BALI EXPRESS, DENPASAR - Bertepatan dengan Pemkab Tabanan menghaturkan Guru Piduka di Pura Luhur Tanah Lot, Kamis (23/8), sejumlah siswi yang ikut menari Tari Rejang Sandat Ratu Segara di beberapa sekolah juga kembali mengalami kerauhan atau trance. Di antaranya terjadi di SMAN 1 Kediri, SMK Gandhi Usada dan SMPN 1 Marga.
Kepala SMAN 1 Kediri, I Wayan Sutaya menjelaskan bahwa pihaknya pun tidak menyangka jika ada siswinya yang kerauhan, karena pada pagi hari para siswi tersebut beraktifitas seperti biasa. Namun sekitar pukul 10.30 wita, satu per satu siswi yang sedang mengaku kegiatan belajar mengajar di dalam kelas mulai kerauhan. Ada yang berteriak, menangis histeris, dan menari.
“Waktu menjelang jam istirahat pertama sekitar pukul 10.30 wita, satu per satu mulai kerauhan,” ujarnya.
Bahkan kata dia, siswi yang tidak ikut menari Tari Rejang Sandat Ratu Segara pun ada yang ikut kerauhan. Sehingga pihaknya terpaksa memulangkan para siswa lebih awal agar situasi kondusif.
“Sampai siswa yang tidak ikut menari ada juga yang kerauhan, mungkin karena terkejut. Sampai kami kewalahan menangani dan sekitar pukul 11.00 wita kami pulangkan siswa untuk belajar dirumah,” lanjutnya.
Ada juga siswanya yang sampai harus dilarikan ke UGD BRSU Tabanan. Hal itu dilakukan karena memang ada siswa yang harus dilakukan pemeriksaan medis.
Karena peristiwa tersebut pihaknya sampai tidak berani meninggalkan sekolah padahal harus mengikuti upacara Ngaturang Guru Piduka di Pura Luhur Tanah Lot. Sehingga pihaknya hanya menunggu tirta saja.
“Mudah-mudahan setelah itu situasi menjadi normal dan kita bisa mengajar dengan tenang dan anak-anak juga bisa belajar dengan nyaman,” harapnya.
Sejumlah siswi di SMPN 1 Marga juga mengalami kerauhan. Menurut salah seorang siswa, kerauhan pertama kali dialami oleh siswa di Kelas IX J. Siswa yang kerauhan tersebut awalnya merasa ada yang mengawasi sehingga tidak tenang saat mengikuti pelajaran. “Lalu salah satu saya merasa pusing dan lemas, kemudian langsung menangis,” ujar siswa tersebut.
Kemudian siswa tersebut langsung dibawa ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru, para siswi lainnya yang ikut menari Tari Rejang Sandat Ratu Segara mulai menangis dan kerauhan. “Ada yang teriak-teriak, ada yang menari. Dan kerauhan berlanjut sampai ke kelas VII dan VIII yang baru datang, ” lanjut siswa tersebut.
Di sisi lain, banyak video siswa kerauhan yang beredar di media sosial. Salah satunya video siswi SMK Gandi Usada. Dalam video itu menunjukkan seorang siswa lengkap dengan seragam sekolah dalam keadaan kerauhan dan menari. Didampingi seorang pria yang mencoba berkomunikasi dengan siswi tersebut, nampak siswi yang sudah berada di alam bawah sadarnya dengan berbahasa Bali meminta pihak sekolah segera menghaturkan Guru Piduka di Pantai Tanah Lot yang ditujukan kepada Ratu Pantai Selatan dan dihaturkan oleh Jero Mangku Gede Tanah Lot. Bahkan Guru Piduka harus dihaturkan hari itu juga karena jika tidak maka salah seorang siswa akan menjadi tumbal.
Sementara itu, usai menggelar Guru Piduka, Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti menyampaikan bahwa ritual tersebut digelar sebagai ucapan terimakasih dan permohonan maaf pasca pagelaran Tari Rejang Sandat Ratu Segara yang melibatkan 1.800 penari di Tanah Lot. “Prosesi ini sebagai bentuk puji syukur ke hadapan Beliau, karena sesolahan memargi antar, selamat rahayu tampil dengan baik,” ungkapnya.
Kata dia, ritual tersebut juga untuk memohon pamit bagi para penari, karena saat tarian usai dipentaskan, ada penari yang belum sempat pamit. Sehingga, pihaknya secara global mewakili permohonan tersebut. Dimana dalam ritual ini, juga dihadiri oleh para kepala sekolah, camat, serta yang lainnya.
“Kita juga langsung nunas pekuluh dan melukat. Saya pun tadi juga melukat,” sambungnya.
Menurutnya, di setiap upakara besar pasti digelar upakara tersebut sebagai bentuk permohonan maaf jika telah membuat kesalahan secara tidak disengaja. “Mungkin saja ada dari panitia ada yang bicara tidak benar atau penari yang cuntaka (kotor kain, Red) ikut menari, sehingga saya memohon maaf kehadapan Beliau, semoga rahayu, selamat, dan bersih,” lanjut.
Di sisi lain terkait penari yang kerauhan, menurut Bupati Eka, hal tersebut juga disebabkan oleh adanya unsur X (bebainan) yang kemudian terkena unsur positif dari tarian sakral tersebut sehingga menyebabkan unsur negatif keluar dari tubuh si penari.
“Ada juga yang disebabkan karena penari ada yang cuntaka, akan tetapi mereka ingin sekali menari, mengingat persiapan selama empat bulan untuk ikut menari. Mereka ingin ikut ngayah dan tampil. Ya kita juga harus pahami itu. Dan yang terakhir, memang ada yang kepingit atau dasarnya memang disenangi yang artinya calon-calon yang akan ikut ngayah,” paparnya.
Ia juga mengungkapkan, tarian ini memang ada gambelan Jawa dan Bali karena dua pulau tersebut adalah poros Nusantara. Dimana yang selalu mengadakan yadnya dan upakara Bali yang merupakan poros secara niskala. Sedangkan untuk porosnya sekala atau pemerintahannya terdapat di Tanah Jawa.
“Jadi mudah-mudahan dengan kita Mendak dari Jawa ke Bali, dan mampu menuntun beliau-beliau yang memimpin Nusantara ini, mudah-mudahan alam ini akan melahirkan keadilan dan kebenaran untuk semua umat,” tandas Bupati Eka.
Editor : I Putu Suyatra