Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Desa Batuan, Muasal Penyatuan Sekte dan Tabuh Rah Berasal

I Putu Suyatra • Jumat, 11 Mei 2018 | 19:19 WIB
Pura Desa Batuan, Muasal Penyatuan Sekte dan Tabuh Rah Berasal
Pura Desa Batuan, Muasal Penyatuan Sekte dan Tabuh Rah Berasal

BALI EXPRESS, GIANYAR - Seiring pesatnya perkembangan pariwisata di  Bali,  sejumlah pura  yang letaknya  sangat  strategis  berada  pada jalur  menuju  objek pariwisata, juga menjadi destinasi  wisatawan. Seperti halnya Pura  Puseh dan Pura Desa di Desa Batuan, Gianyar. Apa yang menarik dari pura yang masuk Pura Kahyangan ini?


Pura Kahyangan  Desa  yang disungsung   krama  Desa  Batuan, Gianyar, difungsikan  untuk  memuja kebesaran dari manifestasi Tuhan. Pura  Desa sebagai  tempat  pemujaan  Dewa  Brahma,  Pura  Puseh  sebagai  tempat pemujaan  Dewa Wisnu, dan  Pura  Dalem  sebagai manifestasi  kekuatan  pemujaan Dewa Siwa. Ketiga pura ini disebut Kahyangan  Tiga. 


Tiga pura ini dikatakan sebagai salah satu saksi adanya agama Tirta di Bali. Pura Kahyangan Tiga Batuan, terlihat selalu ramai dikunjungi wisatawan yang hilir mudik. Mereka datang secara rombongan ataupun perorangan dengan bus – bus besar yang terparkir di seberang Pura Kahyangan Tiga, Desa Batuan. Kenapa pura yang terletak di Dusun Tengah, Desa Batuan, Sukawati, Gianyar ini begitu istimewa?


Pura Kahyangan Tiga (Puseh, Desa, dan  Kahyangan)  ini,  dibangun  tahun 944  Saka atau 1022 Masehi. Seperti diketahui, Pura Puseh merupakan bagian dari Tri Kahyangan dalam sebuah Desa Pakraman di Bali. Dan, konsep Desa Pakraman, termasuk juga Pura Tri Kahyangan dicetuskan dan digagas oleh Mpu Kuturan yang datang ke Pulau Bali pada tahun 1001 Masehi. Tujuan beliau adalah mempersatukan sekte-sekte dan kelompok masyarakat yang ada di Bali untuk menyembah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa (Tri Murti Tatwa).


Jika dilihat dari kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun 1001, tentunya butuh proses dalam mencetuskan gagasan konsep religius, seperti pemahaman Tri Murti dan Pura Kahyangan Tiga. Makanya diadakan juga paruman-paruman (pertemuan) yang mempertemukan tokoh-tokoh kelompok, golongan dan juga sekte, sehingga pada akhirnya sekte masyarakat Bali berhasil menyatu dan manunggal.  Kalau dirunut, pura ini dibagun sekitar 21 tahun kemudian setelah kedatangan Mpu Kuturan. Hal itu menjadikan pura Kahyangan tiga (Puseh, Desa, dan Kahyangan) ini, menjadi pura tertua, dan bisa dibayangkan umur pura ini sudah sampai ribuan tahun lebih.Tak heran akhirnya menjadikan pura ini sangat menarik.


Bendesa Adat Pakraman Desa Batuan, Made Djabur, mengungkapkan, sejarah Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan tak lepas dari masa kejayaan Raja Sri Aji Udayana  Darma Warmadewa. Djabur menambahkan, meskipun  krama adat  panyungsung mejadikan  pura  ini  sebagai objek  wisata,  namun ia menegaskan,  fungsi  Pura  Puseh, Pura  Desa,  dan Kahyangan tetap  menjadi tempat  pemujaan sebagai  Pura  Kahyangan  Desa yang kesakralannya tetap dijaga. “Pura ini memiliki sejarah panjang, tentang sejarah evolusi  agama Hindu  di Bali. Pura ini juga hasil dari jajak pendapat dan rapat akbar yang digelar Mpu Kuturan di Pura Samuan Tiga ketika itu," bebernya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.


