BALI EXPRESS, DENPASAR - Belakangan banyak sulinggih menderita stroke, diabet ataupun masalah jantung. Hal itu diakibatkan oleh pola makan yang kurang tepat. Lantas, perlukah atau ada yang salah soal diet atau pantangan makan bagi sulinggih ditata ulang?
Pemilik dan pendiri Yayasan Karmadatu Jro Mangku Mahendra mencontohkan bahwa seorang sulinggih tidak boleh makan daging babi, tapi bebek diperbolehkan. "Nah kolesterol bebek itu bahkan lebih tinggi dari babi," terang pria yang menetap di Banjar Dinas Tegallinggah, Jalan Serma Gejer, Amlapura ini.
Kalau demikian, diet ala panditia atau sulinggih seperti yang telah dijalankan dengan berbagai pantangan, masih pentingkah?
Menurut motivator Manacika Power ini, diet adalah prilaku yg baik dilakukan oleh semua orang, entah itu pandita atau umat awam. Sebab, diet mengacu pada prinsip kesehatan. Namun, tak disinggahinya, terkadang seorang pelaku spiritual mengait-ngaitkan diet dengan kesucian, dan lainnya. Padahal, lanjut pria yang juga akrab dipanggil Jro Agni ini, bahwa diet adalah teknik pola makan yang baik, sehingga didapatkan kesehatan yang prima.
Seorang sulinggih memang 'pantang' memakan daging binatang berkaki empat, dan disarankan hanya memakan daging dari bintang berkaki dua.
Namun, seorang sulinggih, lanjutnya, mestinya faham benar apa yang boleh dimakan, apa yang tidak, dalam arti apa yg sehat untuk dimakan, dan apa yang tidak sehat. Sebab, pola makan menentukan kesehatan seorang sulinggih. Misalnya larangan seorang sulinggih makan daging babi, tapi bebek boleh. "Saya tidak mengatakan itu buruk, namun mestinya kandungan lemak atau kolesterol harus dipertimbangkan.Bukankah daging bebek mengandung kolesterol tinggi juga. Daging apapun bagi saya tidak ada yg suci atau buruk, setidaknya bila mempertimbangkan kandungan kolesterolnya. Kolesterol kan tidak akan hilang oleh mantra," ujarnya sambil tertawa kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dikatakan Jro Agni, pola makan itu sangat penting karena apa yang dimakan, itulah kualitas pikiran seseorang.
" Secara niskala, jika pola makan seorang sulinggih atau Jro mangku, dan siapapun yang terjun dalam dunia spiritual, maka pola makan sangat diamati. Setidaknya bijaksanalah dalam makan, masa ada seorang jro mangku misalnya minum arak. Ini lucu karena alkohol pasti menghambat kesadaran secara niskala," terangnya.
Lalu, apakah harus vegetarian? "Tujuan vegetarian apa dulu. Jika untuk kesehatan serta mengubah pola dari protein hewani menuju protein nabati itu bagus, ada usaha yg postif," urainya. Tapi, lanjutnya, vegetarian tidak menjamin lantas orang jadi sabar.
"Ibarat sapi makan sayur buah dan sejenisnya, bahkan kadang hanya makan rumput, saat marah nyeruduk juga. Intinya, tujuan sehat dalam vegetarian itu baik," paparnya.
Ditegaskannya, problem hidup tidak akan bisa diselesaikan dengan puja mantra semata atau dengan sembahyang. " Jika benar demikian, akan banyak orang hanya pergi berdoa untuk menyelesaikan problem hidup," kata Jro Agni.
Dikatakannya, problem hidup justru terletak pada pikiran. Dengan melatih pola makan, maka pola pikirpun akan otomatis terlatih. Jro Agni mencontohkan saat brata atau puasa makanan tertentu, begitu seseorang ingat bahwa sedang berpantang, maka dia tak akan mengambil makanan tersebut.
Lantaran itu pula seorang pandita/sulinggih, seharusnya sangat memperhatikan pola makan. "Sebagai pelayanan umat, membutuhkan energi besar dalam menjalankan tugas, dengan memperhatikan pola maka. Maka, kesehatan harus terjaga dengan baik. "Jangan sampai sulinggih belum apa-apa sudah sakit jantung, stroke, dan lainnya," sarannya.
