Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Candi Gunung Kawi, Jejak Raja Udayana

I Putu Suyatra • Minggu, 22 April 2018 | 16:09 WIB
Pura Candi Gunung Kawi, Jejak Raja Udayana
Pura Candi Gunung Kawi, Jejak Raja Udayana

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Gunung Kawi di Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar, merupakan satu dari deretan pura dan cagar budaya yang ada di daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan.


Berada di aliran Tukad Pakerisan, Pura Gunung Kawi sampai saat ini masih menjadi salah satu primadona objek wisata di Gianyar. Pura yang sekaligus cagar budaya ini pun tak hanya menyajikan sejarah, tapi juga keindahan alam di sekitarnya. Namun, untuk mencapai kawasan candi dan Pura Gunung Kawi jelas tak mudah, lantaran harus menuruni ratusan anak tangga.



Menilik sejarah Pura Gunung Kawi, khususnya candi tebing yang ada di sisi barat dan timur aliran Tukad Pakerisan, Jero Mangku Gede Gunung Kawi, 45, pemangku Pura Gunung Kawi, saat ditemui  Bali Express (Jawa Pos Group ) kemarin (28/6) mengakui, sampai saat ini memang banyak cerita dan versi yang berkembang terkait dengan sejarah candi dan Pura Gunung Kawi. “Kalau sejarah memang banyak versi. Karena itu, untuk melengkapi versi lainnya, bisa juga dicari di bagian cagar budaya atau dinas terkait. Sebab, di sana juga tersimpan beberapa versi terkait sejarah Pura Gunung Kawi,” ucapnya.



Namun, dalam kesempatan tersebut, pemangku yang ditemui di rumahnya , sedikit membeber mengenai keadaan Gunung Kawi, yang memiliki nama lain Candi Prasada Ukir untuk 10 candi yang ada di lokasi tersebut. Serta nama Prasada Goa untuk goa atau ceruk yang ada di areal tersebut.



“Di sini sebenarnya ada lima  (areal) pura. Pura Gunung Kawi, Pura Puncak, Pura Kawan, Pura Bukit Gundul, dan Pura Melanting. Dari kelima pura itu, Pura Kawan lokasinya di barat sungai dan berdampingan dengan candi empat,” ujarnya.



Sedangkan untuk candi,  lanjutnya, lima buah di timur sungai, empat buah di barat sungai, dan satu lagi di Pura Bukit Gundul yang  lokasinya di Tenggara Pura Gunung Kawi. 



Selain membeber mengenai titik-titik pura dan candi yang ada di areal Gunung Kawi, dalam kesempatan kemarin, dia juga menunjukkan satu buah versi sejarah sesuai dengan Prasasti Tengkulak. Dalam prasasti itu disebutkan jika Pura Gunung Kawi Tampaksiring merupakan stana atau tempat pemujaan Raja Bali beberapa abad lalu, yakni Raja Anak Wungsu. Raja Bali ini tak lain putra dari Raja Udayana.
Nah diceritakan, Raja Udayana dengan permaisuri Gunapriya Darmmapatni mempunyai tiga orang putra, yakni Erlangga sebagai putra sulung, dan menjadi raja di Kediri, Jawa Timur. Sedangkan Marakata dan Anak Wungsu meneruskan tahta Raja Udayana di Bali.



Setelah Raja Udayana wafat, posisinya digantikan Marakata pada tahun 1025. Posisi Marakata lanjut digantikan adiknya Anak Wungsu mulai tahun 1049 dan berkuasa hingga tahun 1080. Para raja inilah yang setelah wafat distanakan di Candi Gunung Kawi Tampaksiring.



