatas memastikan bahwa kerbau itu sudah ada sejak zaman dulu, dan memang harus tetap ada kerbau di sana.
Pasalnya, kerbau di desa itu merupakan sarana upakara. Serangkaian Usaba Sambah atau yang lebih dikenal dengan perang pandan pada sasih kalima kalender desa setempat, ada rangkaian upacara ngaturang kerbau di Pura Bale Agung. Kerbau ini hanya bisa dipotong serangkaian Usaba Sambah, atau dalam keadaan sakit, seperti mengalami patah tulang hingga tidak bisa berjalan. “Kalau sudah mati dikubur, kalau masih sakit seperti patah, bisa dipotong,” ujar Sudarsana.
Meski termasuk hewan disucikan, pria berusia 46 tahun ini menuturkan, jumlah kerbau di desanya semakin menyusut. Dulu jumlahnya mencapai puluhan. Sekarang tinggal sekitar lima ekor. Sehingga sulit ditemui, karena kerbau ini juga biasa hidup di hutan. Maklum, Tenganan Pegringsingan yang termasuk desa tua tersebut dikelilingi bukit. Hutannya masih lestari. Kerbau ini juga jalan-jalan ke luar wilayah desa. Sehingga saat koran ini datang ke desa itu, beberapa waktu lalu, seekor pun tak terlihat ada kerbau. Berbeda ketika bertandang ke sana sekitar setahun atau dua tahun lalu. Hampir setiap ke sana, terlihat beberapa kebo di pemukiman warga. Tidak galak, asalkan tidak diganggu.
Sebagaimana ditegaskan Sudarsana, pantang bagi warga mengganggu hewan ini. Bukan hanya sebatas gangguan fisik seperti dipukul. Dicaci atau berbicara kotor pun pantangan bagi warga di sana. “Dulu sempat ada orang marah-marah, kebo duwe dicaci. Orangnya dikejar, sampai masuk rumahnya. Orangnya naik juga sempat ditungguin. Kadang-kadang juga diingetin. Pokoknya kalau disakiti, bisa lebih menyakiti,” jelasnya.
Lanjut Sudarsana, keberadaan kerbau itu terus mengalami penyusutan karena selain setiap tahun wajib dipotong untuk upacara, banyak kerbau juga mati sakit. Sekitar setahun lalu, beberapa kebo di sana mati secara berturut dalam waktu berdekatan.
“Kami sudah cek, datangkan dokter hewan. Kebonya sehat. Katanya karena salah makan, jadinya mati. Ada pohon mengandung getah dimakan,” sebutnya.
Maklum, lanjut Sudarsana, kerbau itu diliarkan. Bebas mencari makan sendiri. Karena kalau dikandangkan akan sangat kesulitan memberi makan. Lantaran jumlahnya sekarang semakin berkurang, maka desa setempat berencana membeli kerbau. Ini harus cepat dilakukan supaya kerbau di sana tidak sampai habis. Karena serangkaian Usaba Sambah harus memotong kerbau. Boleh membeli asalkan jenis kerbaunya sama dengan yang ada saat ini, yakni kerbau bulu hitam.
Sebelum dipotong untuk dihaturkan di Pura Bale Agung, kerbau diarak terlebih dulu di Pura Kandang desa setempat. Pura Kandang ini hanya ada satu palinggih, dan tidak ada panyengkernya. “Sane malinggih di sana (Pura Kandang) diyakini yang memelihara kebo ini secara niskala. Sebelum dipotong, istilahnya mapamit dulu di Pura Kandang,” tandas ayah dari Jegeg Karangasem 2014, Ni Putu Eka Agustini, itu.
Setelah diarak di Pura Kandang, baru dibawa ke Pura Bale Agung, dipotong siang hari untuk dihaturkan. Lungsuran daging kerbau ini bisa dibagi-bagi krama di sana. Pembagiannya tak sembarangan. Dibagi sesuai posisi atau jabatan krama di desa adat. Misalnya, penasehat desa dapat bagian daging yang paling atas, seperti kepalanya. Dilanjutkan dengan klian adat yang jumlahnya ada enam orang, baru posisi lainnya.
Saat ini keberadaan kebo juga menjadi ikon Desa Tenganan Pegringsingan. Ada patung kerbau terbuat dari tembaga di pintu masuk desa tua itu. Selain patung kerbau, ada juga patung perang pandan yang terkenal di desa itu.