Jro Agni membeber pola makan seorang Bhikkhu."Beliau punya aturan makan yg perlu direnungkan. Dalam ajaran theravada, beliau jam 7 pagi boleh sarapan, lalu jam 12 siang makan, setelah jam 12 beliau tidak boleh makan berat, kecuali air putih atau teh. Kalaupun minum jus, itu hanya dicari airnya saja," terangnya.
Ditambahkannya, seorang sulinggih tidak bekerja melalui fisik , karena bekerja melalui pikiran (mendoakan /muput karya). " Sesunguhnya lelah, bisa duduk berjam lalu pindah lagi kemana-mana untuk tugas yang sama," ujarnya. Jadi, makanan yang membuat pikiran segarlah, lanjutnya, yang harus dikonsumsi, bukan makanan buat tubuh alias menggemukkan diri sehingga makin susah bergerak.
"Agar seimbang, maka seorang sulinggih wajib untuk melatih konsentrasi dengan meditasi atau apapun lainnya, agar pikiran jadi fresh dan tetap tenang dalam menjalankan aktivitas," ungkapnya.
Sebagai seorang pemangku dalem, Jro Mangku Agni bisa terbilang paling repot, dari nganteb di perempatan, segara, dan setra, belum lagi di rumah. "Pola makan dan meditasi sangat membantu dalam aktivitas ini. Jika tidak, maka akan terjadi emosi yang meledak-ledak, jika kesehatan dan tensi tidak bagus.Wah bisa stroke," ujarnya terkekeh. Jro Mangku Tri Kayangan di Desa Adat Karangasem ini menambahkan, olahraga ideal bagi seorang sulinggih adalah jalan-jalan dan pelenturan otot yang umum disebut dengan yoga sederhana. "Tidak perlu mempraktekkan yoga secara menyeluruh, cukup gerakan yg akan menunjang aktivitas saja, terutama aktivitas duduk," ujarnya.
Di sisi lain, lanjutnya, pihak pemerintah terkait sangat perlu memperhatikan, berupa cek kesehatan bagi sulinggih. Karena sulinggih rata-rata berumur di atas 50 tahun, yang sudah pasti rentan terhadap kesehatan . "Dengan adanya kartu kesehatan itu upaya yang baik, tetapi akan lebih bagus ada petugas dokter ke desa turun untuk mengecek kondisi sulinggih, sama seperti Puskemas keliling," terangnya.
Jro Agni mengaku ingin mengingatkan pola makan, berdasar pengalaman di Madras, India 12 tahun silam.
"Saya mengikuti pelatihan seperti para pertapa dari pola makan, meditasi, filsafat, juga senam yoga yangg menunjang kegiatan spritual," bebernya.
Pengalaman yang sangat menarik dan akan terus teringat sampai mati adalah saat Jro Agni baru tiba di ashram Sri Brajaspati Gurudev. "Selama tiga hari saya hanya menunggu jadwal untuk bertemu. Karena sudah lama saya nunggu agak kesel juga, kok gak ada jadwalnya. Dalam.hati terbersit, guru model apa yang akan mengajar, dan say jangan-jangan ditipu. Memang, saya orangnya sangat tidak mudah percaya," ungkapnya.
Tiba-tiba esok pagi diinfokan untuk bertemu jam 5 sore. Akhirnya Jro Agni masuk.ke ruangan yang guru yang brewokan, berjanggut dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Sang guru menanyakan muasal dan.keperluan dengan Bahasa Inggris." Setelah saya mengatakan dari Bali, beliau diam sambil menutup matanya. Setelah itu, dia tersenyum tipis dan berkata dengan bahasa Bali," ujarnya.
Jro Agni mengaku sangat kaget, karena beliau begitu fasih bicara bahasa Bali, padahal tak pernah ke Bali dan tak tau Bali. Setelah selesai , Jro Agni berpikir bisa saja itu terjadi karena beliau bisa saja pernah dan lama di bali atau belajar lewat orang Bali di India. "Setelah saya tanya teman-teman di ashram, ternyata semua murid diajak berbahasa daerahnya sendiri Ini sangat menarik bagi saya, mungkin begitu cara beliau menunjukan kesedihannya," ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra