BALI EXPRESS, GIANYAR - Seiring pesatnya perkembangan pariwisata di Bali, sejumlah pura yang letaknya sangat strategis berada pada jalur menuju objek pariwisata, juga menjadi destinasi wisatawan. Seperti halnya Pura Puseh dan Pura Desa di Desa Batuan, Gianyar. Apa yang menarik dari pura yang masuk Pura Kahyangan ini?
Pura Kahyangan Desa yang disungsung krama Desa Batuan, Gianyar, difungsikan untuk memuja kebesaran dari manifestasi Tuhan. Pura Desa sebagai tempat pemujaan Dewa Brahma, Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu, dan Pura Dalem sebagai manifestasi kekuatan pemujaan Dewa Siwa. Ketiga pura ini disebut Kahyangan Tiga.
Tiga pura ini dikatakan sebagai salah satu saksi adanya agama Tirta di Bali. Pura Kahyangan Tiga Batuan, terlihat selalu ramai dikunjungi wisatawan yang hilir mudik. Mereka datang secara rombongan ataupun perorangan dengan bus – bus besar yang terparkir di seberang Pura Kahyangan Tiga, Desa Batuan. Kenapa pura yang terletak di Dusun Tengah, Desa Batuan, Sukawati, Gianyar ini begitu istimewa?
Pura Kahyangan Tiga (Puseh, Desa, dan Kahyangan) ini, dibangun tahun 944 Saka atau 1022 Masehi. Seperti diketahui, Pura Puseh merupakan bagian dari Tri Kahyangan dalam sebuah Desa Pakraman di Bali. Dan, konsep Desa Pakraman, termasuk juga Pura Tri Kahyangan dicetuskan dan digagas oleh Mpu Kuturan yang datang ke Pulau Bali pada tahun 1001 Masehi. Tujuan beliau adalah mempersatukan sekte-sekte dan kelompok masyarakat yang ada di Bali untuk menyembah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa (Tri Murti Tatwa).
Jika dilihat dari kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun 1001, tentunya butuh proses dalam mencetuskan gagasan konsep religius, seperti pemahaman Tri Murti dan Pura Kahyangan Tiga. Makanya diadakan juga paruman-paruman (pertemuan) yang mempertemukan tokoh-tokoh kelompok, golongan dan juga sekte, sehingga pada akhirnya sekte masyarakat Bali berhasil menyatu dan manunggal. Kalau dirunut, pura ini dibagun sekitar 21 tahun kemudian setelah kedatangan Mpu Kuturan. Hal itu menjadikan pura Kahyangan tiga (Puseh, Desa, dan Kahyangan) ini, menjadi pura tertua, dan bisa dibayangkan umur pura ini sudah sampai ribuan tahun lebih.Tak heran akhirnya menjadikan pura ini sangat menarik.
Bendesa Adat Pakraman Desa Batuan, Made Djabur, mengungkapkan, sejarah Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan tak lepas dari masa kejayaan Raja Sri Aji Udayana Darma Warmadewa. Djabur menambahkan, meskipun krama adat panyungsung mejadikan pura ini sebagai objek wisata, namun ia menegaskan, fungsi Pura Puseh, Pura Desa, dan Kahyangan tetap menjadi tempat pemujaan sebagai Pura Kahyangan Desa yang kesakralannya tetap dijaga. “Pura ini memiliki sejarah panjang, tentang sejarah evolusi agama Hindu di Bali. Pura ini juga hasil dari jajak pendapat dan rapat akbar yang digelar Mpu Kuturan di Pura Samuan Tiga ketika itu," bebernya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Meskipun ramai wisatawan, namun pihaknya tetap menjaga fungsinya sebagai tempat suci.
Dikatakannya, dalam peninggalan prasasti yang ditemukan di Pura Hyang Tibha di Dusun Blahtanah, Batuan Kaler, memuat sejarah tentang keberadaan Desa Batuan sebagai desa pertama yang membangun Pura Kahyangan Tiga sebagai tempat memuja Tuhan. “Pada zaman Pemerintahan Dinasti Warmadewa di Bali, Desa Batuan dengan sebutan Desa Batuaran, memang sudah terdapat ada Nama Baturan, yang akhirnya kemudian disebut Batuan, yang berasal dari Kata Batu, oleh karena di Daerah ini adalah daerah yang berbatu – batu selanjutnya berubah dengan sebutan Desa Batuan,” ungkapnya.
