BALI EXPRESS, GIANYAR - Akulturasi budaya serta kegiatan keagamaan di Bali seakan melebur. Tak hanya waktu perayaan yang kebetulan berbarengan. Namun, akulturasi itu juga terlihat dalam pembangunan tempat suci serta cara sembahyangnya. Suasana itu terlihat di Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh, Gianyar. Seperti apa keunikannya?
Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh di Jalan Raya Dharma Giri, Desa Blahbatuh, Gianyar, tak sulit dicari karena lokasinya di pinggir jalan raya. Ada sebuah jembatan tua berdiri kokoh di sisi kanan jalan, dan vihara, juga umat terlihat dari jalan raya karena posisi Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh
lebih rendah dari jalan. Vihara ini terlihat sungguh unik. Ornamen yang menghiasi tak hanya ornamen merah khas Tionghoa. Beberapa di antaranya justeru menggunakan ornamen khas Bali sebagai hiasan utama. Hal itu juga terlihat dari pintu masuk menuju vihara.
Sebuah gapura kecil berhiaskan ukiran khas Bali seakan menyambut ketika memasuki pelataran terluar vihara. Di sisi kanan gapura terdapat sebuah palinggih dengan patung Singa berwarna emas. Pohon Beringin di sebelahnya juga dihiasi saput poleng sebagai pertanda tempat tersebut disucikan. Bukan hanya itu, beberapa canang juga terlihat dihaturkan di sana. Ada 43 buah anak tangga turun berkelok untuk menuju ke pintu utama vihara. Uniknya, gerbang utama vihara ini diposisikan langsung menghadap sungai yang ada tepat di sebelah barat. Gerbang vihara berciri kori Bali tipe bintang aring ini, terlihat diapit sepasang patung Singa yang disebut Kim Lin.
Salah satu pengurus Vihara Amurva Bhumi Blahbatu, Eka Wiradharma mengatakan,
Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh merupakan tempat pemujaan kepada Dewa Hok Tik Cin Sin atau Tu Ti Kong.
Selain Dewa Hok Tik Cin Sin, lanjutnya, ada pula altar yang dibangun bagi Dewi Ma Kwan Im, Dewa Harimau, serta altar Budha. “Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh, merupakan simbol akulturasi antara umat Hindu dengan Budha. Umat kami disini biasanya tak hanya umat Tridharma, ada juga dari aliran Theravada serta umat Hindu yang tinggal di sekitar sini,” ujar pria yang disapa Romo Eka ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Vihara yang sebelumnya pernah direhabilitasi pada tahun 1950 ini, memiliki bentuk tapak (site) memanjang dari selatan ke utara. Di dalamnya terdapat beberapa altar yang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi Dewi Ma Kwan Im serta Budha. Selain altar, ada juga sebuah bangunan Kong Tjo serta bangunan pendukung lainnya. Jika dilihat lebih seksama, bangunan Kong Tjo ini merupakan perpaduan arsitektur China dan Bali yang dibuat sedemikian unik. “Bangunan Kong Tjo itu diperuntukan kepada Dewa Bumi atau Dewa Tanah, biasanya memiliki simbol yang disebut Tjin See Miau. Fungsinya digunakan untuk memuja Dewa Bumi sebagai penguasa alam,” ujarnya.
Kong Tjo Dewa Bumi itu terlihat berundak dan berteras. Keempat tiangnya berpenampang bundar dengan ornamen Naga bercat hijau, diselingi warna kuning keemasan dan biru. Lantai berwarna putih keabu-abuan. Di bagian plafonnya menggantung dua lampion bulat warna merah serta dua lampion kubus dan 6 lampu gantung antik. Di depannya terdapat tempat dupa berbentuk bulat, berkaki tiga yang disebut Nyolo. Di sisi kiri dan kanannya masing-masing dipajang tiga lilin besar. “Lilin itu biasanya dinyalakan pada saat bulan purnama, tilem atau pada perayaan besar lainnya. Pada hari biasa memang tidak dinyalakan. Lilin merupakan simbol sebuah harapan serta cahaya penerang. Bagi kami lilin itu sangat simbolis,” ungkapnya.