Meskipun ramai wisatawan, namun pihaknya tetap menjaga fungsinya sebagai tempat suci.
Dikatakannya, dalam peninggalan  prasasti yang ditemukan di  Pura Hyang Tibha di Dusun Blahtanah, Batuan Kaler, memuat sejarah tentang keberadaan Desa Batuan sebagai desa pertama yang membangun Pura Kahyangan Tiga sebagai tempat memuja Tuhan. “Pada zaman Pemerintahan Dinasti Warmadewa di Bali, Desa Batuan dengan sebutan Desa Batuaran, memang sudah terdapat ada Nama Baturan, yang akhirnya kemudian disebut Batuan, yang berasal dari Kata Batu, oleh karena di Daerah ini adalah daerah yang berbatu – batu selanjutnya  berubah dengan sebutan Desa Batuan,” ungkapnya.


Prasasti yang berangka tahun 829 Saka atau tahun  907 Mahesi itu, juga menceritakan tentang kejayaan Kerajaan Warmadewa yang dipimpin Srie Aji  Darmapangkaja Wira Dale Kesari Warmadewa yang bersinggasana di Singhadwala. Diceritakan pula, ketika dinasti Warmadewa IV, Bali diperintah oleh keturan Warmadewa yang bernama Srie Aji Darma Udayana Warmadewa, didampingi  permaisuri Sri Baginda bernama Gunapria Darmapatni yang berasal dari Jawa Timur. Gunapria Darmapatni merupakan putri dari raja  Mahendra Data. Ia bertahta sebagai Raja di Bali tahun 989 Caka atau tahun 1001 Masehi.  Dikatakan dalam pernikahan Srie Aji Darma Udayana Warmadewa dan Gunapria Darmapatni memiliki tiga orang anak, yakni Srie Aji Air Langga, Srie Aji Mara Kata, Srie Aji Anak Wungsu.


Untuk menciptakan ketertiban serta menegakkan kembali sendi – sendi agama serta budaya masyarakat  di Bali,  maka Mpu Kuturan dibawah pimpinan  Srie Aji Darma Udayana Warmadewa segera mengadakan musyawarah besar ( mahasaba ) yang dihadiri para pemuka masyarakat serta para pandita Siwa- Buda yang bertempat di Pura Samuan Tiga Tampak Siring. Dalam musyawarah besar itu, telah diambil keputusan dan menetapkan bahwa makna paham (pengertian) Tri Sakti atau Tri Purusa harus dipulihkan kembali. Akhirnya, sejak itu terlaksanalah pengertian  Tri Purusa yang merupakan landasan  dari  dibangunnya Pura Kahyangan Tiga yang melambangkan Utpeti, Stiti, Pralina.


Dalam prasasti yang ditemukan di Pura Puseh Desa Batuan, tercatat ketika itu Desa Batuan hanya memiliki sebuah pura yang  difungsikan sebagai tempat persembahyangan kepada Ida Sang Hyang Siwa. Pura tersebut bernama Pura Hyang Tiba. Pura tersebut dibangun sebagai perlambang mahapralina.


“Dalam konsep Tri Guna, kita mengenal Brahma, Wisnu, dan Siwa. Nah, ketika itu di Batuan hanya ada satu pura yang ditujukan kepada Sang Siwa, maka dibangunlah dua pura lainnya, yaitu di Dusun Cangi sebagai tempat pemujaan Wisnu dan di Desa Batuan sebagai  tempat pemujaan Brahma,”ungkapnya.


Dalam prasasti yang berangka tahun 944 Saka atau tahun 1022 M itu, juga menyebutkan, setelah Raja Sri Aji Udayana  Darma Warmadewa wafat, pembangunan dan pemeliharaan Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan diteruskan oleh puteranya yang bernama  Srie Darma Wangsa Wardana Marakata Pangkajastana Tanggadewa. Dalam pemerintahan Srie Darma Wangsa Wardana Marakata Pangkajastana Tanggadewa, diceritakan masyarakat Desa Batuan mengajukan permohonan agar Srie Baginda Raja berkenan memberikan keringan  ayah – ayahan Pura Kahyangan Tiga kepada para krama  Desa Batuan.


“Ketika itu ada aturan ngayah rodi. Jadi, leluhur kami merasa sangat berat. Setelah adanya rapat internal yang ketika itu dipimpin oleh seorang pendeta siwa bernama Empu Gupit. Akhirnya, masyarakat memberanikan diri mengajukan sebuah permohonan,” ujar bendesa bertubuh tambun itu.


Adapun permohonan yang diajukan masyarakat Desa Batuan, yakni membebaskan dari kewajiban ngayah rodi.Menghapuskan pengenaan tanggung jawab dari segala pajak,  dan menghentikan menyuguhkan, ( penangu ) kepada para petugas kerajaan, diganti dengan aci– acii di Pura Kahyangan Tiga.



“Dengan pertimbangan yang berat akhirnya sang raja mengabulkan permohonan krama Desa Batuan. Keputusan itu lantas dicatat dalam sebuah prasasti yang sampai saat ini masih tersimpan di Pura Puseh,” ungkapnya. Prasasti yang berangka tahun 944 Saka atau tahun  1022 Masehi itu, bernama Prasasti Ida Sanghyang Aji Saraswati. Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) diajak berkeliling memasuki areal pura, akan terlihat sebuah gapura berbentuk candi bentar.  Di sana sebuah bangunan kori agung dengan sebuah pintu yang disimbolkan  sebagai tempat keluar masuknya para Dewa. Di sisi kiri dan kanan Kori Agung terdapat pintu untuk keluar masuk umat yang akan melakukan persembahyangan.  Pada halaman tengah terdapat Bale Agung dan Bale Kulkul, pada bagian lainnya terdapat juga seperangkat gamelan untuk mengiringi saat ada upacara keagamaan atau piodalan di Pura Puseh Batuan. Pada bagian utama pura di Utama Mandala, terdapat bangunan Padmasana, bangunan Meru serta sejumlah palinggih lainnya. Sementara  benda-benda peninggalan kuno atau purbakala ditempatkan pada sebuah bangunan wantilan belakang pura.


“Pura ini tergolong sebagai pura kuno. Arsitekturnya terbilang cukup unik dan berbeda dari konsep kosala – kosali yang selama ini diterapkan,” ungkap Perbekel Desa Adat Batuan,
Nyoman Netra.



Struktur  Pura  Puseh,  Pura Desa  dan Kahyangan Desa Batuan  sedikit  berbeda  dengan  pura pada  umumnya  di  Bali. Susunan areal palemahan  pura dibagi menjadi beberapa halaman  atau mandala.  Halaman  luar dilengkapi  dengan  banyaknya bangunan,  palinggih,  serta bangunan penunjang  lainnya  yang melengkapi. Untuk  batas-batas  dan pembagian  halaman  di  Pura  Puseh, Pura  Desa, dan Kahyangan  Batuan  lanjutnya,  tidak  secara  tegas menunjukkan  konsep  Tri  Loka. Namun, merupakan  kompleks  areal  pura dengan  halaman,  di antaranya  seperti Mandala  Jaba, Mandala  Jaba Tengah, Mandala  Pangulun  Desa,  Mandala Pura  Maksan  Buda  Manis,  Mandala Jeroan.



Pura Puseh, Desa, piodalannya  pada Sabtu Umanis Watugunung. Netra juga memaparkan di dalam Pura Puseh terdapat beberapa palinggih, yakni Palinggih Taman, Gedong Kehen, Palinggih Ida Ratu Pande, Palinggih Ida Ratu Saung, Palinggih Ida Ratu Selimpet, Palinggih Sedahan Penyarikan dan Palinggih Apit Lawang. Palinggih apit lawang ini digunakan untuk menyimpan beberapa arca penting.



Tradisi Tabuh Rah  ternyata  berasal dari Pura Puseh Batuan. Pasalnya, di Pura Puseh Batuan terdapat sebuah arca yang disebut Ida Ratu Saung. “Arca Ida Ratu Saung disimpan dalam sebuah palinggih gedong kecil. Arca yang terbuat dari batu padas itu, konon merupakan simbolisasi dari Dewa Tabuh Rah,” ungkap Bendesa Adat Pakraman Desa Batuan, Made Djabur. 


Ida  Ratu  Saung yaitu Dewa Tabuh Rah, yang memiliki kaitan  dengan  tradisi gocekan  atau  sabung  ayam  yang biasanya diadakan  di  depan Palinggih  Taman .  Dalam prasasti yang tersimpan di Pura Puseh Batuan juga mencatat, Ida Ratu Saung konon juga  berkaitan dengan  pementasan Tari Rejang  Sutri yang  dilaksanakan  pada  sasih  kalima sampai ngembak geni di sasih kadasa. “Terkadang masyarakat awam salah kaprah mengenai Tabuh Rah. Yang mereka tau Tabuh Rah itu pasti judi sabung ayam. Padahal, tidak begitu,” ungkapnya. 



Menurutnya, dalam tradisi Hindu di Bali, Tabuh Rah atau Perang Sata merupakan sebuah ritual keagamaan yang mensyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol menyucikan umat manusia dari ketamakan, keserakahan atau kelobaan terhadap nila – nilai materialistis dan keduniawian. 

Editor : I Putu Suyatra
#pura #sejarah pura