Prasasti yang berangka tahun 829 Saka atau tahun 907 Mahesi itu, juga menceritakan tentang kejayaan Kerajaan Warmadewa yang dipimpin Srie Aji Darmapangkaja Wira Dale Kesari Warmadewa yang bersinggasana di Singhadwala. Diceritakan pula, ketika dinasti Warmadewa IV, Bali diperintah oleh keturan Warmadewa yang bernama Srie Aji Darma Udayana Warmadewa, didampingi permaisuri Sri Baginda bernama Gunapria Darmapatni yang berasal dari Jawa Timur. Gunapria Darmapatni merupakan putri dari raja Mahendra Data. Ia bertahta sebagai Raja di Bali tahun 989 Caka atau tahun 1001 Masehi. Dikatakan dalam pernikahan Srie Aji Darma Udayana Warmadewa dan Gunapria Darmapatni memiliki tiga orang anak, yakni Srie Aji Air Langga, Srie Aji Mara Kata, Srie Aji Anak Wungsu.
Untuk menciptakan ketertiban serta menegakkan kembali sendi – sendi agama serta budaya masyarakat di Bali, maka Mpu Kuturan dibawah pimpinan Srie Aji Darma Udayana Warmadewa segera mengadakan musyawarah besar ( mahasaba ) yang dihadiri para pemuka masyarakat serta para pandita Siwa- Buda yang bertempat di Pura Samuan Tiga Tampak Siring. Dalam musyawarah besar itu, telah diambil keputusan dan menetapkan bahwa makna paham (pengertian) Tri Sakti atau Tri Purusa harus dipulihkan kembali. Akhirnya, sejak itu terlaksanalah pengertian Tri Purusa yang merupakan landasan dari dibangunnya Pura Kahyangan Tiga yang melambangkan Utpeti, Stiti, Pralina.
Dalam prasasti yang ditemukan di Pura Puseh Desa Batuan, tercatat ketika itu Desa Batuan hanya memiliki sebuah pura yang difungsikan sebagai tempat persembahyangan kepada Ida Sang Hyang Siwa. Pura tersebut bernama Pura Hyang Tiba. Pura tersebut dibangun sebagai perlambang mahapralina.
“Dalam konsep Tri Guna, kita mengenal Brahma, Wisnu, dan Siwa. Nah, ketika itu di Batuan hanya ada satu pura yang ditujukan kepada Sang Siwa, maka dibangunlah dua pura lainnya, yaitu di Dusun Cangi sebagai tempat pemujaan Wisnu dan di Desa Batuan sebagai tempat pemujaan Brahma,”ungkapnya.
Dalam prasasti yang berangka tahun 944 Saka atau tahun 1022 M itu, juga menyebutkan, setelah Raja Sri Aji Udayana Darma Warmadewa wafat, pembangunan dan pemeliharaan Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan diteruskan oleh puteranya yang bernama Srie Darma Wangsa Wardana Marakata Pangkajastana Tanggadewa. Dalam pemerintahan Srie Darma Wangsa Wardana Marakata Pangkajastana Tanggadewa, diceritakan masyarakat Desa Batuan mengajukan permohonan agar Srie Baginda Raja berkenan memberikan keringan ayah – ayahan Pura Kahyangan Tiga kepada para krama Desa Batuan.
“Ketika itu ada aturan ngayah rodi. Jadi, leluhur kami merasa sangat berat. Setelah adanya rapat internal yang ketika itu dipimpin oleh seorang pendeta siwa bernama Empu Gupit. Akhirnya, masyarakat memberanikan diri mengajukan sebuah permohonan,” ujar bendesa bertubuh tambun itu.
Adapun permohonan yang diajukan masyarakat Desa Batuan, yakni membebaskan dari kewajiban ngayah rodi.Menghapuskan pengenaan tanggung jawab dari segala pajak, dan menghentikan menyuguhkan, ( penangu ) kepada para petugas kerajaan, diganti dengan aci– acii di Pura Kahyangan Tiga.
