BALI EXPRESS, TABANAN - Umat Hindu pada umumnya melaksanakan upacara Ngaben terhadap orang yang meninggal dunia. Berbagai rangkaian upacara pun dilakukan. Dan di beberapa wilayah di Bali ada sejumlah rangkaian upacara yang mungkin berbeda dan tidak ada di wilayah lain. Seperti halnya rangkaian upacara Ngaben di Desa Pekraman Puluk puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Tabanan. Sebab di sana sebelum Ngaben akan dipertunjukkan Tari Baris Memedi.
Ketika ada warga di Desa Pekraman Puluk Puluk meninggal dunia dan hendak menggelar upacara Ngaben, maka terlebih dahulu akan dipertunjukkan Tari Baris Memedi. Namun ada beberapa syarat, dimana orang yang meninggal harus sudah memiliki cucu atau cicit. Jika orang yang meninggal dunia belum memiliki cucu dan cicit maka pengabenan bisa digelar tanpa mempertunjukkan Tari Baris Memedi. “Jika ada pengabenan gede atau pengabenan dengan menggunakan wadah besar maka terlebih dahulu dipertunjukkan tari Baris Memedi ini menjelang pembakaran jenazah,” ujar Bendahara Adat Desa Pekraman Puluk puluk, I Nengah Susana Yasa.
Dirinya menambahkan, Baris Memedi di Desa Pekraman Puluk puluk sejatinya sudah ada sejak lama. Bahkan tidak ada warga yang mengetahui secara pasti bagaimana awal mula keberadaan Baris Memedi tersebut. Yang pasti Baris Memedi merupakan simbol untuk mengantarkan roh warga yang sudah meninggal untuk mencapai suarga loka. “Dan ini sudah kami warisi secara turun temurun,” tegasnya.
Dijelaskannya, penari Baris Memedi terdiri dari warga pria berjumlah ganjil maksimal 11 orang dengan satu orang sebagai Penemprat yang menggunakan topeng saat menari. Penari pun spontanitas tanpa ada latihan rutin sebelumnya. Uniknya lagi, Baris Memedi menggunakan daun pisang yang sudah kering atau keraras sebagai pakaian ditambah dedaunan segar yang seluruhnya didapat di sekitar Setra setempat.
“Penari jumlahnya ganjil, bisa 7, 9 atau paling maksimal 11 orang. Tetapi lebih sering 9 orang sesuai dengan kesembilan arah mata angin. Mereka menari spontanitas saja,” lanjutnya.
Karena dianggap sebagai tarian sakral, saat tampil beberapa kali tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB), warga terlebih dahulu melakukan ritual untuk memohon petunjuk agar Baris Memedi bisa dipentaskan dalam PKB. Apabila tidak mendapatkan restu dan izin dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa maka pihak Desa Pekraman Puluk Puluk tidak akan berani coba-coba mementaskannya.
“Untuk penampilan di PKB ini barulah kami melakukan persiapan sejak lama dan melakukan latihan tari serta tabuh,” sambung Susana Yasa.
Tak pelak, Baris Memedi yang tampil sebagai kesenian rekontruksi itu pun sukses membuat para penonton PKB terpukau dan merasa sangat beruntung bisa menyaksikan kesenian yang terbilang sakral tersebut.
Editor : I Putu Suyatra