Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pancoran Sapta Gangga di Tianyar; Langgar Aturan, Air Bisa Mengecil

I Putu Suyatra • Minggu, 29 April 2018 | 17:04 WIB
Pancoran Sapta Gangga di Tianyar; Langgar Aturan, Air Bisa Mengecil
Pancoran Sapta Gangga di Tianyar; Langgar Aturan, Air Bisa Mengecil

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Pancoran Sapta Ganggga  di Desa Adat Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem, salah satu tempat malukat untuk umum yang baru  dikembangkan  sejak awal 2017. Sebelumnya,  sumber mata air ini sebatas untuk upacara keagamaan di desa setempat. 


Sesuai namanya, sapta. Pancoran ini ada tujuh. Berada di pinggir Pantai Tianyar. Pancoran ini berjejer dari Barat ke Timur,  menghadap ke Selatan atau ke laut. Posisinya persis di bibir pantai, sehingga sangat rawan tergerus abrasi. Beberapa kali pancoran ini tertimbun pasir pantai karena posisinya  rendah.  Lantaran itu pula, ada rencana pihak desa adat bakal menggeser ke Utara, agak menjauh dari bibir pantai. Rencananya, pancoran itu bakal diubah menjadi menghadap ke Barat. Jadi, mereka yang malukat (ritual membersihkan diri) menghadap ke Timur. Beda dengan  posisinya saat ini, umat malukat menghadap ke Utara, membelakangi laut yang dinilai tidak etis.



Tempat malukat itu oleh warga setempat dikenal dengan kawasan suci Pamekaang Agung, yang juga  merupakan kawasan  tempat melasti desa setempat.



Penyarikan Desa Adat Tianyar I Gede Putu Dana mengungkapkan bahwa tidak ada masalah, ketika menggeser posisi ketujuh pancoran itu. Hal itu tak terlepas dari posisinya yang sekarang memang murni ide desa setempat mengalirkannya ke tepi pantai. Desa setempat sengaja mengalirkan ke pinggir pantai, dan menjadikannya tempat malukat dan dibuka untuk umum.



Sebelumnya, air yang dipercaya sebagai tirta suci tersebut sebatas dimanfaatkan untuk keperluan upacara keagamaan. Setiap ada upacara melasti nunas tirta tersebut. Lokasinya berada di pinggir jalan raya Kubu-Buleleng. Namun masih dalam kawasan suci Pamekaan Agung. 


Kemudian, ada keinginan desa setempat untuk memanfaatkan sumber air itu sebagai tempat malukat, sehingga diputuskan dialirkan ke pinggir pantai sekitar 100 meter, secara manual pada awal 2017. “Kami berpikirnya begini, untuk upacara keagamaan saja bisa. Apalagi untuk malukat, pasti bagus. Makanya, dijadikan tempat malukat, dan dibuka untuk umum. Sekarang tergantung kepercayaan masing-masing,” tutur Putu Dana kepada Bali Express (Jawa Pos Group)  belum lama ini.



Setelah sepakat menjadikannnya tempat malukat, maka mata air itu dialirkan ke pinggir pantai. Ternyata respon masyarakat sangat bagus. Semakin hari, keberadaan tempat malukat ini semakin ramai dikunjungi warga. Apalagi saat purnama dan tilem atau rahina tertentu.
Tak hanya warga Tianyar. Banyak juga warga luar desa, bahkan luar Karangasem, seperti Buleleng yang memang notabene berbatasan dengan Karangasem. Hal tersebut tak terlepas dari kepercayaan masing-masing atau mendengar pengalaman dari mereka yang sudah sempat malukat . 
Putu Dana menceritakan, banyak kejadian aneh dialami orang yang malukat. Misalnya orang sakit bisa sembuh setelah malukat. Bahkan, balian juga mengantar pasien malukat ke sana. 


 


“Ada orang dari luar Tianyar datang dibopong, setelah tiga kali malukat ternyata sembuh. Ada juga yang tiba di sini pingsan. Tapi setelah malukat, bisa sembuh,” ujar Putu Dana dibenarkan Mangku Gede Dadi yang jadi pangayah di kawasan itu kepada Bali Express (Jawa Pos Group). 



Mangku Gede Dadi mengimbau warga yang akan malukat agar  mengikuti aturan yang ada. Pertama sembahyang di palinggih Dewi Gangga.


Kemudian dilanjutkan sembahyang di pangayengan Gunung Agung, linggih Ida Bhatara Putranjaya. Selanjutnya sembahyang di pangayengan Bhatara Baruna. Setelah tahapan itu dilalui, baru dilanjutkan mandi di pantai. “Setelah mandi itu baru malukat. Tapi ingat tidak boleh telanjang, tetap pakai kamen. Malukat dari pancoran paling Barat ke Timur. Istilahnya dari teben ke hulu,” terang Putu Dana. Setelah malukat dilanjutkan nunas pangening-ening  di Padma Capah. Semua tahapan itu ada di kawasan tersebut.



Desa Adat Tianyar meyakini bahwa sumber mata air berupa kelebutan di pinggir Jalan Raya Kubu-Buleleng itu, sumber awalnya dari Gunung Agung dan  Danau Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli. Tak bisa diperkirakan kapan sumber air itu mulai muncul.  Yang pasti, tegas Kepala SDN 8 Tianyar ini, kelebutan yang kemudian menjadi kawasan suci Pamekaang Agung ini  tak pernah surut, dan hanya dimanfaatkan untuk keperluaan upacara keagamaan. Salah satunya melasti. Tidak pernah dipakai untuk keperluan sehari-hari.


“Sebenarnya, sumber air ada dua. Dari Gunung Agung dan Danau Batur. Tapi, setelah dialirkan menjadi tempat malukat sempat ada usulan krama dipecah jadi lima pancoran. Kemudian disepakati jadi tujuh. Namanya Sapta Gangga,” bebernya.



Apakah tak pernah kering? Kedua prajuru adat ini menegaskan bahwa alam tandus di Kubu tak berpengaruh terhadap keberadaan air itu. Setahu mereka, hanya pernah sekali saja air pancoran itu airnya mengecil. Itu terjadi setelah salah seorang warga Tianyar malukat hanya pakai celana dalam (CD). Pria yang datang tengah malam itu diduga dalam keadaan mabuk.


“Kalau dibilang mabuk, gak bisa datang ke sini. Pokoknya tidak sepenuhnya sadar,” ucap Putu Dana.


Setelah kejadian itu, air pancoran mengecil. Pihak desa adat yang menduga mengecilnya sumber air karena ulah pria itu, langsung memanggil warga bersangkutan, dan mewajibkan ngaturan guru piduka.



“Kalau tidak cepat, bisa saja pancorannnya kering,” imbuh Mangku Gede Dadi. Dengan kejadian itu, purnawirawan Polri ini meminta warga yang akan malukat ke sana untuk memakai kamen. Serta membawa banten pajati. Minimal ngaturang canang sebelum malukat. 

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat