Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Melukat; Airnya Kecil Saat Hujan, Debitnya Naik Saat Kemarau

I Putu Suyatra • Selasa, 27 Februari 2018 | 17:49 WIB
Tempat Melukat; Airnya Kecil Saat Hujan, Debitnya Naik Saat Kemarau
Tempat Melukat; Airnya Kecil Saat Hujan, Debitnya Naik Saat Kemarau

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Salah satu tempat malukat di Klungkung ada di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja. Namun,  sumber mata air yang ada di kawasan Pura Tirta Celempung ini, belum banyak diketahui warga.


Prajuru Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, tak menyanggah  tempat malukat di kawasan Pura Tirta Celempung  belum begitu diketahui masyarakat. Sebatas orang-orang tertentu mengetahui keberadaannya.


Pura yang piodalannya dilaksanakan  setiap purnama kadasa ini,  posisinya berada di sebuah campuhan. Terdapat beberapa palinggih di jeroan pura, yakni   Sanggaran Agung, Palinggih Ida Bhatara Wisnu, Manik Galih, dan Palinggih Pelipir.  Ada juga Bale Pangaruman atau Piyasan, Bale Pawedan, Bale Pagongan, dan Bale Panggungan. 


Tidak diketahui secara pasti, kapan pura itu pertama kali dibangun. Pun dengan sumber mata airnya. Konon, keberadaan Pura Tirta Celempung berawal dari penggalian batu padas di sana. Salah seorang menemukan sumber air dan arca emas. Hingga saat ini arca emas tersebut disungsung desa ada setempat.


Terdapat tiga sumber mata air di Pura Celempung dengan fungsi berbeda-beda. Debit air di sana akan menurun saat musim hujan. Sedangkan musim kemarau justru debitnya besar. Dua sumber mata air dialirkan langsung di jeroan pura.  Satunya lagi dialirkan ke jaba pura.


Dua sumber mata air yang berada di jeroan posisinya berjejer. Sumber mata air di sebelah timur, persisnya di depan Palinggih Pelipir, khusus kaitan dengan upacara Dewa Yadnya di desa setempat.  Beras yang akan dipakai untuk keperluan upacara Dewa Yadnya dibawa dulu ke pura, selanjutnya dicuci di sumber air paling timur. Kemudian dihaturkan pada Palinggih Manik Galih.


“Secara simbolis, ngingsah beras itu ya di sini dulu,” ujar Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa, I Wayan Sulendra ditemui Bali Express (Jawa Pos Group)  di Pura Tirta Celempung, akhir pekan kemarin.


“Kenapa harus begitu? Inilah kepercayaan. Kami tidak berani melanggarnya,” jelas Sulendra didampingi Penyarikan I Nengah Dumun.


Sedangkan sumber mata air di depan Palinggih Ida Bhatara Wisnu, khusus untuk malukat. Sulendra mengakui, berdasarkan pengakuan sejumlah orang, malukat di sana dipercaya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Mereka yang datang  berasal dari berbagai kalangan. Namun, sebatas orang-orang tertentu saja. Itu karena pihak desa adat tidak ada promosi khusus terhadap keberadaan tempat malukat itu.


“Mereka yang datang mungkin karena kepercayaan. Sering ada sulinggih malukat, balian, jro mangku, orang sakit juga banyak sembuh. Ada yang tirtanya dibawa pulang, banyak juga malukat di sini. Tapi malukatnya di jaba pura,” beber Sulendra. 



Apa saja banten yang wajib dihaturkan? PNS di Kelurahan Semarapura Kaja itu, menyebutkan banten tergantung tujuan malukat. “Nanti kan Jro Mangku yang ada di sini memberi petunjuk,” ungkapnya.  Pemangku yang ngayah di sana adalah Jro Mangku Made Medana.


Uniknya, terdapat dua patung di depan air pangelukatan yang  tidak berani diganti ataupun digeser ke tempat lain. Yakni patung Sang Jogor Manik dan Sang Suratma. Kedua patung yang posisinya bersebelahan itu, diyakini ada sejak pura itu ada. Pernah akan dibongkar saat rehab pura sekitar 1980-an, namun akhirnya dibatalkan lantaran seorang pedanda tiba-tiba mengingatkan agar tidak mengganti, apalagi membuang kedua patung tersebut.


“Bisa saja, orang yang akan malukat dilihat dulu karmanya. Karena ada juga orang sakit, tidak sembuh setelah malukat. Patung ini sejak zaman dulu sudah ada di depan sumber air pangelukatan,” ujar Sulendra. 


Dalam kepercayaan Hindu Sang Suratma dikenal sebagai sosok yang mencatat dan mendata karma seseorang ketika masih hidup. Perbuatan itulah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan ketika sudah meninggal.


Satu lagi ada sumber mata air di Pura Tirta Celempung, berada persis di bangunan Bale Pengaruman atau Piyasan. Sumber mata air ini dialirkan ke jaba pura. Berbeda dengan dua sumber mata air lainnya yang langsung mengalir di jeroan.
Sumber air yang berada persis di bangunan Bale Pengaruman atau Piyasan Pura Tirta Celempung ini, khusus untuk kebutuhan sehari-hari warga.  Baik mandi, maupun kebutuhan minum, dan lainnya. 


Meski sudah menjadi pelanggan PDAM, tak sedikit warga Desa Besang Kawan Tohjiwa memilih mandi, termasuk untuk kebutuhan minum dari sumber air itu. Uniknya, warga yang mandi di sana tidak boleh menggunakan pakaian. Harus telanjang bulat. Tidak boleh mencuci, serta pantang bagi orang cuntaka. Bila itu dilanggar, maka debit air akan mengecil, sehingga desa setempat harus menggelar upacara mapag tirta.



“Pernah terjadi, mungkin ada mandi menggunakan pakaian, jadinya debit air mengecil. Kami harus menggelar upacara,” terangnya.




Untuk menghindari kesan porno, tempat pemandian dibuatkan ruangan tertutup. Satu untuk pria, satunya lagi khusus perempuan. Pasalnya, sebelum nunas tirta pengelukatan yang mengalir di jeroan pura depan Palinggih Ida Bhatara Wisnu, pamedek harus mandi dulu. Baru kemudian ke jeroan sembahyang, lalu malukat. “Malukatya di jaba pura,” tandas Sulendra.  

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #hindu #pura #klungkung #sejarah pura