Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sanggar yang Sudah Ada Sejak 1926, Kisahkan Pasangan LDR

I Putu Suyatra • Sabtu, 14 Juli 2018 | 01:47 WIB
Sanggar yang Sudah Ada Sejak 1926, Kisahkan Pasangan LDR
Sanggar yang Sudah Ada Sejak 1926, Kisahkan Pasangan LDR

BALI EXPRESS, DENPASAR - Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh tidak hanya bisa dituangkan dalam dunia film. Namun bisa juga dalam pementasan seni tari dan tabuh. Seperti yang ditampilkan oleh Sekaa Kerawitan Eka Wakya, Kelurahan Paket Agung, Buleleng di Pesta Kesemian Bali (PKB).


 


Kelihan sekaa sekaligus pembina, I Made Astawa menjelaskan sebagai Duta Kabupaten Buleleng pihaknya menampilkan gebyar angklung kreasi. Namun berbeda dengan angklung Bali Selatan, lantaran daun gambelan terdiri atas tujuh buah. “Di sini kami menampilkan tari kreasi kepayang, yaitu mengisahkan pasangan yang menjalankan hubungan jarak jauh,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (13/7).


Bukan hanya itu, ia juga memaparkan gambelan angklung yang digunakan berbeda dengan angklung daerah Bali selatan. Dikarenakan jumlah daun gambelan yang berbeda, juga dapat ditemui perbedaaannya pada suara dan khas mirip gong kebyar.


Dalam kesempatan tersebut, Astawa menjelaskan menampilkan tarian kreasi yang berjudul kepayang. “Tari kreasi ini mengisahkan seseroang yang ketika cinta terpisah oleh jarak, ruang dan waktu atau yang disebut dengan LDR. Karena begitu jauh hanya ada dalam hayalan, hasrat membalutan kerinduan untuk bertemu kepada sang kekasihnya yang lama tak bertemu,” terangnya.


Lanjut Astawa, ketika kedua insan tersebut sudah bertemu, rasa rindu yang terpendam begitu besar tercurah dan dilanda asmara. Saat itulah seakan membuat mabuk kepayang seolah-olah dunia milik mereka berdua. Namun diceritakan juga dibalik itu masing-masing ada rasa cemburu yang menghantui, karena lama tidak bertemu.


Diekspresikan juga dalam penampilan tersebut rasa curiga dan emosi mereka muncul, sehingga pertengkaran membumbui kerinduan mereka berdua. “Namun karena kuatnya rasa cinta yang didasari rasa keterbukaan dalam saling percaya, membuat semua gejolak hati penuh emosi reda dan menjadi sirna. Akhir cinta mereka tumbuh subur dan bahagia saling memadu kasih,” papar Astawa.


Sanggar yang baru memiliki gambelan angklung setahun ini mampu menunjukkan kemampuannya, sehingga bisa tampil di PKB. Namun sanggarnya tersebut sudah berdiri sejak 1926 sekaligus sebagai sekaa gong di desa setempat. Terlebih prasasti sejarah sekaa gongnya itu didapatkan oleh salah satu peneliti di Museum Belanda.


“Awalnya ada orang Belanda yang meneliti gong di sanggar kami, karena mencari sejarah gambelan sehingga ditemukan prasasti gambelan kami di Museum Belanda. Bahwa sekaa gambelan ini sudah ada sejak 1926 tahun lalu,” imbuhnya.


Disinggung terkait persiapan dalam penampilan tersebut, Astawa mengaku sudah mulai latihan sejak April empat bulan lalu. Dengan melibatkan 28 penabuh dan 14 orang penari, sanggar yang berasal dari Bali Utara itu mampu menarik perhatian pengunjung yang datang.


Salah satu penonton, I Made Yogi Dharma saat diwawancarai menjelaskan baru pertama kali ia melihat daun angklung yang persis gong kebyar. “Tumben saya melihat gambelan angklung yang jumlah daun dan bentuknya hampir mirip dengan gong kebyar. Namun yang membedakan hanya bunyinya saja mengarah ke bunyi angklung dan lebih condong ke tabuh keras,” imbuh Yogi. 

Editor : I Putu Suyatra
#pkb