BALI EXPRESS, DENPASAR - Menyambut hari pangrupukan rangkaian Nyepi tahun baru caka 1940 berbagai ogoh-ogoh raksasa sudah selesai dikerjakan pada masing-masing banjar. Salah satunya ogoh-ogoh menyerupai tikus besar hasil karya ST. Cantika Banjar Sedana Merta, Ubung, Denpasar mengambil tema nangluk merana. Selain untuk minimalisir tikus yang kerap mengganggu pertumbuhan padi, juga sebagai rasa bhakti kepada Dewi Sri yang malinggih pada Pura Dugul atau Ulun Suwi.
Ketua ST Canti, I Kadek Agus Yodha Bhaskara mengaku mengambil tema tersebut dikarenakan saat ini sering petani gagal panen oleh gangguan hama. Maka dari tema yang diambil merupakan susunan ngaben untuk tikus dan dipercayai tingkatan kehiduapan selanjutnya agar lebih baik.
“Cerita nangluk merana ini harapan dan tujuan dari petani di Bali. Yaitu menanggulangi hama tikus dengan cara yang lebih bijaksana dan menghormati tikus sebagai ciptaan Tuhan,” tandasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di balai banjar setempat Rabu (7/3).
Yodha juga mengatakan di Bali mengenal dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu bagaimana cara menjaga keseimbangan alam, manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia , dan manusia dengan lingkungan. Jadi tema nangluk merana itu meruapakan salah satu pengamalan konsep yang terkandung dalam Tri Hita Karana itu sendiri.
Di sana ia juga mengungkapkan bahwa pada ceritanya itu tikus sebagai wujud bhuta kala, sedangkan menurut kepercayaan Hindu perlu dibasmi secara sekala dan niskala. Yaitu dengan rangkaian upacara nangluk merana seperti cerita ogoh-ogoh sekaa terunanya. Menurutnya di beberapa daerah di Bali seperti Tabanan, Badung, Gianyar dan kabupaten lain menggelar upacara ngaben tikus. Upacara itu merupakan warisan kebudayaan agraris yang ada pada sistem Subak di Bali.
“Untuk pembuatannya menghabiskan dana sekitar Rp 22 juta, itupun dari kas dari sekaa teruna dan donatur lainnya. Karena beberapa tahun lalu sempat mendapatkan nominasi satu di Denpasar Utara, jadi kali ini kami juga berharap dapat nominasi kembali,” terang pemuda asli Ubung tersebut.
Dalam proses pembuatannya, Yodha mengaku hanya terkendala anggotanya yang kadang bisa datang ke banjar dan kadang tidak. Hal itu ia tanggulangi dengan cara memberikan tanggung jawab kepada anggotanya untuk menanamkan rasa memiliki. Selain itu dirinya membuat suasana senyaman mungkin ketika bekerja di banjar. Sehingga anggotanya merasa nyaman ketika berkumpul dan bekerja sama-sama membuat ogoh-ogoh.
“Kalau masalah malas ke banjar saya kira di mana saja juga mengalami hal itu. Tetapi saya usahakan agar mereka nyaman untuk berada di banjar, makanya saat ini bisa terselesaikan dengan tepat waktu. Jadi hal yang mengundang provokasi itu kita hindari supaya tidak ada,” imbuhnya.
Editor : I Putu Suyatra