BALI EXPRESS, DENPASAR - Bondres merupakan salah satu kesenian tradisional Bali. Pada mulanya, Bondres merupakan selingan dalam kesenian topeng di Bali. Namun, belakangan muncul sebagai pertunjukan tersendiri, terpisah dari kesenian topeng. Dari sinilah kemudian muncul seni lawak khas Bali atau yang lebih dikenal dengan babondresan.
Kesnian Bondres diperkirakan telah ada sejak tahun 1080-an, dan lambat laun mengalami perkembangan menjadi pertunjukan tersendiri yang lebih mengutamakan lawakan atau banyolan khas Bondres dari pada alur cerita itu sendiri. Pada era tersebut, Bondres kebanyakan dipakai sebagai media penyuluhan yang lebih bersifat edukatif . Hal ini diyakini karena dengan penyampaian melalui media lawak atau banyolan ini, pesan-pesan yang ingin disampaikan akan lebih dapat diterima oleh masyarakat.
Dalam babondresan, penonton akan disuguhi sebuah alur cerita, tetapi alur ini hanya sebagai pegangan saja karena yang lebih ditonjolkan adalah lawakan atau banyolan para seniman babondresan yang terselip pesan-pesan yang ingin disampaikan. Ditambah penggunaan bahasa yang lebih familiar (memasyarakat) , sehingga masyarakat lebih mudah untuk memahami , dan inilah yang membuat Bondres lebih mendapatkan tempat di hati masyarakat sehingga pesannya pun tersampaikan.
Bondres sendiri berasal dari kata berbahasa Bali , yakni Abnyol yang artinya lucu. Namun, beberapa sumber menyatakan bahwa Bondres merupakan singkatan dari Bondo Merenges yang artinya goras-gores tak beraturan. Hal ini dikaitkan dengan bentuk wajah Bondres yang sebagian besar dipoles tak beraturan.
Kesenian Bali yang terkenal akan kelucuannya ini tentunya merupakan bagian dari beberapa pementasan pokok. Seperti halnya pementasan Calonarang, Topeng Prembon, Topeng Panca, Topeng Wali, Drama Gong, dan lain sebagainya. Dalam berbagai jenis pementasan yang ada, Bondres sendiri memiliki beberapa nama, seperti dalam pementasan Calonarang yang disebut dengan Bebanjaran atau rakyat. “Hal ini dikarenakan materi yang dibawakan lebih condong merupakan aspirasi masyarakat atau rakyat,” ujar Kordinator Tim Pengamat Bondres Pesta Kesenian Bali ( PKB) ke-39, I Ketut Kodi yang diwawancarai akhir pekan kemarin di Area Taman Budaya Art Center, Denpasar.
Dijelaskan lebih lanjut, dalam berbagai pementasan di Bali zaman dahulu, Bondres bukanlah pemain utama. Melainkan pemeran yang bersifat figuran. Cerita pokonya biasanya mengacu kepada lampan atau kisah yang dibawakan dalam sebuah pementasan. Misalnya, dalam Calonarang ada lampan Ngeseng Waringin, Kautus Rarung, dan lainnya. “Jadi, Bondres hanya menerjemahkan dan menampilkan kelucuan agar penonton tidak bosan,” jelasnya.
Dalam kesenian Bondres, terbagi dalam beberapa jenis, yakni Bondres yang menggunakan tapel dan Bondres yang tidak menggunakan tapel atau yang dipoles menggunakan bahan make up, sehingga terlihat seperti digambar. Yang unik dalam seni Bondres adalah tidak adanya pakem yang mengatur bagaimana seharusnya kesenian ini dijalankan. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni pesan moral, filsafat, serta mampu mendidik penonton yang menyaksikan.
Namun, pada zaman dewasa ini, kesenian Bondres semakin melambung tinggi. Bahkan, kesenian ini mampu berdiri sendiri tanpa bergandengan dengan kesenian pokok seperti zaman dahulu. Tak jarang masyarakat atau acara resmi menggunakan Bondres untuk memenuhi unsur hiburan pada acara yang dilaksanakan. Seperti halnya HUT sekala teruna-teruni, Jalan Sehat, dan berbagai jenis acara formal lainnya.
Perkembangan kesenian Bondres saat ini telah mengubah roda kesenian di Bali. Dahulu yang menjadi bintang utama adalah segelintir seniman Bali yang menjadi tokoh tertentu dalam setiap pementasan klasik, seperti mantri, kartala, dan punta. “Namun kini justru Bondreslah yang menjadi unsur penting dalam sebuah pementasan tradisional Bali, kalau tidak maka peminatnya akan sedikit,” jelas dosen Pedalangan di ISI Denpasar ini.
Bahkan, jika berbicara tentang Topeng Panca, Drama Gong, dan segala jenis pementasan klasik, maka peminatnya akan sedikit. “Kalaupun ada, bisa dipastikan itu adalah masyarakat yang telah ada di zaman kejayaan kesenian klasik di Bali,” imbuhnya.
Kesenian Bondres yang berdiri sendiri, mulai dikenal sejak tahun 1990-an. Di mana pelopornya adalah Ngurah Suparta yang merupakan guru di salah satu sekolah seni di Kabupaten Gianyar. Untuk memenuhi undangan berkesenian di Berlin, Jerman, kala itu, pihaknya diminta untuk menampilkan kesenian drama khas Bali, namun dalam waktu yang singkat. Maka, dipotonglah cerita pokok dari pementasan Bondres yang berkaitan dengan beberapa pementasan aslinya. Jadi, yang diambil hanya lucu-lucunya saja, peran mantri, kartala, punta dan lainnya tidak diikutsertakan.
Setelah itulah hingga kini kesenian Bondres seakan menjadi primadona tersendiri di Bali. Bahkan, tak jarang muncul pertanyaan di masyarakat ketika hendak ditampilkan kesenian Bali klasik, seperti Calonarang dan Drama Gong. Pertanyaan yang biasa muncul yakni, ‘Nyen dadi Bondres?’ (siapa yang jadi Bondres). “Kalau bukan orang yang terkenal lucu, maka tak jarang masyarakat enggan menonton,” paparnya.
Terkait dengan kondisi ini, Kodi mengaku ini adalah efek perubahan pola masyarakat agraris menjadi Industri. Kesibukan yang menjajali masyarakat industri tentu membuat waktu masyarakat menjadi lebih sedikit untuk menikmati berbagai jenis hiburan. Jadi, untuk memperoleh hiburan yang cepat, maka yang paling dinanti adalah kesenian yang menghibur, tapi durasinya tidak lama. Maka Bondreslah yang memenuhi syarat untuk ini, khus untuk kesenian tradisonal Bali. “Kalau nunggu cerita sesuai dengan lampan atau babad, pihaknya menilai masyarakat enggan menunggu terlalu lama, dan sebagian besar tidak mengerti,” ungkapnya. Itulah, lanjut Kodi, yang menyebabkan Kesenian Bondres mampu membalikkan roda kesenian di Bali.
Kesenian yang terus mengalami perkembangan ini, tentu merupakan buah karya dan inovasi dari seniman Bali. Tentunya perkembangan ini hendaknya menjadi sesuatu yang positif kedepannya. “Di mana, dalam berkesenian tanpa pakem, hendaknya Bondres tidak lupa diri dan wajib menyelipkan edukasi, pembelajaran yang positif, nilai filsafat agama Hindu selain kemasan lucu yang bersifat menghibur,” tutup Kodi.