Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tarian Wong Peken Gambaran Wong Samar di Pasar Tradisional Bali

I Putu Suyatra • Rabu, 26 September 2018 | 22:15 WIB
Tarian Wong Peken Gambaran Wong Samar di Pasar Tradisional Bali
Tarian Wong Peken Gambaran Wong Samar di Pasar Tradisional Bali


BALI EXPRESS, UBUD - Kisah adanya Wong Samar yang berstana di pasar tradisional di Bali, kini tak hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Kisah yang diangkat dari Lontar Kekawin Dwijendra Tatwa di abad ke 14 tersebut, kini diaplikasikan dalam bentuk karya seni gerak. Menariknya, yang membawakannya anak anak disabilitas (tuli dan bisu) .


Senja menjelang petang, kawasan Tegal Bingin, Banjar Tengkulak, Ubud, Gianyar, terlihat semakin ramai. Kawasan yang biasanya tenang dan begitu sunyi itu, malam kemarin terasa berbeda. Beberapa mobil terlihat berjejer rapi terparkir di pintu masuk House of Mask and Puppets Setia Dharma, Ubud. Kamis (20/9) lalu, dihelat acara khusus untuk mengenang dua tahun kepergian Prayitno sebagai pendiri House of Mask and Puppets Setia Dharma, Ubud.


Acara tersebut tak hanya dihadiri berbagai undangan, namun masyarakat sekitar juga hadir. Menariknya, pada puncak acara dihadirkan Tari Wong Peken yang ditarikan oleh delapn penari yang masing – masing merupakan penyandang tuna rungu (tidak dapat mendengar dan berbicara).
Menurut KoreograferJasmine Okubo, Tarian  Wong Peken terinspirasi oleh sejarah Bali pada abad ke 14. Kisah Wong Samar  yang tertulis pada Lontar Kakawin Dwijendra Tatwa itu, dibawakan dalam sebuah tarian dengan Wong Samar sebagai porosnya.



“Inspirasinya dari kisah Wong Samar yang konon katanya distanakan di pasar. Kita harus mengakui ternyata eksistensi Wong Samar itu memang ada, dan kami ingin menggambarkan secara niskala apa yang terjadi sesungguhnya di pasar,” ujar Jasmine Okubo yang juga pendiri Komunitas Kita Poleng.Wong Peken berasal dari dua kata, yakni Wong yang berarti orang, dan Peken yang berarti pasar. Jika diartikan secara harfiah, Wong Peken artinya orang pasar. “Wong Peken dalam bahasa Bali kuno disebut Wong Samar. Artinya orang yang tidak tampak dalam dimensi dunia nyata. Filosofinya bahwa para pedagang percaya Dewi Pasar yakni Dewi Melanting banyak membantu mereka dalam kegiatan perdagangan yang dilakukan.



Dewi Melanting lewat anak buahnya yang disebut Wong Samar, lanjut Jasmine,  membantu para pedagang menggiring pelanggan untuk mampir dan membeli dagangannya. Menurut Lontar Kekawin Dwijendra Tatwa diceritakan Dang Hyang Nirarta atau Peranda Sakti Wawu Rauh  mengajak serta keluarganya menjalankan misi menuju Bali. Disebutkan, Dang Hyang Biyang Ketut Istri Dang Hyang Nirarta dalam keadaan hamil besar merasa sangat kelelahan. Dengan kondisi tubuh yang membengkak dan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya Dang Hyang Biang Ketut memohon untuk diizinkan beristirahat selama beberapa hari. Dengan berat hati Dang Hyang Niararta menugaskan Ida Dyah Ayu Swabawa untuk tinggal dan menjaga ibunya. Ia berjanji akan kembali dan menjemput mereka setelah misinya berhasil. Selama dalam peristirahatan Ida Dyah Ayu Swabawa sangat senang membantu masyarakat desa sekitar. Karakternya yang cerdas serta ramah membuatnya begitu disayangi.


