Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Batu Keben di Pura Batur Galiukir, Stana Sang Pemurah

I Putu Suyatra • Kamis, 5 Juli 2018 | 21:52 WIB
Misteri Batu Keben di Pura Batur Galiukir, Stana Sang Pemurah
Misteri Batu Keben di Pura Batur Galiukir, Stana Sang Pemurah



BALI EXPRESS, TABANAN - Nama Batur tidak asing di telinga masyarakat Hindu di Bali. Ketika menyebutnya,  maka pikiran akan tertuju ke kawasan Kintamani, Bangli. Namun, Pura Batur dalam hal ini adalah salah satu pura yang terletak di wilayah Desa Pakraman Galiukir, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Pura yang berdiri sendiri, di luar pura Kahyangan Tiga ini memiliki berbagai keunikan. Seperti apa?


Seperti namanya, Pura Batur merupakan sebuah pura yang palinggih utamanya berupa babaturan atau tumpukan batu di atas tanah. Tumpukan batu yang dipagari Kembang Sepatu dan diayomi Jepun tersebut, sangat disakralkan masyarakat Galiukir. Disakralkan dalam arti, masyarakat setempat sangat menyucikannya. Tak sembarang orang yang diizinkan masuk ke kawasan batu tersebut.



Salah satu panglingsir Desa Pakraman Galiukir, I Wayan Darya belum lama ini menuturkan kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), penemuan babaturan tersebut sekitar abad ke-17 atau 18. Awalnya, Desa Pakraman Galiukir masih berupa hutan rimba yang dinamakan Alas Ukir. Kemudian  datanglah orang-orang Pasek ke wilayah tersebut untuk membuka hutan dan menjadikannya tempat bercocok tanam, sekaligus permukiman. Warga Pasek yang menetap di wilayah tersebut kemudian disebut Pasek Alas Ukir.
Hasil pertanian berupa beras ini kemudian menjadi cikal bakal nama Galiukir. Nama Galiukir juga berganti tiga kali. Pertama Alas Ukir. Alas artinya hutan, dan Ukir berarti gunung. Dengan demikian, Alas Ukir tersebut dahulunya adalah hutan rimba di pegunungan. Nama kedua, karena masyarakat bercocok tanam padi gogo,  maka dinamakan Galih Ukir, di mana  Galih artinya beras. Dengan demikian, Galih Ukir, berarti beras yang dihasilkan di sebuah tempat bernama Alas Ukir. “Nama ketiga, karena kebiasaan, lama-lama masyarakat menyebut dengan Galiukir hingga sekarang,” terangnya.



Suatu ketika, kata Wayan Darya, ada serangan wabah penyakit dan hama atau yang disebut dengan sasab merana. Hasil pertanian, khususnya padi gogo pun anjlok. Banyak pula warga yang sakit-sakitan. Tokoh desa kemudian menghadap ke Cokorda Tabanan untuk mohon solusi. Mereka berharap Cokorda Tabanan bisa memberikan semacam pusaka untuk menangkal wabah dan hama tersebut. “Cokorda Tabanan mengatakan, untuk apa Pasek mencari pangijeng berupa keris atau tombak, itu kan buatan manusia. Di hulu Desa Galiukir, ada berupa Babaturan. Itu saja sungsung dan sucikan, ngaku agem, sanggup menyucikan Ida Bhatara bersama seluruh masyarakat, pasti Pasek selamat,” ujarnya menirukan petunjuk Cokorda Tabanan.



Atas petunjuk tersebut, para tokoh desa pun pulang ke Galiukir. Setelah mencari, akhirnya ditemukan Babaturan di Pura Batur sekarang. Babaturan tersebut kemudian disengker atau dipagari dengan Kembang Sepatu. Sesuai petunjuk, masyarakat kemudian nyungsung dan menyucikan Ida Bhatara yang berstana di Pura Batur tersebut. Dihaturkan piodalan setiap Purnama Kadasa. “Akhirnya tanaman kembali selamat dan masyarakat kembali sehat. Demikian pula orang-orang yang datang belakangan ke Galiukir diarahkan nyungsung di Pura Batur. Setelah itu, barulah dirangkul menjadi bagian masyarakat Galiukir,” tandas mantan Bendesa kelahiran 1930 itu.



Sementara itu, Gede Nyoman Sukarta selaku Jro Mangku Batur Galiukir menuturkan, batu tersebut sempat ingin dipindahkan. Dikisahkan, saat penghuni Desa Pakraman Galiukir baru sekitar 50 kepala keluarga, masyarakat khawatir akan terjadi erosi. Maklum, desa berada di kawasan perbukitan. Masyarakat pun telah merencanakan lokasi desa yang baru, yakni di kawasan Dauh Pangkung. Letaknya tak begitu jauh dari lokasi desa saat ini, tepatnya di seberang sungai. Pun sudah dibuatkan setra atau kuburan di tempat itu. “Bahkan sudah ada yang dikubur di sana,” ungkapnya.