Apa yang diceritakannya itu juga hampir sama dengan yang tertulis di buku 'Raja Udayana Warmadewa' koleksi Dinas Kebudayaan Gianyar. Di buku itu, disebutkan arsitektur bangunan Candi Gunung Kawi dihubungkan dengan padharman Raja Udayana Warmadewa bersama istrinya Ratu Gunapriya Dharmmapatni. Komplek candi ini pun terdiri atas lima pahatan candi tebing yang ada di sebelah timur Tukad Pakerisan dan empat pahatan candi di sebelah barat sungai, serta satu pahatan candi di tenggara.
Kompleks candi ini seperti dibeber dalam buku tersebut, merupakan jenis percandian yang hanya ditemukan di Bali. Sebab ,  jika candi-candi yang ada di Jawa dibangun dalam bentuk tiga dimensi. Candi-candi ini dibangun dalam dua dimensi. Lantaran candi ini dikatakan hanya dipahatkan pada sebuah ceruk yang cukup dalam. Ceruk ini selain sebagai tempat candi dipahatkan, juga berfungsi sebagai pelindung candi yang ada di dalamnya.



Secara arsitektural, candi ini dikatakan memiliki bentuk yang indah. Sebab, walau hanya berupa canding tebing. Namun secara keseluruhan dikatakan dalam buku yang disusun Pemkab Gianyar bersama Pusat Kajian Bali Unud itu mewakili tiga bagian, yakni kaki, badan, dan atap. Selain pahatan candi, di kanan kirinya juga  terdapat ceruk-ceruk yang cukup luas.



Ceruk-ceruk yang cukup banyak juga terdapat di Selatan komplek lima candi itu. Ceruk ini berada di depan biara dan di bagian barat biara itulah terdapat sebuah pura yang biasa disebut Pura Gunung Kawi. Pura yang dibangun kemudian oleh masyarakat.



Pada kelompok lima candi yang dipahatkan di Timur Tukad Pakerisan dan menghadap ke Barat. Pada candi pertama dari Utara terdapat prasasti pendek yang menggunakan huruf Kediri Kuadrat, yang berbunyi Haji Lumah I Jalu, yang artinya raja yang didharmakan di Jalu.



Kemudian pada candi kedua dari kelompok candi lima itu juga terdapat tulisan yang sama, berupa tulisan Kediri Kuadrat dan berbunyi rwa-(da) kira atau rwa-(na) kira. Sedangkan candi-candi lainnya tidak ditemukan adanya pahatan prasasti. Arti pada prasasti kedua tersebut yakni dua putra beliau.
Lalu untuk candi yang ada di bagian Barat Tukad Pakerisan, terdapat empat buah candi tebing. Candi-candi ini posisinya menghadap ke Timur. Namun, di empat candi ini tidak ditemukan adanya prasasti.
Nah, satu candi yang letaknya cukup jauh yakni candi ketiga. Lokasinya berada di arah Tenggara dari komplek lima candi dan empat candi sebelumnya. Sama seperti yang lainnya, candi ini juga dipahat pada ceruk. Namun, jumlah candi ini hanya satu buah. Dalam candi ini terdapat tulisan rakryan yang diartikan sebagai pejabat pemerintahan.



Terkait periodisasi dari candi-candi tersebut, dijelaskan sesuai pahatan pada candi kesatu dan kedua dari kelompok lima candi di sisi Timur Tukad Pakerisan yang menggunakan huruf Kediri Kuadrat, menunjukkan candi itu berasal dari abad ke -11. Tipe huruf itu pun lazim digunakan pada zaman Kediri di Jawa Timur. Ini juga berkesesuaian dengan prasasti Batuan yang mengulas keluarga Raja Anak Wungsu.




Lantas, kapan piodalan Pura Gunung Kawi? Jero Mangku Gede Pura Gunung Kawi menuturkan, untuk pelaksanaan ngusaba dilangsungkan setahun sekali, tepatnya pada Purnama Sasih Katiga. Sebaliknya untuk piodalan dilaksanakan enam bulan sekali, tepat pada saat Kuningan. Pura yang berada di kawasan ini sepenuhnya diempon krama Banjar Peneka atau yang biasa disebut Desa Gunung Kawi. 

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #pura #sejarah pura