BALI EXPRESS, AMLAPURA - Temuan batu besar di Pantai Ujung Pesisi, wilayah Desa Adat Ujung Hyang, Karangasem menjadi awal mula keberadaan Pura Linggayoni di sana. Kini dua batu besar yang diyakini menyerupai Linggayoni disakrakan menjadi sebuah pura. Bernama Pura Linggayoni. Seperti apa?
Dua buah batu besar itu ditemukan di Pantai Ujung Pesisi 2014 silam. Saat itu, Pemkab Karangasem melakukan penataan pantai yang juga tempat menambatkan jukung nelayan. Terdapat tumpukan batu-batu besar kala itu. Namun hanya batu besar menyerupai Linggayoni ini yang sulit dipindahkan. Padahal upaya menggeser batu itu sudah menggunakan alat berat, sebagaimana dilakukan terhadap batu lainnya. Melihat bentuknya unik, serta keajaibannya yang tak bisa digeser, maka Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg kala itu meminta prajuru Desa Adat Ujung Hyang memperhatikan secara niskala batu tersebut. Geredeg meminta batu itu dipindahkan ke tempat yang lebih bagus. Agak ke atas dari posisi semula. Sehingga terhindar dari air laut dan tempat nelayan menambatkan jukung.
“Akhirnya prajuru desa menggelar pertemuan, sepakat menggeser batu itu,” tutur Bendesa Adat Ujung Hyang, I Gusti Bagus Suteja kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Diakuinya, sebelum desa adat setempat berencana menggeser batu besar itu, sempat ada pihak lain berniat membawanya ke Denpasar. Ini karena bentuknya unik. Namun celaka, selain sulit digeser, orang tersebut malah merasa ada yang mengganggu secara niskala. “Sampai orang ngaturang pejati di sana, mohon ampun,” terang Bagus Suteja.
Pun begitu, saat prajuru memutuskan memindahkan batu itu ke tepi pantai yang lokasinya lebih aman, juga tak mudah. Batu besar itu bisa dipindahkan setelah menggelar upacara di sana.
Ketika batu itu berhasil digeser dan disakralkan, sejumlah warga berdatangan, sembahyang di sana. Mereka tak sebatas warga Karangasem. Sehingga dua batu yang diletakkan berdampingan itu pun dibuatkan penyengker. Ini juga dilakukan agar tidak sembarangan melintas di areal batu yang disakraklan itu. Termasuk almarhum Ida Pedanda Made Gunung juga sempat mepuja di sana.
Hasil penelusuran pihak desa adat, batu besar itu ternyata sudah banyak didatangi umat jauh sebelum dipindah dan disakralkan. Ketika batu itu masih berada di bibir pantai, dekat laut sudah banyak umat Hindu mendapat pawisik supaya nangkil ke sana. Sebelum dibuatkan pura seperti sekarang, banyak umat Hindu yang datang ke sana berdasarkan pawisik. Misalnya, mereka yang penyakitnya tak kunjung sembuh, serta keluarga yang susah mendapat keturunan. Katanya, ada wanita yang sudah divonis kista, mendapat pawisik tangkil ke sana, jauh sebelum batu itu disakralkan menjadi sebuah pura seperti saat ini.
“Katanya dapat pawisik biar datang ke Pantai Ujung, mandi di sini. Ternyata si perempuan ini bisa hamil. Uniknya baru diketahui setelah kehamilan lima bulan,” ungkap Bagus Suteja didampingi Jro Mangku Made Putra yang merupakan petugas kebersihan di sana.
Selain mendapat informasi soal kedatangan umat jauh sebelum batu itu disakraklan, Desa Adat Ujung Hyang percaya batu sudah ada sejak lama ada, tak terlepas dari kisah di masa lalu. Zaman dulu, anak-anak yang bermain di wilayah pantai seputaran itu dilarang duduk di atas batu besar. “Bisa saja ada hubungannya dengan batu ini, cuma zaman dulu tidak dijelaskan kenapa tak boleh duduk di atas batu besar,” kenang Bagus Suteja.
Setelah Pura Linggayoni itu disungsung Desa Adat Ujung Hyang, Bagus Suteja yang juga Kepala Resort KSDA Karangasem ini menyebutkan bahwa pamedek yang tangkil ke sana semakin ramai. Tak sedikit mereka yang nangkil dengan memohon diberikan keturunan, serta kesehatan. Pernah terjadi sejumlah warga yang sakit, berjalan saja harus dituntun. Setelah memohon di pura itu mereka bisa sembuh. Begitu juga ada warga non Hindu asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengidap sakit mata aneh. Kepada Bagus Suteja, orang tersebut tidak tahu ada pura di sana. Saat berobat ke Bali, tiba-tiba ingin nangkil ke pura, dan akhirnya sembuh. “Warga non Hindu itu ke sini pakai sarung. Nanya ke saya, ‘boleh kah saya masuk ke pura’. Saya bilang tidak masalah asalkan niatnya tulus, dan percaya,” tuturnya.
Selain kepercayaan tersebut, keunikan lain dari keberadaan pura tersebut adalah adanya tirta dari salah satu batu tersebut tak pernah habis. Padahal lubang batu itu tidak begitu dalam, diameternya juga kecil. Tangan saja tidak bisa masuk. Umat yang nangkil ke sana, biasanya nunas tirta tersebut. “Kalau dibilang air hujan tidak mungkin karena saat musim kemarau tetap ada,” imbuh Jro Mangku Made Putra.
Untuk memudahkan umat nunas tirta itu, saban purnama digelar prosesi upacara wangsuh Linggayoni dengan toya kumkuman. Wangsuhan itu dicampur dengan tirta dari lubang batu tersebut. Lalu disiapkan untuk umat yang nangkil ke sana.
Hingga kini, Pura Linggayoni masih dalam penataan. Posisi Linggayoni itu digeser sekitar 20 meter pada 2016 lalu. Dibuatkan penyengker permanen layaknya pura pada umumnya. Terdapat beberapa palinggih di sana. Yakni padmasana, pengayatan Bhatara Segara, serta panglurah.
Editor : I Putu Suyatra