Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kupu-Kupu Carum, Drama Tari Langka yang Sempat Punah

I Putu Suyatra • Minggu, 15 April 2018 | 23:40 WIB
Kupu-Kupu Carum, Drama Tari Langka yang  Sempat Punah
Kupu-Kupu Carum, Drama Tari Langka yang Sempat Punah

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kesenian di Bali memang tiada matinya. Namun, jika digali  mendalam, masih banyak kesenian tertatih-tatih  menopang eksistensinya. Salah satunya adalah Kesenian Kupu-Kupu Carum asli Desa Mas, Ubud, Kabupaten Gianyar yang  sempat punah karena tidak ada regenerasi. 


Kupu-Kupu Carum adalah bentuk seni dramatari yang diiringi oleh gambelan Angklung. Drama tari  digagas dan diciptakan sekitar tahun 1930-an. Gagasan terciptanya sebuah drama tari muncul dari keinginan wisatawan asing bernama Walter Spice. Di mana, Walter Spice yang juga seorang pelukis ini, berkeinginan agar gambelan angklung digarap dalam bentuk pertunjukan.


“Maksudnya adalah untuk memberikan ruang kepada kesenian angklung agar tidak monoton dan dikenal sebagai kesenian untuk orang meninggal saja,” ujar Pembina Garapan Tari I Made Witarsa yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Taman Budaya Art Center, Denpasar, Senin (19/6/2017).



Dijelaskan lebih lanjut, pada mulanya yang menjadi penata gerak dalam garapan ini adalah Kak (kakek) Musna yang berasal dari Banjar Tarakan, sedangkan untuk penata tabuhnya adalah Kak Monol . Kedua seniman tua inilah yang mengkolaborasikan gambelan angklung dengan drama tari Kupu-Kupu Carum. 



Kupu-Kupu Carum bermula dari kata Carum yang artinya Kecarum, Kecarum sendiri adalah salah satu jenis dedaunan di Bali yang kerap digunakan sebagai pelengkap masakan. Namun, nama ini tidak begitu populer dikenal masyarakat Desa Mas, Ubud. Justru masyarakat sekitarnya mengenal drama tari ini dengan sebutan Ende. Hal ini dikarenakan pementasan ini sangat mirip dengan Gebug Ende. Namun, setalah mengalami masa kejayaannya, drama tari ini mengalami kepunahan.


Hal ini dikarenakan minimnya masyarakat dan generasi muda yang berkeinginan untuk melestarikan kesenian ini. Akhirnya  diputuskan untuk mengubah iringan tari yang mulanya adalah angklung menjadi iringan Gong Kebyar.


“Namun, usaha yang demikian, juga tidak mampu menopang eksistensinya kala itu, sehingga harus mengalami kepunahan atau vakum,” ujar pria aseli Banjar Tarukan ini.


Lebih lanjut kata Witarsa, vakumnya kesenian ini diperkirakan berlangsung hingga 25 tahun. Namun, akhir-akhir ini kembali bangkit dan dikembangkan.  Diakuinya,   usaha membangkitkan kembali terdapat kesulitan, terutama soal  gending yang menjadi iringan tabuh dan gerakan tabuhnya yang tidak banyak diketahui,  karena sudah lama tidak dipentaskan. Pihaknya mengaku beruntung, saat ini masih ada seniman tua yang masih mengingat bagaimana pakem-pakem yang terdapat dalam pementasan Drama Tari Kupu-Kupu Carum. Beberapa seniman tua tersebut, yakni Ketut Rupa, Ketut Sadra, Nyoman Kaler, Ketut Darsana. 



Dalam pementasanya, kesenian klasik kuna ini menampilkan cerita mengenai usaha Sang Bimayu memperoleh anugerah Ayawanggani. Anugerah tersebut berupa senjata panah yang sangat sakti. Untuk memperolehnya pun wajib dilaksanakan tapa semadi dengan baik, sehingga akan diberikan pasupati dari Bhatara Siwa. Konon anugerah ini dapat menjadikan seorang pemimpin disegani oleh rakyatnya. 



Dalam perjalanan tapanya, Sang Abimayu mengalami godaan yang sangat banyak. Salah satunya hadirnya widyadara dan widyadari yang menggoda tapa sang Abimayu. Selain itu, juga turut diceritakan bahwa sang Abimayu diganggu oleh beberapa raksasa, sebelum akhirnya mendapat anugerah Ayawanggeni. 
Dalam pementasan drama tari Kupu-Kupu Carum ini, sedikitnya melibatkan 20 orang penari. Di mana beberapa lakon dimainkan guna mendukung jalannya cerita, yakni raksasa, widyadari dan widyadara, bojog-bojogan, rangda, dan barong sebagai simbul Rwa Bhineda. 



Witarsa berharap, kesenian tua seperti ini mampu dilestarikan, karena memiliki makna dan filosofis yang sangat kuat.  Hingga kini kesenian semacam ini belum dijumpai di seluruh wilayah Gianyar, bahkan Bali sekalipun. “Jadi, yang kita lihat nilai seninya agar tidak sampai punah,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali