BALI EXPRESS, DENPASAR – Seni tari klasik berupa Tari Gandrung dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40. Tidak tanggung-tanggung, Sekaa Eka Budaya, Banjar Ketapian Kelod, Sumerta, Denpasar, ini menampilkan tarian yang disakralkan di desa setempat. Terlebih penarinya wajib ikut prosesi panuuran dan harus anak-anak di kalangan SD sampai SMP saja.
Koordinator sekaa, I Made Sudiana saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) mengungkapkan tarian gandrung tidak boleh ditarikan sembarangan orang. Karena harus melalui beberapa proses, baik dari mencari calon penari hingga upacaranya. “Ini merupakan kesenian tari klasik yang langka, begitu juga penarinya bukan sembarangan orang. Prosesnya juga ada beberapa tahap dan wajib anak yang baru kelas V SD sampai SMP,” tandasnya di areal Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar Kamis (19/7).
Adapun proses yang harus dilakukan untuk mendapatkan penari yang tepat, ia memaparkan mulai dari menentukan anak-anak yang akan dipilih. Kemudian dibersihkan secara rohani maupun fisik dengan cara dilukat di sebuah pantai ataupun griya. Setelah itu barulah diajak ke pura desa setempat, lokasi gelungan Gandrung dilinggihkan.
Dalam kesempatan itu, Sudiana mengungkapkan anak-anak diupacarai penuuran dengan menggunakan banten dan tradisi yang ada. Yaitu dilakukan padudusan menggunakan asepan di hadapan upakara dan krama Banjar Ketapian Kelod. Ketika ada anak-anak yang kerauhan, itu dikatakan orang yang dilinggihkan oleh sasuhunan dan dipilih sebagai penari Gandrung.
Prosesi panuuran tersebut juga dilaksanakan setiap penari sebelumnya sudah banyak yang tidak bisa menari, lantaran sudah beranjak dewasa ataupun menikah. Maka prosesi itu harus dilakukan beberapa hari sebelum tarian itu dipentaskan. Baik dalam ngayah piodalan di pura ataupun event besar seperti PKB saat ini.
“Pentas di PKB saat ini merupakan pementasan kami yang keempat kali dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk sekarang kami membawakan empat materi, yaitu Tabuh Kesiar, Tari Surya Kanta, Tari Telek, dan Tari Gandrangan,” terang pria asli Denpasar tersebut.
Sudiana menjelaskan, tabuh kesiar berarti bersinar terang. Sinar itulah yang akan menghilangkan rasa kegelapan para pendengarnya di Dunia ini. Sehingga bagi siapa yang mendengar tabuh itu dikatakan akan secara otomatis rasa kegelapan akan berubah menjadi hening dan damai.
Begitu pula dengan tari surya kanta, ia mengartikan surya adalah sinar sedangkan kanta merupakan bersunar galang atau terag benerang. Dapat dikatakan surya kanta berarti sinar yang selalu terang benderang tidak pernah redup. Dengan demikian palegongan dan gandrung tidak akan pernah redup. Karena terus munculnya jenis-jenis tari palegongan yang baru.
Sedangkan disinggung tarian telek, Sudiana menjelaskan sebagai tarian yang sakral dan biasanya dipentaskan untuk ritual keagamaan umat Hindu. Namun untuk tari gandrangan, dikatakan bahwa sebagai tarian pergaulan namun sangat sakral. Terlebih pada zaman terdahulu penarinya adalah laki-laki dan dapat mempersatukan antar banjar.
Pada tempat yang sama, salah satu penari Gandrung bernama Ni Kadek Ulan Pradnya mengaku sudah menari gandrung sejak setahun lalu. Ia juga menceritakan sebelumnya sudah mengikuti tradisi panuuran agar bisa menarikan tari sakral tersebut. “Ikut prosesi panuuran juga sudah setahun lalu, tepat sebelum menari menggunakan gelungan yang disucikan itu. Saat panuuran juga saya kerauhan dan sampai saat ini setiap pentas pasti kerauhan di akhir menari,” jelas siswi kelas empat SD tersebut.
Semenjak ikut panuuran, Kadek Ulan panggilan akrabnya mengaku pantang makan daging berkaki empat. Ketika dilanggar, ia menjelaskan dirinya pusing yang tidak karuan. Sedangkan ditanya untuk persiapan pentas di PKB saat ini, ia mengaku hanya mempersiapkan sejak dua bulan lalu. Mereka terdiri atas 15 penari dan 16 orang penabuh tampat menarik perhatian pengunjung, dan menggetarkan Kalangan Angsoka, Art Center.
Editor : I Putu Suyatra