Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Rejang, Tarian Menyambut Turunnya Dewa dari Kahyangan

I Putu Suyatra • Minggu, 1 April 2018 | 19:50 WIB
Mengenal Rejang, Tarian Menyambut Turunnya Dewa dari Kahyangan
Mengenal Rejang, Tarian Menyambut Turunnya Dewa dari Kahyangan

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari Rejang  adalah tarian tradisional masyrakat Bali untuk  menyambut kedatangan para dewa dari khayangan yang  turun ke bumi. Selain sebagai salah satu warisan budaya, tarian ini juga dipercaya memiliki nilai-nilai penting di dalamnya, khususnya makna spiritual, sehingga juga dipercaya sebagai tarian  suci . 


Tari Rejang diperkirakan telah ada sejak zaman pra-Hindu. Tarian ini dilakukan sebagai persembahan suci untuk menyambut kedatangan para dewa yang turun ke bumi atau lebih dikenal sebagai jenis Tari Wali atau tari sakral untuk upacara keagamaan. Di kalangan masyarakat Hindu Bali, Tari Rejang ini selalu ditampilkan pada berbagai upacara adat dan keagamaan yang diselenggarakan di pura seperti saat  Piodalan. “ Di beberapa tempat di Bali, tarian ini juga  sebagai bagian dari upacara peringatan tertentu di lingkungan desa mereka,” ujar Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (11/6/2017). 



Lebih lanjut dikatakannya, Tari Rejang merupakan satu dari sembilan warisan Budaya Tak Benda dari Bali yang masuk warisan budaya dunia  (UNESCO). Tarian ini biasanya ditarikan oleh sejumlah penari wanita secara berkelompok maupun secara massal. Pada umumnya mereka bukanlah para penari profesional, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja, baik wanita tua, setengah baya, maupun muda yang sudah didaulat atau disucikan sebelum menarikan tarian ini. Walaupun begitu, dalam pertunjukan tari ini, biasanya juga terdapat beberapa orang penuntun yang disebut Pamaret, yaitu seorang yang sudah berpengalaman melakukannya. “Pemaret ini biasanya berada di barisan paling depan agar para penari pemula bisa mengikuti gerakannya, ” paparnya. 



Anom Ranuara menjelaskan, secara umum gerakan Tari Rejang ini sangat sederhana. Hal ini disebabkan karena dalam tarian ini lebih berfokus pada nilai spiritual di dalamnya. Gerakan Tari Rejang ini biasanya didominasi dengan gerakan ngembat dan ngelikas atau gerakan kiri dan kanan yang dilakukan sambil melangkah ke depan secara perlahan. Setiap gerakan dalam tarian ini, biasanya dilakukan dengan tempo yang cenderung pelan dan juga disesuaikan dengan iringan musik yang ada, sehingga terasa hikmat dan terlihat selaras.



Dalam pertunjukan Tari Rejang ini biasanya diiringi dengan musik gambelan khas Bali. Musik gamelan tersebut pada umumnya adalah gong kebyar. Namun, ada beberapa yang menggunkan gambelan jenis gambelan lain, seperti gambelan selonding atau gambelan gambang. Selain itu, dalam pertunjukan Tari Rejang ada pula yang diiringi vokal, seperti tembang atau kidung.



Busana yang digunakan pada Tari Rejang biasanya merupakan pakaian adat masyarakat Bali yang didominasi warna kuning dan putih. Busana tersebut terdiri dari kain putih panjang yang dikenakan dari bawah sampai pinggang penari. Pada bagian atas merupakan serangkaian kain panjang seperti selendang yang berwarna kuning, dililitkan di badan penari menutupi kain putih bagian atas. “Sedangkan pada bagian kepala, penari menggunakan mahkota yang dibuat dengan ornamen bunga-bunga. Untuk tata rias yang digunakan para penari, biasanya lebih sederhana dan lebih terkesan natural,” tutur pria asal Desa Kesiman ini. 



Dalam perkembangannya, Tari Rejang ini masih terus ada hingga sekarang. Selain sebagai warisan budaya, Tari Rejang ini juga merupakan bagian dari upacara keagamaan masyarakat Hindu di Bali.  Dalam pertunjukan Tari Rejang ini juga tidak dilakukan oleh penari khusus, sehingga dapat diajarkan secara turun-temurun dan keahlian dalam menari tidak terhenti begitu saja.



Hingga kini pada masyarakat Bali dikenal beberapa jenis Tari Rejang, yakni Rejang Renteng yang merupakan salah satu jenis Tari Rejang yang ditarikan kelompok wanita. Namun, keunikannya adalah  penari bergerak beruntaian atau dalam bahasa Bali disebut Renteng menggunakan seutas benang, dan umumnya berwarna putih. Yang kedua adalah Tari Rejang Dewa, sama halnya dengn jenis Tari Rejang lainnya. Tarian ini seperti namanya identik dengan pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya yang berfungsi sebagai sambutan terhadap para Dewa dan Dewi yang turun ke dunia menyaksikan jalannya Yadnya. Pakiannya pun sederhana, menggunakan kain putih kuning, dengan tambahan hiasan janur di kepala. 
Jenis Rejang yang ketiga dikenal juga Tari Rejang Onying. Tarian ini dibawakan oleh wanita remaja. Namun, memiliki perbedaan dalam jenis gerakan Tari Rejang biasanya. Khusus untuk Rejang Onying memiliki karakter yang keras, seperti halnya Tari Baris dan membawa keris yang terhunus. Namun, di beberapa tempat di Bali, tarian ini dibawakan oleh Pemangku yang pada akhir pementasan disertai dengan ngurek atau ngunying. 



Sedangkan yang keempat dikenal jenis Tari Rejang Kuningan. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh masyarakat Desa Duda dan Desa Akah, Kabupaten Karangasem. Jenis gerakan dan maknanya hampir sama dengan Rejang yang lain, hanya saja tarian ini dipentaskan saat pelaksanaan Hari Suci Kuningan. 
Namun, di beberapa daerah di Bali, seperti di Batuan Sukawati dan sekitarnya, Tari Rejang disebut dengan Tari Sutri. Tarian ini biasanya dibawakan ketika pelaksanaan upacara Dewa Yadnya. Di daerah Batuan dan sekitarnya, tarian ini dipercayai mampu menghindarkan masyarakat dari adanya marabahaya. 




Selain di Batuan, di Kabupaten Tabanan  dikenal juga Tari Rejang Tabuh yang ada di  Desa Penebel Tabanan, dan sajiannya pun tergolong unik. Di mana tarian ini dimainkan sambil bernyanyi atau matembang. Selain itu, selendang yang digunakan lebih panjang dari Tari Rejang biasanya. Yang sangat identik adalah penggunaan kipas dalam setiap pementasannya.  Selain Rejang Tabuh, dikenal juga jenis Rejang Baris. Tarian ini adalah salah satu jenis Rejang yang turut ditarikan oleh pria dan wnaita. “Pakaian yang digunakan pun tidak khusus, melainkan hanya menggunakan pakian adat ke pura saja,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#Tari Rejang #tari bali