Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Khusus Mohon Petunjuk Niskala di Dekat Tempat Pembuangan Mayat

I Putu Suyatra • Kamis, 16 Agustus 2018 | 14:30 WIB
Tempat Khusus Mohon Petunjuk Niskala di Dekat Tempat Pembuangan Mayat
Tempat Khusus Mohon Petunjuk Niskala di Dekat Tempat Pembuangan Mayat


BALI EXPRESS, DENPASAR - Jika Anda tinggal di seputaran wilayah Denpasar, Pura Gria Taman Asih tentu tak begitu asing. Apalagi letaknya di sisi kiri jembatan di Jalan Gunung Agung, Denpasar yang  selalu terlihat ramai. Apa istimewanya kawasan suci ini?


Pura Gria Taman Asih merupakan sebuah pura pasimpangan. "Meski Berdiri di areal kurang dari setengah are, namun diyakini punya fungsi vital karena sebagai penjaga niskala di wilayah tersebut," papar pemangku Pura Gria Taman Asih, Jero Mangku Wayan Sumarma kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Dikatakannya, dahulu sungai yang ada di bawah jembatan merupakan perbatasan antara wilayah Pemecutan Utara dan  Desa Tegal Kerta. Sungai tersebut dikenal sangat angker, sering terdengar bunyi – bunyian aneh tanpa ada wujud yang terlihat. Ketika malam menjelang tak ada satu warga pun yang berani melintas di wilayah tersebut. Dikatakannya, dahulu tempat ini memang dikenal angker, tak ada yang berani melintas karena sungai  digunakan sebagai tempat pembuangan abu jenazah usai Ngaben (Ngayud).


"Tak hanya abu jenazah yang dibuang. Ketika zaman penjajahan,  zaman G30S/PKI, sungai itu satu – satunya akses untuk membuang  jenazah korban pertikaian,” ujarnya. Namun, seiring perkembangan zaman, wilayah tersebut kini dipadati oleh pendatang. Dahulu sebelum ada perumahan, tempat ini sunyi.  Setelah mulai padat penduduk akhirnya jembatan dipugar jadi semakin baik, namun masih saja ada yang mengaku takut dan sering melihat sosok sosok menyeramkan.  Karena itu, lanjutnya, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Pura Gria Taman Asih agar yang berstana di kawasan itu, juga rencang – rencangnya tidak mengganggu. 



Jero Mangku Sumarma mengakui,  sejak didirikannya pura tersebut di awal 70 – an, lokasi tersebut kian aman. Sosok – sosok yang dianggap mengganggu tak lagi sering terlihat. “Sejak awal ngayah di sini, banyak yang mengaku lebih tenang jika melewati areal ini, terutama di malam hari. Sudah jarang mendengar pengalaman seram masyarakat sekitar tentang tempat ini. Itu artinya beliau benar – benar tedun macingak  melindungi kita,” ujarnya tersenyum.


Dijelaskannya, Pura Gria Taman Asih awalnya dibangun oleh bendesa adat. Pada mulanya hanya ada sebuah palinggih Ratu Niang Sakti yang digunakan juga sebagai palinggih wates desa ketika itu. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pergolakan secara niskala, karena ternyata yang malinggih (berstana) tak hanya Ratu Niang Sakti. Namun, malinggih juga Ratu Gede Dalem Peed yang di Nusa Penida,  Ratu Lingsir, Ida Ratu Mas, Ratu Bagus, dan Bhatara Tirta.



"Bendesa adat, masyarakat sekitar dan  kami selaku pangempon pura akhirnya sepakat  membuatkan palinggih khusus di sini,” ujarnya.



Ia juga menambahkan, sejak belasan tahun lalu pura tersebut tak lagi diempon Desa Pakraman, hanya menjadi bagian wiwekan Desa Pakraman Padangsambian. “Tanggung jawab mengempon pura ini memang sudah dialihkan. Dahulu saya dan keluarga hanya ngiring, tapi dari pihak desa pakraman akhirnya memberikan kepercayaan kepada kami untuk bertanggung jawab dan ngempon pura ini,” ujarnya.



