Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna dan Jenis Tebu pada Mobil Pengantar Pengantin di Bali

I Putu Suyatra • Jumat, 27 Juli 2018 | 18:51 WIB
Begini Makna dan Jenis Tebu pada Mobil Pengantar Pengantin di Bali
Begini Makna dan Jenis Tebu pada Mobil Pengantar Pengantin di Bali

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernahkah Anda memperhatikan mobil yang digunakan pengantin di Bali? Berbeda dengan mobil pengantin pada umumnya. Mobil pengantin di Bali tak dihiasi dengan pita ataupun bunga, melainkan hanya dihiasi beberapa ikat tebu di sisi kanan dan kirinya. Kenapa harus tebu?


Tebu di mobil yang digunakan pengantin  tak hanya sekadar hiasan. Ada doa serta makna tersirat dalam  pada upacara Pawiwahan (pernikahan).


Dalam kepercayaan Hindu di Bali, Tebu merupakan salah satu perlengkapan upakara yang sering digunakan. Tebu juga merupakan sebuah simbolisasi dari Nyasa Amerta, yakni yang menyempurnakan manusia sehingga dapat beraktivitas. Selain memiliki Sabda, Bayu, dan Idep, manusia juga perlu memiliki Nyasa Amerta sebagai pelengkap. Selain sebagai pelengkap upakara, Tebu juga kerap digunakan dalam upacara manusia yadnya, salah satunya upacara Pawiwahan. Menariknya, dalam rangkaian upacara manusia yadnya, Tebu dipasang dan digantungkan pada bagian depan kendaraan pengantin.



Tebu dinilai memiliki filosofi yang sangat baik. Batangnya terasa manis, bahkan dari ujung  pangkal hingga ke ujung lainnya. Lantas, mengapa dalam upacara pawiwahan tebu digunakan sebagai simbolisasi? Menurut Sulinggih muda, Ida Mas Dalem Segara, kedua mempelai diharapkan akan menjalani kehidupan rumah tangga yang selalu manis seperti Tebu. Selain itu, Tebu juga digunakan sebagai peringatan. Kenapa disebut peringatan? " Ada pepatah, habis manis sepah dibuang. Nah itu peringatan bagi kedua mempelai, agar hidup berumah tangga hingga akhir hidup. Artinya tidak habis manis sepah dibuang," ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin di Denpasar.


Pemasangan Tebu di kendaraan biasanya dilakukan ketika  mengantar pengantin ke rumah mempelai wanita untuk berpamitan. Selain itu, pemasangan tebu di kendaraan  tak dilakukan sembarangan. Jenis Tebu yang digunakan juga  tertentu, seperti Tebu Ratu, Tebu Malem, Tebu Hitam, Tebu Tiying, dan Tebu Swat. "Ya ada aturan khusus dalam pemasangan Tebu pada kendaraan pengantin. Tebu yang digunakan boleh Tebu Malem atau Tebu Kuning. Dan, yang digunakan hanya bagian tertentu, yaitu 1,5 m dari pucuk daun hingga batang tebu. Tebu tersebut dipasang di spion kanan dan kiri mobil pengantin," papar Ida Mas Dalem.


Selain agar kehidupan kedua mempelai terasa manis, penggunaan Tebu juga dianggap sebagai simbol sebuah kehidupan baru yang dijejaki kedua belah pihak. "Menikah itu artinya memulai hidup baru. Bukan hanya untuk mempelai pria, hal itu juga untuk mempelai wanita. Makanya disimbolkan dengan Tebu," ujarnya.


Tebu yang merupakan varietas tumbuhan berumpun ini, tergolong tumbuhan yang cukup mudah dikembangbiakkan. Tebu juga dikenal sebagai tumbuhan yang kuat. " Dari segi filosofi, Tebu itu kan mudah tumbuh di mana saja asalkan ada tanah. Pemeliharaannya juga mudah. Nah, kita semua berharap agar kedua mempelai mudah beradaptasi dalam menjalani biduk rumah tangganya.  Menikah pasti banyak rintangan yang akan dihadapi. Ketika susah datang,  semoga kedua mempelai tetap kuat dan tetap bersatu," ungkapnya.


Sifat pohon tebu lainnya,  makin diperas makin bertambah manisnya. Ini dimaksudkan agar kebencian dibalas dengan kasih sayang dalam kehidupan bersuami istri. Kalau sang suami memarahi sang istri, maka sang istri membalas dengan nada yang mampu melenyapkan kemarahan sang suami. Dengan demikian hidup rukun suami istri bisa tercapai.


Di sisi lain, lanjutnya, dari segi niskala yang melaksanakan upacara pawiwahan dianggap leteh atau cuntaka. Untuk menetralisasi unsur negatif secara niskala. "Mereka yang menikah dan bayi yang baru lahir, biasanya disenangi oleh mereka yang tak terlihat secara sekala. Jadi, Tebu dianggap sebagai salah satu yang dapat menetralisasi. Kalau orang tua dulu menganggap Tebu itu sebagai makanan penggantinya,  padahal bukan makanan, hanya penetralisasi," ujarnya.

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu