Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Punya Jasa Menjaga Bali dari Penjajahan, Leak Mestinya Tidak Jahat

I Putu Suyatra • Minggu, 11 Maret 2018 | 16:15 WIB
Punya Jasa Menjaga Bali dari Penjajahan, Leak Mestinya Tidak Jahat
Punya Jasa Menjaga Bali dari Penjajahan, Leak Mestinya Tidak Jahat

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebagian besar orang akan membayangkan sosok  menyeramkan, ilmu gaib menyakiti orang, dan tudingan  lainnya tentang Leak. Seolah-olah Leak tak lepas dari unsur negatif yang memunculkan persepsi ‘miring’ masyarakat Bali. Lalu benarkah ilmu Leak itu jahat?


 


Salah satu praktisi Ilmu Leak, Dr. Jro Mangku Gede Made Subagia, SH., M.Fil.H mengungkapkan, Leak itu bisa berarti singkatan dari Lelintihan Aksara. “Ada juga yang bilang liak, yakni lintihan aksara atau linginging aksara. Semua itu merupakan kumpulan aksara, dari dasa aksara, jadi panca aksara, tri aksara, dwi aksara, hingga eka aksara,” urainya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group).



Eka aksara tersebut kemudian dikatakannya menjadi ongkara ngadeg dan ongkara sungsang, yang ujungnya bersatu dan menimbulkan energi yang dahsyat. “Jadi, begitu bersatu atau menjadi tunggal, jadilah petir dia. Energi ini hidup,” jelasnya.


Energi inilah kemudian menjadi kekuatan bagi para praktisi Ilmu Leak yang bisa digunakan untuk berbagai tujuan.


Jro Mangku yang merupakan pinisepuh Siwa Murti Bali tersebut berpendapat,  yang paling sakti di Bali adalah Ilmu Pangleakan. Pasalnya, ilmu tersebut tidak bisa lepas dari anugerah dari Dewa Siwa dan Dewi Durga .


“Itu anugerah dari Dewi Durga, anugerah Hyang Bhairawi, Hyang Dewi Sakti, atau Hyang Siwa sakti. Makanya itu tidak bisa dikalahkan,” paparnya.


Berkenaan dengan hal itu, jika ditanyakan apakah Ilmu Leak jahat atau baik, Jro Mangku mengatakan kembali ke para praktisinya. Ilmu Leak adalah sebuah ilmu yang jika digunakan dengan benar dan tujuan kebaikan, maka akan mendatangkan manfaat. “Sama seperti halnya pistol atau pisau bermata dua. Kalau pistol dipakai dengan baik, bisa menjaga negara. Begitu juga pisau yang dipakai dengan baik, misalnya untuk memasak, jadilah masakan yang bisa dimakan dan mendatangkan kesehatan. Tapi kalau dipakai kejahatan, ya jelas tidak baik,” terangnya.


Oleh sebab itu, dikatakannya ada dua jenis Leak, yakni Leak Sari dan Leak Pamoroan. Leak Sari berjalan di atas jalan kebenaran, yakni menjaga yang bersangkutan dari marabahaya, mendatangkan kebahagiaan, membantu mencapai pembebasan (moksa), serta bisa menolong orang lain, seperti mengobati. Bahkan, ia mengatakan, perjuangan masyarakat Bali melawan penjajah tidak bisa dilepaskan dari peran orang-orang yang menguasai Ilmu Leak.


“Leak ini salah satu yang menyelamatkan Bali dari Belanda dan Jepang. Tanpa ada Leak ini, bisa hancur Bali ini,” ujarnya.



Berbagai ajian yang berkaitan dengan Leak, dikatakannya sangat bermanfaat kala itu. Misalnya,  praktisi mengeluarkan aji sirep untuk mencuri senjata musuh, cetik untuk membuat musuh keracunan, dan sebagainya. “Makanya ada lontarnya itu, seperti aji mamaling, aji sirep. Setelah kita teliti, ini semua baik, tapi kemudian disalahgunakan,” jelasnya.



Hal itu menurut dia, lontar tersebut juga merupakan bagian dari Weda atau wahyu Tuhan, karena berupa pengetahuan. Namun, faktor kepentingan dan ego manusia kemudian menentukan arah dari ilmu tersebut. “Lontar ini kan asalnya juga dari wahyu-wahyu, namun semua kembali ke manusianya,” tegas Jro Mangku Pura Gede Dalem Pauman Tegallinggah, Padangsambian Kaja ini.


Lalu, bagaimana ciri-ciri orang yang bisa ngaleak? Mendapat pertanyaan seperti itu, Jro Mangku tertawa. Ia kemudian menjawab bahwa hal itu tak bisa diungkap sembarangan atau ayuawera. Pasalnya, dulu praktisi Ilmu Leak bisa dilihat dari ciri-ciri fisik, sedangkan di zaman ini sudah tidak menjamin. Dengan demikian, Jro Mangku berharap, jangan sampai ada kecurigaan terhadap keluarga atau orang lain, karena hanya dari segi penampilan.



Jro Mangku mengarahkan, untuk mengetahui secara pasti adalah dengan mempelajarinya. “Ciri-cirinya hanya bisa dirasakan oleh orang yang belajar. Jadi kalau mempelajari itu bisa merasakan orang yang memiliki ilmu pangleakan juga. Ada wesia atau vibrasi,” bebernya.



Lalu bagaimana menghindari gangguan dari Leak Pamoroan? Dengan tegas pemilik Ngurah Medical Centre tersebut mengatakan tak lain dengan cara mendekatkan diri dengan Tuhan dan leluhur. Selain itu, senantiasa meluangkan waktu belajar Weda dan berusaha menjaga kesucian diri. “Cara sederhananya rajin sembahyang, mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi, taat kepada leluhur, taat kepada Ida Bhatari Dalem. Kalau sudah taat, tidak ada artinya Leak pamoroan itu,” yakinnya. 

Editor : I Putu Suyatra