Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Penjelasan Soal Kala Tiga dan Makna Galungan dari Sudut Wariga

I Putu Suyatra • Rabu, 30 Mei 2018 | 03:07 WIB
Ini Penjelasan Soal Kala Tiga dan Makna Galungan dari Sudut Wariga
Ini Penjelasan Soal Kala Tiga dan Makna Galungan dari Sudut Wariga



BALI EXPRESS, GIANYAR - Perayaan Hari Raya Galungan selalu dirayakan secara meriah.  Hari Raya Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Dunggulan berdasarkan perhitungan pawukon diperingati setiap 210 hari atau enam bulan kalender. Galungan oleh umat Hindu secara filosofi dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun banyak yang masih belum mengetahui, siapa sejatinya musuh (Adharma) itu, yang harus ditaklukan?


Dalam rangkaian peringatan Galungan, sejak Redite Pahing Dungulan umat Hindu mulai didatangi oleh Kala-tiganing Galungan yang datang bermaksud untuk menggoda keteguhan hati dalam mempersiapkan diri menjelang Galungan. Sang Kala Tiga tersebut ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan , dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan jika kita kedatangan mereka adalah simbol angkara (keletehan). Jadi, dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma.



Menurut tokoh masyarakat Buleleng yang sekaligus Penyusun Kalender Tradisonal Bali, Gede Marayana, bahwa  Sang Kala Tiga yang terdiri dari Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat yang mengganggu manusia pada saat yang berbeda-beda. Bahkan, dalam perhitungan wewaran dari Redite (Minggu) Dunggulan, Soma (Senin) Dunggulan dan Anggara (Selasa) Dunggulan, masing-masing hari tersebut terdapat pertemuan wewaran Kala-Jaya secara berturut turut sebanyak tiga kali.



Dimulai dari Sang Bhuta Galungan. Bhuta ini mengganggu manusia bertepatan dengan panyekeban, yaitu pada hari Redite (Minggu) Dunggulan. Bhuta Galungan akan menyerang manusia dengan berbagai cara agar bisa ditaklukan. “Pertarungan umat manusia dalam rangka kemenangan Dharma melawan Adharma diuji pertama kali oleh Sang Bhuta Galungan untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan.


Dalam Lontar Sunarigama disebutkan 'Anyekung Jnana' yang  artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan karena yang digoda saat itu adalah pikiran atau idep
manusia terkait pemahaman tentang Hari Raya Galungan. Jika berhasil menaklukkan Bhuta Galungan tersebut, berarti dari sisi wewaran dimaknai Jaya (menang) atas Kala (godaan Bhuta),” ujar Marayana.



Kemudian godaan kembali datang dari Bhuta Dungulan pada hari Soma (Senin). Bhuta ini menyerang pada hari Panyajaan Galungan. “Pada hari ini juga disebut Panyajan, di mana  umat mengadakan Tapa
Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata," terang Marayana.


Panyajan dalam lontar Sundarigama disebutkan 'Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi'. Saat
inilah Sang Bhuta Dunggulan melakukan godaan terhadap ucapan manusia.



"Jadi, sebisa mungkin wacika harus diparisudha, artinya berkata yang baik, tidak memancing amarah orang lain yang bisa menggoda ucapan manusia dalam memahami Galungan. Jika berhasil dilalui berarti sudah Jaya atas Kala,” kata Marayana.



Sedangkan godaan terakhir datang dari Bhuta Amangkurat yang  bersifat menguasai, 
mengganggu manusia pada saat Anggara Dunggulan atau disebut Panampahan Galungan. Bhuta ini menggoda prilaku manusia dalam memahami Galungan. “Makna sesungguhnya dari hari panampahan ini adalah membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri, bukan di luar dan termasuk sifat hewani tersebut," bebernya.


Dikatakannya, ini sesuai dengan lontar Sundarigama, yaitu 'Pamyakala kala malaradan yang  artinya membayar utang kepada ruang dan waktu.



Lebih lanjut dijelaskan  Marayana, apabila unsur Kala-nya yang unggul, maka akan menampilkan pemahaman yang maboya (ingkar) terhadap Hari Raya Galungan. Sedangkan bila unsur Jaya yang unggul, maka akan menampilkan pemahaman yang ngugu (yakin) dan tuwon (satya), tak tergoyahkan  melaksanakan Hari Raya Galungan.


“Jadi,  kemenangan Dharma atas Adharma secara wariga dimaknai sebagai unggulnya Jaya atas Kala yang ada pada diri kita. Sehingga diwujudkan dalam perayaan Galungan yang jatuh pada wewaran Uma-Mandala,” jelasnya.



Uma-Mandala, lanjut Marayana, jika ditelisik dari sisi Wariga, bahwa Uma diartikan sawah yang merupakan simbol dari kesuburan (padi). Sedangkan Mandala  diartikan sebagai Jagad atau Bumi.


Galungan inilah puncak rahina jagat. Hari kemenangan Dharma terhadap Adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup
dan dalam usaha mencapai ananda atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.


“Ini berarti jika Hari Raya Galungan yang merupakan Otonan Jagat sebagai wujud untuk mendapatkan kesuburan dan kesejahteraan dengan berbagai sesajen yang dihaturkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur kita di sanggah merajan dengan menghaturkan punjung, atau soda sagi," imbuhnya.

Editor : I Putu Suyatra