Sebagaimana bangunan berarsitektur Bali atau China yang sangat memperhatikan pola penataan, style, struktur dan konstruksi serta ragam hiasnya, hal inipun juga berlaku pada arsitektur Vihara Amurva Bhumi yang memadukan antara napas arsitektur China dan Bali. Dengan tetap mengusung warna merah sebagai warna inti dan memadukannya dengan bentuk serta ukiran Bali sebagai ornamennya, membuat Vihara Amurva Bhumi terlihat sangat Apik. Bahkan, tak hanya itu, di beberapa sudut juga terlihat palinggih yang fungsinya juga sebagai tempat persembahyangan. “Karena umat kami di sini beragam. Jadi cara persembahyangannya pun beragam. Jika mereka dari Tridharma, biasanya menggunakan dupa atau lilin, tapi jika mereka Hindu – Budha mereka umumnya membawa pajati serta banten dan dihaturkan di altar serta beberapa palinggih yang ada disini,” ungkapnya.
Di samping kanan dari bangunan Kong Tjo, terdapat bangunan Pat Kua. Ruang terbuka yang berbentuk segi delapan itu, digunakan sebagai ruang duduk-duduk maupun ruang pertemuan. Di sudut barat ruangan ini dipajang lukisan tentang para Dewa yang di sisinya dikitari burung Phoenix. Konon burung Phoenix merupakan simbol dari Dewa Api. “Burung Phoenix juga dikenal sebagai lambang kesuburan. Jadi, besar harapan kami agar Dewa Bumi senantiasa memberikan kita semua kesuburan serta kemakmuran,” ujarnya. Tiang-tiang yang ada di sana, berpenampang bundar dan terbuat dari beton bertulang yang dicat warna merah. Konon, Pat Kua menggambarkan empat penjuru mata angin dan empat penjuru sekundernya. Pat Kua dianggap memiliki kekuatan mengusir roh jahat dan pengaruh buruk yang merupakan ancaman bagi penghuni atau pemakai ruang. Selain itu, ragam hiasnya berbentuk Naga yang dikatakan sebagai makhluk surgawi. Sementara yang berupa ukiran tiga dimensi dan bermotif abstrak, biasanya disebut dengan Liong.
Ketika menjelajah lebih jauh, tepat di belakang teras terdapat sebuah pintu masuk menuju ruang pemujaan. Di sisi kiri dan kanan pintu itu, terdapat jendela berbentuk segi delapan yang disebut Pat Kua dengan kusen khasnya yang berwarna kuning. Pada dinding di atas pintu dan jendela terdapat kaligrafi China. Begitu pula pada sisi kiri dan kanan pintu masuk. Di dalamnya terdapat patung Tua Pe Kong atau yang biasa disebut Dewa Bumi. Ketika ditanya, mengapa vihara yang memuja Dewa Bumi selalu berada dekat dengan sungai? Dikatakan Romo Eka, dalam kepercayaan Tionghoa ada sebuah mitos yang mengungkapkan jika manusia dekat dengan tanah atau bumi, maka kesehatannya akan terjamin. “Dewa Bumi merupakan simbol dari Ibu Pertiwi. Kita semua bisa hidup tentu tak lepas dari peran Ibu Pertiwi. Air dan makanan kita dapatkan juga berkat Ibu Pertiwi,” ungkapnya.
Di sisi lain terdapat sebuah bangunan Stupa yang berbentuk Pagoda. Pagoda itu dicat warna-warni di pojok depan vihara. Pagoda ini sebagai tempat membakar kertas-kertas terbuang usai melakukan persembahyangan atau pemujaan. Jika diamati bentuknya mengerucut, makin ke atas makin mengecil. Terdiri atas tiga tumpang. Pada bagian bawah terdapat hiasan daun padma mengelilingi Stupa. Pada lantai ruas pertama Stupa inilah terdapat liang (lubang) perapian pembakaran kertas-kertas. Ragam warna tampilannya, seperti warna merah, biru, kuning, hijau, hitam, dan putih. Pada puncak atap terdapat tiga buah bulatan berwarna merah, makin ke atas kian mengecil.