Pura yang piodalannya  di Anggara Kasih wuku Julungwangi ini, dipercaya sebagai tempat untuk nunas baos  ( mohon petunjuk) dan tamba (obat). “Banyak yang datang untuk nunas macem – macem. Ada yang nunas tamba, nunas taksu biasanya penari dan juru dalang. Ada juga yang nunas (memohon) agar rejekinya dilancarkan. Tapi yang paling sering mereka ke sini nunas baos atau Maluasin,” tuturnya.



Dijelaskan lebih jauh, Maluasin merupakan kegiatan spiritual dengan cara menghubungkan anggota keluarga  dengan mereka yang telah tiada agar dapat berkomunikasi. “Biasanya ritual itu dilakukan dengan bantuan balian atau orang pintar. Nah di sini siapa saja bisa menjadi mediumnya, tergantung beliau yang menunjuk,” ujarnya. Menurutnya, mereka yang datang Maluasin biasanya untuk keperluan khusus. “Biasanya yang datang untuk Maluasin adalah anggota keluarga yang meninggal salah pati, atau diberikan firasat dan mimpi tertentu dari keluarga yang telah meninggal. Jadi, mereka ingin berkomunikasi dengan keluarga yang telah meninggal," bebernya.



Hal itu dilakukan, lanjutnya, untuk mencaritau apakah yang bersangkutan (yang telah meninggal) masih memiliki kepiutangan ataupun urusan yang belum selesai ketika masih hidup.
Pura yang terletak di sisi kiri sebuah jembatan ini, lanjutnya, merupakan sebuah griya sekaligus Pura Taman. 



“ Kalau dari segi letaknya, pura ini seperti beji. Namun, secara niskala pura yang hanya berukuran 3 x 4 meter persegi ini merupakan sebuah taman yang luas. Itulah mengapa tempat ini dulu banyak gangguan yang kasat mata, karena mereka yang tak terlihat suka berkeliaran di areal ini. Walaupun kadang mereka tak berniat mengganggu, hanya sekadar lewat. Namun, seseorang  yang kebetulan satu frekuensi pasti kaget dan akhirnya berefek terjadi kecelakaan,” ungkapnya.



Ia menambahkan, bagi rencang – rencang (pengawal gaib) Ida yang  tinggal di areal itu, Pura Gria Taman Asih merupakan sebuah gria. “ Ya, bagi mereka pura ini griya-nya. Tempat mereka berkumpul ataupun berbakti kepada Ratu Niang Sakti dan Ratu Gede Dalem Peed sebagai sungsungannya. Makanya  pura ini disebut Pura Gria Taman Asih,” ungkapnya.



Ditekankannya, semua persembahan yang dihaturkan secara tulus iklas akan diterima oleh beliau, asalkan jangan yang berbahan dasar daging sapi. “Yang penting jangan daging sapi ya, selain itu boleh,” ungkapnya. Pura Gria Taman Asih memiliki tiga buah palinggih dan satu buah Gedong Ageng. Di mana  dua buah palinggih terletak di sisi luar, dan dua buah palinggih dan sebuah Gedong Ageng di sisi dalam. Di dalam Gedong Ageng terlihat dua buah tapakan  berupa Rangda, Barong, dan sebuah topeng sakral yang diletakkan di sebuah pelangkiran. 
Terakhir, Jero Mangku Sumarma ingin mengajak masyarakat Bali untuk kian peduli akan keberadaan pura yang ada di Bali.


“Peduli bukan berarti harus ikut ngayah, peduli dalam artian kita bersama – sama menjaga kesucian pura serta kebersihannya. Paling tidak sehabis mabakti buang canangnya di tempat sampah. Ke pura manapun yang kita kunjungi kalau setiap orang sadar, maka orang lain pasti akan malu berlaku semaunya buang sampah sembarang di tempat suci,” tandasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#pura #sejarah pura