Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Trance Usai Tarian Rejang Sandat Ratu Segara Disebut Ciri Sakral

I Putu Suyatra • Senin, 20 Agustus 2018 | 03:34 WIB
Trance Usai Tarian Rejang Sandat Ratu Segara Disebut Ciri Sakral
Trance Usai Tarian Rejang Sandat Ratu Segara Disebut Ciri Sakral

BALI EXPRESS, TABANAN - Waktu yang ditunggu-tunggu tiba, antusias warga pun membludak. Bagaimana tidak, pementasan Tari Rejang Sandat Ratu Segara pada Pembukan Tanah Lot Art and Food Festival #2 2018, Sabtu (18/8) memang sudah dinanti-nanti sejak lama. Hanya saja meskipun sukses dipentaskan, saat para penari hendak membubarkan diri, satu per satu penari mengalami kerauhan hingga berjumlah ratusan orang.


Usai pementasan, Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti mengatakan bahwa Tari Rejang Sandat Ratu segara telah sukses dipentaskan di areal Luhur Pura Tanah Lot, dimana tarian ini merupakan tarian karya agung yang bersifat sakral sebagai bentuk rasa syukur dan memohon kasih dan sinar suci dari Ratu Segara sehingga bisa disebut tarian pengajeg jagad. Seperti sifat sang Ibu, agar alam lebih harmonis suci dan semua dilandaskan akan kasih. "Semoga tarian ini bisa menjadi moment yang memorable dan tidak terlupakan baik masyarakat dan rakyat Tabanan bahwa karya agung yang luarbiasa ini dipersembahkan untuk sekala dan niskala, alam ternsenyum maka umatpun akan saling kasih dan tersenyum," tegasnya.


Dirinya menambahkan, adanya sejumlah penari yang kerauhan atau trance pada akhir tarian merupakan ciri bahwa tarian ini sakral dan Beliau menunjukkan Taksu dan kekuataanya sebagai bentuk kebesaran beliau.


"Trance merupakan sesuatu yang positif karena di tempat-tempat suci pun Beliau akan menampakkan vibrasinya sebagai wujud bahwa beliau ada dan Beliau Maha Besar," sambung Bupati Eka.


Namun hal tersebut tidak membuat makna pementasan Rejang Sandat Ratu Segara berkurang, karena acara tersebut memang sudah ditunggu-tunggu, sehingga dalam sejarah Tabanan tidak pernah macet sampai 4 jam karena membludak dan antusiasnya wisatawan dan masyarakat yang menonton.


Sehingga dirinya berharap hal tersebut bisa diwariskan dan dilanjutkan oleh seluruh umat, seluruh generasi muda yang ikhlas dan berkeinginan untuk memberikan pengabdian atau ngayah dalam bentuk tarian yaitu Rejang Ratu Segara yang menjadi suatu kemasan yang sakral dan mengedepankan nilai ketulusan keiklasan dalam Seni Budaya.


Tak hanya itu saja, pementasan Tari Rejang Sandat Ratu Segara juga berhasil meraih Rekor MURI. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #tabanan