BALI EXPRESS, DENPASAR - 70 orang bertelanjang dada memenuhi Panggung Terbuka, Arda Candra, Art Center, Sabtu malam (1/9). Mereka mementaskan Cak Rina yang berjudul Subali Sugriwa. Pertunjukkan mereka pun mampu membuat penonton terkagum dan bertepuk tangan lantang.
Ketua Sanggar sekaligus maestro cak, Ketut Rina kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, pementasan kali ini sedikit berbeda dengan penampilan saat Pesta Kesenian Bali (PKB) beberapa waktu lalu. "Kecak itu selalu ada perbedaan, seperti gerakan maupun cerita. Tetapi perbedaan tersebut akan menyatukan dan menyelaraskan cak sendiri," ujar Rina.
Lanjut dia, dirinya mengaku sangat prihatin dengan keadaan negara Indonesia saat ini. Yaitu masih adanya pertikaian dihasilkan oleh perbedaan yang ada. Jadi dengan pementasan Cak Rina tersebut menggambarkan keadaan yang sekarang terjadi.
Dalam pementasannya, mereka tampak memainkan bola api ke sana-kemari. Bahkan nyala api itu menambah suasana yang enerjik menembus malam. Hal itu dipecah dengan pertempuran yang sangat dahsyat, antara dua kera bersaudara yaitu Sugriwa dan Subali.
Rina menambahkan, jika sudah pernah tampil di suatu tempat caknya akan selalu menampilkan sesuatu yang berbeda. Sehingga tidak terlihat monoton bila ditonton oleh masyarakat. "Saat pementasan sebenarnya saya mau masuk ke kolam, namun tidak memungkinkan maka saya tidak jadi," papar pria asli Peliatan, Ubud, Gianyar tersebut.
Dalam sinopsisnya, perkelahian bermula saat Subali bertempur melawan raksasa Mahesasora di sebuah goa. Sebelum bertempur, mereka berpesan kalau darah putih yang keluar dari dalam goa maka Subali yang gugur, dan jika yang keluar darah merah maka Mahesasora yang gugur.
Saat itu, ternyata yang keluar adalah darah putih sebenarnya adalah cairan otak dari Mahesasora. Sehingga Sugriwa menutup mulut goa dengan sebuah batu besar. Mengetahui hal tersebut, Subali marah besar dan setelah bisa keluar dari goa terjadilah pertempuran.
Rina menambahkan, caknya itu lebih menggunakan kehidupan masyarakat. Dan, pementasnya juga berbagai lintas generasi, mulai umur 6 tahun hingga 70 tahun. Karena ia tidak membatasi seseorang yang ingin terjun langsung ke seni cak tersebut.
Editor : I Putu Suyatra