Perpindahan desa juga diikuti perpindahan pura atau kahyangan. Tak terkecuali Pura Batur. Masyarakat pun berusaha memindahkan palinggih berupa batu tersebut. Caranya, dengan dipikul beramai-ramai. Di tengah perjalanan, masyarakat harus melintasi sungai kecil yang dinamakan Pangkung Kayu Sambuk, tepatnya di campuhan atau pertemuan dua buah aliran sungai batu tersebut tenggelam. Akibatnya masyarakat tidak bisa melanjutkan pemindahannya. “Tapi anehnya, besoknya batu itu kembali ke tempat semula, tanpa ada yang memindahkan,” tuturnya.



Tak menyerah, masyarakat kembali memikul batu tersebut untuk dipindahkan. Tiba di lokasi yang sama, masyarakat tidak bisa lewat. Batu tersebut keesokan harinya kembali ke tempat semula. Berkenaan dengan hal itu, masyarakat akhirnya mengurungkan rencana pindah. “Mungkin Beliau tidak berkenan pindah atau mungkin itu pertanda Desa Galiukir ini tetap aman,” ujarnya.



Berdasar cerita tersebut, keyakinan penduduk kian mantap terhadap kesakralan Pura Batur. Jro Mangku sendiri mengaku, dirinya sempat bermimpi dua kali terkait palinggih batu tersebut. Dalam mimpinya, ia melihat anak kecil yang menunjukkan berbagai perhiasan emas dan permata. Ada gelang, kalung, dan sebagainya. “Serba mewah,” katanya.



Hal itu menurutnya terkait dengan sebutan Batu Keben terhadap palinggih itu. Keben atau sok kasi merupakan sejenis tempat menyimpan persembahan atau barang berharga. Umumnya, berupa anyaman bambu berbentuk kubus. “Keben atau sok kasi itu sebagai tempat menyimpan harta benda, atau simbol kehidupan, jadi serba indah secara niskala,” katanya.



Kepercayaan tersebut, juga diperkuat dengan berbagai keberhasilan penduduk yang diperoleh berkat sembahyang dan memohon di pura itu. Ada yang memohon petunjuk penyelesaian permasalahan, kesembuhan, hingga masalah pekerjaan. “Jadi, banyak yang memohon di pura ini dan berhasil. Itu bukti Beliau mahapengasih dan pemurah. Banyak yang mengucapkan terima kasih kepada tiang, tapi tiang bilang bersyukurlah kepada Tuhan. Tiang hanya sebagai perantara,” kata Jro Mangku, 75 tahun itu.



Adapun mandala pura tersebut tidak dibagi secara nyata dengan pagar. Pasalnya, menjadi satu areal yang hanya ditandai dengan perbedaan tinggi fondasi. Selain palinggih utama berupa babaturan, ada juga sejumlah palinggih lain, yakni Pasimpangan Duur Kebonjero, Pelik atau Pasamuhan, Taksu, Manik Galih, Sri Sedana, Meru Tumpang Tiga sebagai pasimpangan Dewi Danu, Padmasana, Manjangan Saluwang, Piasan, Bale Agung, dan Pangrurah. Terdapat pula Bale Pawaregan. Tak ketinggalan Jro Gebag dan Jro Kemit di tempat masuk pura.



Disinggung mengenai nama yang berstana di palinggih babaturan tersebut, Jro Mangku mengatakan, Ida Ratu Gede Batur Agung Sakti. Beliau konon merupakan Dewa Wisnu itu sendiri, yang memelihara dunia beserta isinya. “Jadi, beliau kan sosok pemelihara dan pelindung,” tegasnya, seraya mengatakan pura tersebut sempat dimanfaatkan sebagai Pura Puseh sebelumnya.
Mengenai acinya, lanjutnya,  senantiasa ageng, berupa taman pulagembal babangkit setiap Purnama Kadasa. Pura Batur ini juga berkaitan erat dengan Pura Batur Dayang di Desa Galiukir. Jika Pura Batur adalah sosok purusha, maka Batur Dayang adalah sosok pradhana. Di Pura Batur Dayang dipuja Dewi Sri Sedana. Oleh karena itu, selain di Pura Batur, dihaturkan juga aci di Pura Batur Dayang pada saat Purnama Kadasa. Termasuk pada Purnama Kapat, dipersembahkan hasil panen. Menariknya, tiap piodalan juga dilakukan tradisi pergantian panitia piodalan atau ‘Saya’ melalui banten Cane. 


 

Editor : I Putu Suyatra
#pura