Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Elly Sugigi Ngibing Joged Pingitan yang Disakralkan Warga Susut

I Putu Suyatra • Selasa, 26 Juni 2018 | 03:04 WIB
Elly Sugigi Ngibing Joged Pingitan yang Disakralkan Warga Susut
Elly Sugigi Ngibing Joged Pingitan yang Disakralkan Warga Susut

BALI EXPRESS, GIANYAR - Setelah melalui persiapan yang panjang berupa proses rekonstruksi, Senin (25/6) Joged Pingitan dari Desa Pakraman Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, akhirnya dipentaskan di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Tampil di Kalangan Ayodya Art Centre Denpasar, tarian yang dipingitkan oleh masyarakat setempat ini sukses memukau penonton yang memadati arena pementasan tersebut.  Bahkan artis sensasional Elly Sugigi ikut ngibing.


Bendesa Pura Penataran Pingit, I Wayan Suartana, S.Pd menjelaskan joged tersebut merupakan warisan dari leluhurnya terdahulu. Sehingga sampai sekarang prosesi dan tarian joged itu sangat dijaga kesakralannya. Khusus untuk PKB kali ini, pihaknya mengaku melakukan permohonan izin secara niskala agar bisa dipentaskan pada acara tahunan ini.


“(Biasanya) Pentasnya juga ketika ada musibah baru pentas di perempatan agung, ketika piodalan tertentu di pura sekitar Desa Pakraman Buahan juga wajib dipentaskan  sebagai simbol ketentraman jagat,” tandasnya saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar Senin kemarin (25/6).


Lanjutnya, dia juga mengaku Joged Pingit itu bersifat sakral dan sebagai sesuhunan yang memang dilinggihkan pada gedong khusus di Pura Penataran Pingit, Banjar Susut, Buahan, Payangan, Gianyar. Terlebih  gedongnya tidak seperti gedong-gedong pada umumnya, sampai gedong penyimpanan gelung itu disebut Gedong Pingit.


Sementara itu, dalam pementasannya tersebut, dikisahkan Kang Cing Wi sangat sedih ditinggal Sri Jaya Pangus untuk mencari pencerahan, karena bertahun-tahun tidak memiliki keturunan. Hal ini yang membawa kesedihan yang amat mendalam pada pihak kerajaan dan seluruh Kerajaan Dalem Balingkang. Akhirnya sang permaisuri memutuskan mencari Sri Jaya Pangus hingga di kaki Gunung Batur. Kisah perjalanan Kang Cing Wi mencari sang suami yang ternyata telah mempersunting Dewi Danu, hingga pasangan ini akhirnya menjelma menjadi barong landung, akibat kutukan Dewi Danu.


Itulah sepenggal kisah sekaligus menjadi tema Tari Joged Pingitan yang dibawakan Sekaa Desa Pakraman Susut, Desa Buahan.


Dengan ditarikan lima orang penari, tarian Joged Pingitan yang mengambil judul Pastu Gni Semara itu langsung menyedot perhatian penikmat seni tradisional. Terlebih ketika tarian garapan I Nyoman Budiyasa menampilkan adegan kala permaisuri Kang Cing Wi memutuskan mencari suaminya hingga ke kaki Gunung Batur. Dimana Raja Sri Jaya pangus telah memperistri seorang Dewi yang menguasai daerah tersebut yaitu Dewi Danu.


Seperti diketahui, Joged Pingitan merupakan tarian “pingit” bagi masyarakat Desa Pakraman Susut, dan tidak sembarangan bisa ditarikan. Dari sejarah, tarian ini awalnya ditarikan ngelawang ke rumah-rumah saat perayaan Galungan dan Kuningan hingga keluar Desa Buahan. Namun suatu ketika saat tarian ini ditarikan di pura pada tahun  1890 an, dimana saat itu antara pengayah, pengibing dan penari joged tiba-tiba mengalami trance atau kesurupan. Dan berdasarkan pawisik, mulai saat itu tarian ini dipingitkan, dan hanya ditarikan gadis yang telah disucikan melalui proses pawintenan. Hingga saat ini Joged Pingitan disungsung di Pura Penataran Pingit Desa Pakraman Susut dan hanya bisa ditarikan saat piodalan berlangsung.


Tarian Joged Pingitan ini sendiri seperti kata Kasi Seni Pertunjukkan Dinas Kebudayaan Gianyar Nyoman Jagra beberapa waktu lalu, sempat vakum lantaran tidak ada penerusnya. Hingga akhirnya proses rekonstruksi dilakukan, mulai dari tabuh, gending, hingga tariannya. “Persiapannya panjang, mulai rekonstruksi hingga latihan. Dan memang dipersiapkan tampil di PKB sebagai tarian rekonstruksi,” ucapnya kala itu.


Dalam kesempatan itu, Suartana juga menjelaskan pangibing Joged Pingitan tersebut biasanya terdapat pangibing khusus. Bahkan dalam ngibing tidak boleh menyentuh joged, berbeda dengan pangibing seperti joged hiburan. Lantaran pada joged ini biasanya terjadi sesuatu hal yang aneh dalam pementasan, sehinga ketika memang diutus langsung untuk ngibing, pangibing tidak akan bisa naik ke atas panggung.


“Di sini penarinya ada lima orang saja, itupun perempuan yang belum haid dan sebelumnya sudah diupacarai khusus. Yaitu upacara semacam mawinten yang kecil dari pawintanan pemangku,” papar pria asli Payangan, Gianyar tersebut.


Pada tempat yang sama, salah satu penonton artis sensasional Elly Sugigi sempat menjadi pangibing Joged Pingitan tersebut. Dirinya mengaku merasakan senang sekali saat ngibing. Karena ia baru pertama kali datang saat PKB sudah bisa langsung ikut menari.  “Ternyata susah menari Bali, saya kecil dulu belajar nari tidak bisa muter mata saya. Sedangkan di sini ada kesempatan untuk menari senang sekali rasanya, apalagi ini acara sakral dan orangnya juga ramah-ramah,” tandasnya.


Pada penampilannya saat ngibing joged, gerakan Ely sangat mengikuti alunan gambelan dan gerakan joged. Meski baru pertama kali datang ke PKB dan diberikan kesempatan menjadi pangibing, seolah-olah ia sudah mahir dalam menari. Dikarenakan semasa kecilnya Ely juga mengaku sempat latihan menari Bali di Taman Mini Indonesia Indah. Waktu itu dirinya berumur 10 hingga 15 tahun.


“Kalau ke Bali ini dalam rangka liburan, tapi bukan semata-mata liburan saja karena pingin juga mengetahui tradisi seni dan budaya yang ada di Bali bagaimana saja tariannya. Kalau dulu di Taman Mini saya hanya latihan Tari Pendet saja,” imbuhnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#pkb