Ida Dyah Ayu Swabawa dikenal sangat mahir dalam berniaga. Ia mengajarkan bagaimana cara menjual barang yang baik, bagaimana cara menawarkan barang kepada pembeli. “Ia sangat cerdas. Karena kecerdasannya maka semua orang begitu menyayanginya,” ujarnya.



Selama bertahun – tahun utusan sang ayah belum juga datang menjemput, Ida Dyah Ayu dan ibunya semakin lama semkin cemas. Setiap hari Ida Dyah Ayu memanjat pohon untuk melihat apakah utusan ayahnya sudah datang untuk menjemput. “Karena ia selalu terlihat menaiki pohon kelapa yang tinggi dan bergelantungan atau berayun,  maka ia disebut juga Ida Dyah Ayu Melanting,” ungkapnya.



Namun, kecemasan yang semakin lama semakin menumpuk itu akhirnya membawa kekecewaan. Dang Hyang Biyang Ketut, memohon kepada dewata agar ia, putri, dan seluruh pengikut dan warga desanya diberi umur yang panjang tanpa terpengaruh waktu. “Beliau memohon hidup abadi karena ia takut ketika sang suami datang, ia bersama putra dan putrinya Ida Dyah Ayu Melanting tidak ada atau sudah meninggal. Maka itu beliau memohon untuk hidup abadi,” ujarnya.



Memang permintaan tersebut terkabulkan, Dang Hyang Biyang Ketut beserta putra bungsu dan putrinya Ida Dyah Ayu Melanting dan seluruh warga desa diberi anugerah hidup abadi. Namun, dengan konsekuensi mereka tak dapat terlihat oleh orang – orang lainnya. Dan, mereka yang saat ini disebut sebagai Wong Samar atau orang yang tak terlihat. "Dewi Melanting selain dikenal sebagai Dewi Uang, juga merupakan ratu penguasa Wong Samar,” ungkapnya.



Di Pura Melanting Pasar Kreneng misalnya, terdapat beberapa palinggih, seperti palinggih Bhatari Melanting, Palinggih Ratu Niang Lingsir, dan Palinggih Ida Bagus Ratu Samar.



Di sisi lain, Jasmine juga mengungkapkan ia ingin mengubah stigma negatif Wong Samar. “Selama ini kita kan menganggap mereka itu seperti hantu . Kita mengganggap mereka ada di tempat gelap dan terkesan mengganggu. Padahal tidak demikian, kenyataannya mereka ada di sekitar kita. Mereka ada di tempat ramai seperti pasar, dan mereka membantu kita dalam kehidupan sehari – hari. Nah, itu yang coba saya tonjolkan dalam Tari Wong Peken,” ujarnya.



Lantas, apa hubungannya dengan anak difabel?  “Saya tertarik dengan kemampuan anak difabel yang melihat dan menangkap materi melebihi anak – anak yang terlahir normal. Kedua, mereka seperti kita punya jiwa seni dan harus diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat yang mereka miliki,” ujarnya.
Wong Samar yang diwujudkan dengan rupa anak kecil memakai pakaian berupa dedaunan kering, mendatangi satu persatu pedagang yang berjejer membawa keranjang sebagai simbolisasi pedagang. " Ada wanita berbaju putih yang menari diantara para pedagang adalah simbolisasi Dewi Melanting. Ia yang membimbing dan mengajari para pedagang bagaimana cara berjualan yang baik,” ungkapnya.  Jasmine mengatakan tidak ada ritual khusus untuk garapannya ini. “Untuk ritual khusus tidak ada, tapi kami mabanten dulu maturan pajati dan memohon izin kepada beliau agar keinginan baik kami untuk menginterpretasikan mereka dapat berjalan lancar,” terang wanita cantik bertubuh langsing.



Dikatakannya, Tarian Wong Peken masih dalam tahap penyempurnaan. “Ini masih dalam proses,  masih akan kami kembangkan. Artinya akan ada perubahan gerak atau struktur pola. Namun tetap mengusung filosofi yang sama,” jelasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali