Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Banjir Pesanan, Penjual Penjor Galungan Pakai Buruh Luar Bali

I Putu Suyatra • Senin, 28 Mei 2018 | 02:18 WIB
Banjir Pesanan, Penjual Penjor Galungan Pakai Buruh Luar Bali
Banjir Pesanan, Penjual Penjor Galungan Pakai Buruh Luar Bali

BALI EXPRESS, DENPASAR - Menjelang pelaksanaan hari suci Galungan, sarana upakara sangat dibutuhkan umat Hindu.  Seperti rumah produksi penjor dan alat-alat upakara sejenisnya yang ada di Jalan Kecubung, Denpasar nampak dibanjiri pesanan. Sehingga karyawan yang membuat penjor mejadi kewalahan. Akibatnya, pemilik usaha mendatangkan buruh harian lepas dari luar Bali.


Salah satu karyawan yang mengaku bernama Merta saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan dalam sehari ia bisa membuat penjor sekitar empat hingga enam penjor. Di sana ia merasakan kewalahan lantaran pesanan yang diterima saat ini lebih banyak dari sebelumnya. "Dalam satu hari dirinya hanya bisa mengerjakan enam penjor saja, itu pun jika yang buat sudah senior. Sedangkan pesanan dari langganan ada 200 penjor belum lagi di luar langganan yang akan beli," jelasnya di Denpasar, Minggu (27/5).


Pria asli Nusa Penida itu pun mengaku khusus membuat penjor dikerjakan oleh 15 buruh. Ia bersama rekannya sejumlah 10 orang sebagai buruh harian lepas membuat penjor. Sedangkan sekitar 5 orang yang lainnya berasal dari Sumbawa yang hanya merangkai dan merakit perhiasan penjor.


"Kalau saya bersama 10 teman yang dari Nusa Penida itu sebagai buruh harian lepas setiap jelang Galungan. Yaitu dari seminggu sebelumnya, sedangkan Penampahan Galungan baru kami balik," tandasnya.


Lanjut Mertha, meski rekannya yang dari luar Bali yang asli Sumbawa mengerjakan penjor ia tidak mempermaslahkan. Karena hanya mempersiapkan bahannya dan merakitnya saja. Karena penjor yang disediakan di sana telah setengah jadi, sehingga Mertha sendiri hanya menghias dengan janur dan siap diangkut. Begitu juga yang memesan ada yang langsung pasang dan dipasang sendiri, dengan harga sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta.


Ditanya upah, Mertha mengaku mendapatkan sekitar Rp 2 juta lebih selama ia bekerja 10 hari di sana. Sedangkan harga penjor yang dibuatnya tergantung bahan dan ukuran sesuai permintaan pelanggan.


"Kalau yang sering palingan ada yang menggunakan janur dan ental, tapi seringan yang pakai ental sih," jelasnya.


 


Pada tempat yang sama, pemilik warung Made Mangku Budiartha mengungkapkan usaha penjual penjornya tersebut talah dimulai sejak tahun 2007 lalu. Saking lamanya, tokonya pun dikenal dan para pelanggan pun menjadi bertambah. Sehingga saat ini ia menyediakan penjor sekitar 300 buah untuk pelanggannya. Persiapan yang ia lakukan untuk menyiapkan bahan-bahannya, Budiartha mengaku sudah dari dua bulan lalu agar tidak kekurangan bahan.


"Di sini saya memperkejakan karyawan sekitar 15 orang. Itupun semuanya karyawan freelance dan yang tetap ada lima orang. Karena pesanan penjor Galungan sekarang ada peningkatan pesanan dan langganan dari pada enam bulan lalu," imbuhnya. 

Editor : I Putu Suyatra