“Dengan pertimbangan yang berat akhirnya sang raja mengabulkan permohonan krama Desa Batuan. Keputusan itu lantas dicatat dalam sebuah prasasti yang sampai saat ini masih tersimpan di Pura Puseh,” ungkapnya. Prasasti yang berangka tahun 944 Saka atau tahun 1022 Masehi itu, bernama Prasasti Ida Sanghyang Aji Saraswati. Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) diajak berkeliling memasuki areal pura, akan terlihat sebuah gapura berbentuk candi bentar. Di sana sebuah bangunan kori agung dengan sebuah pintu yang disimbolkan sebagai tempat keluar masuknya para Dewa. Di sisi kiri dan kanan Kori Agung terdapat pintu untuk keluar masuk umat yang akan melakukan persembahyangan. Pada halaman tengah terdapat Bale Agung dan Bale Kulkul, pada bagian lainnya terdapat juga seperangkat gamelan untuk mengiringi saat ada upacara keagamaan atau piodalan di Pura Puseh Batuan. Pada bagian utama pura di Utama Mandala, terdapat bangunan Padmasana, bangunan Meru serta sejumlah palinggih lainnya. Sementara benda-benda peninggalan kuno atau purbakala ditempatkan pada sebuah bangunan wantilan belakang pura.
“Pura ini tergolong sebagai pura kuno. Arsitekturnya terbilang cukup unik dan berbeda dari konsep kosala – kosali yang selama ini diterapkan,” ungkap Perbekel Desa Adat Batuan,
Nyoman Netra.
Struktur Pura Puseh, Pura Desa dan Kahyangan Desa Batuan sedikit berbeda dengan pura pada umumnya di Bali. Susunan areal palemahan pura dibagi menjadi beberapa halaman atau mandala. Halaman luar dilengkapi dengan banyaknya bangunan, palinggih, serta bangunan penunjang lainnya yang melengkapi. Untuk batas-batas dan pembagian halaman di Pura Puseh, Pura Desa, dan Kahyangan Batuan lanjutnya, tidak secara tegas menunjukkan konsep Tri Loka. Namun, merupakan kompleks areal pura dengan halaman, di antaranya seperti Mandala Jaba, Mandala Jaba Tengah, Mandala Pangulun Desa, Mandala Pura Maksan Buda Manis, Mandala Jeroan.
Pura Puseh, Desa, piodalannya pada Sabtu Umanis Watugunung. Netra juga memaparkan di dalam Pura Puseh terdapat beberapa palinggih, yakni Palinggih Taman, Gedong Kehen, Palinggih Ida Ratu Pande, Palinggih Ida Ratu Saung, Palinggih Ida Ratu Selimpet, Palinggih Sedahan Penyarikan dan Palinggih Apit Lawang. Palinggih apit lawang ini digunakan untuk menyimpan beberapa arca penting.
Tradisi Tabuh Rah ternyata berasal dari Pura Puseh Batuan. Pasalnya, di Pura Puseh Batuan terdapat sebuah arca yang disebut Ida Ratu Saung. “Arca Ida Ratu Saung disimpan dalam sebuah palinggih gedong kecil. Arca yang terbuat dari batu padas itu, konon merupakan simbolisasi dari Dewa Tabuh Rah,” ungkap Bendesa Adat Pakraman Desa Batuan, Made Djabur.
Ida Ratu Saung yaitu Dewa Tabuh Rah, yang memiliki kaitan dengan tradisi gocekan atau sabung ayam yang biasanya diadakan di depan Palinggih Taman . Dalam prasasti yang tersimpan di Pura Puseh Batuan juga mencatat, Ida Ratu Saung konon juga berkaitan dengan pementasan Tari Rejang Sutri yang dilaksanakan pada sasih kalima sampai ngembak geni di sasih kadasa. “Terkadang masyarakat awam salah kaprah mengenai Tabuh Rah. Yang mereka tau Tabuh Rah itu pasti judi sabung ayam. Padahal, tidak begitu,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam tradisi Hindu di Bali, Tabuh Rah atau Perang Sata merupakan sebuah ritual keagamaan yang mensyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol menyucikan umat manusia dari ketamakan, keserakahan atau kelobaan terhadap nila – nilai materialistis dan keduniawian.
Editor : I Putu Suyatra