Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ajaran Hindu; Siwa Tattwa Ungkap Rahasia Siwa Dalam Diri

I Putu Suyatra • Sabtu, 20 Oktober 2018 | 18:19 WIB
Siwa Tattwa Ungkap Rahasia Siwa Dalam Diri
Siwa Tattwa Ungkap Rahasia Siwa Dalam Diri

 

BALI EXPRESS, DENPASAR - Buku Hindu berjudul Siwa Tattwa  terlahir dari proses yang panjang. Sebelum diluncurkan bulan lalu, penulis Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd mengaku dibekap keraguan untuk menerbitkannya. Tetapi, dorongan dari hasratnya yang begitu kuat,  akhirnya  memberanikan diri untuk membawa karya ini ke publik.

Buku Siwa Tattwa yang ditangani Bali Wisdom, ditulis Peneliti Budaya yang juga dosen,
Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd,  akhirnya bisa dinikmati khalayak pembaca. "Buku ini sengaja saya berikan judul Siwa Tattwa, yakni pengetahuan atau hakikat dari ajaran Siwa yang ada dalam berbagai genre teks Tattwa, seperti Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Tattwa Jnana, Bhuwana Kosa, Kumara Tattwa, dan Jnanasiddhanta," ujar Sandika yang juga penulis skenario film Nyungsang ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.

Buku  Siwa Tattwa, lanjut dosen Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar ini, berupaya mengulas teks Wrhaspati Tattwa yang sangat sistematis sebagaimana teks-teks Tattwa lainnya. Sebuah teks klasik yang setiap sloka Sansekertanya diulas dengan bahasa Jawa Kuno. Dan, tentunya sangat kaya akan kandungan nilai spiritual laku leluhur Nusantara dalam memahami jalan Kasiwan sebagai jalan rahasia dalam kita mencapai pada pelepasan.

Berdasarkan atas hal itu, Sandika mengatakan secara khusus mengulas teks tersebut lebih kepada sisi spiritualnya yang sangat jarang ditelisik. "Selama ini saya hanya menemukan kajian Siwa Tattwa hanya sebatas kajian ilmiah akademik yang hanya berkutat dalam lingkar analisis dari mana teks ini muncul, penulisnya siapa, dan struktur teks yang normatif. Sangat jarang ada yang benar-benar menempatkan ajaran Siwa Tattwa dalam teks Wrhaspati Tattwa sebagai panduan laku spiritual Nusantara dalam memahami hakikat diri dalam berkehidupan," beber pria asal Klungkung ini.

Kendatipun ada yang menyingung, lanjut Sandika, itupun masih sekilas, samar-samar dan hanya sekadar dijadikan analisis minor, sehingga terkesan tidak penting. Padahal, dalam perspektifnya, pengetahuan spiritual Siwa Tattwa dalam teks Wrhaspati Tattwa sangatlah holistik berkenaan dengan hakikat jiwa, raga, Tuhan sebagai Bhatara Siwa dan alam semesta yang ternyata disusupi Bhatara melalui kekuatan Uta Prota, yakni kekuatan merangkai dan menyusupi.

"Jadi, ulasan saya ini boleh dikatakan berbeda dari kajian lainnya tentang ajaran Siwa Tattwa.  Yang oleh leluhur Nusantara dipandang sebagai inti dari pengetahuan spiritual (Samyak jnana) yang akan menuntun kita pada sebuah wilayah kesadaran akan hakikat diri sebagai kesadaran yang murni dan jauh dari noda," beber pria lajang yang juga dosen IKIP PGRI Bali ini.
Dijelaskannya, Bhatara Siwa sendiri adalah kesadaran (murni) itu, yang berada di puncak Kailasapada atau puncak kesadaran diri, sehingga mencapainya adalah tujuan utama (kawekasing mautama) dari laku spiritual. Dengan demikian, lanjut Sandika,  Bhatara Siwa sesungguhnya adalah ia sebagai kesadaran yang murni itu, dan untuk mencapainya mesti kembali pada diri, dan memasukinya melalui pintu diri.

"Jadi untuk bertemu Bhatara Siwa yang sesungguhnya tidak mesti ke Gunung Kailasapada, tetapi temukan ia sebagai kesadaran murni yang ada pada puncak kesadaran diri.

"Kesadaran Siwa tersebut akan muncul dan kita akan menemukannya ketika kita sering membuka pintu hati (padma hrdaya), dan mencoba berdialog dengan kesadaran yang sejati tersebut, selayaknya dialog yang digambarkan dalam Wrhaspati Tattwa, yakni dialog antara Bhagawan Wrhaspati dengan Bhatara Iswara/Siwa," urai Sandika.

Maka dari itu, lanjutnya, dialog yang digambarkan dalam ajaran Siwa Tattwa dalam Wrhaspati Tattwa tersebut sesungguhnya adalah 'dialog dir' di mana diri yang ragu dan termangu-mangu ini selalu berupaya mempertanyakan hakikat Sang Diri Sejati kepada kesadaran itu, sehingga pada akhirnya Sang Diri Sejati bertutur akan kesejatiannya (matutur ikang atam ri jatinya).
Ditambahkan Sandika, pada saat Sang Diri Sejati bertutur akan kesejatiannya, maka pada saat itulah kesadaran itu telah mekar di inti hati terdalam (Padma Hrdaya), seperti bunga Pangkaja yang mekar di telaga yang airnya bening.

" Jadi, untuk itulah tutur ini diwedar oleh Bhatara Iswara dengan Bhagawan Wrhaspati dalam dialog yang panjang. Mulai dari hakikat kelahiran yang berbeda dan banyak di mana Yoni yang berbeda-beda adalah dasar dari setiap kelahiran semua makhluk," terangnya.

Dibeber Sandika, Yoni ada banyak dan diciptakannya banyak Yoni bergantung dari Wasana Karma atau bekas perbuatan yang menempel pada lapisan badan memori (Manomaya Kosa). Wasana Karma sebagai bekas perbuatan, seperti ingu yang menempel pada periuk dan sangat susah untuk dihilangkan. Tetapi, untuk memutus Wasana Karma, maka diciptakanlah banyak Wisesa atau pengetahuan suci agar manusia bisa menikmati Wasana Karma dengan baik, dan berupaya mendekatkan diri dengan Bhatara Siwa dengan berbagai jalan dan pintu untuk memasukinya.

"Kemudian dengan tegas Bhatara Iswara menyampaikan kepada Bhagawan Wrhaspati, bahwa diciptakannya banyak Wisesa bukan untuk kita menjadi Mabuk akan Wisesa, tetapi sesungguhnya kita bisa menjadi bijak dalam laku. Sesungguhnya Wisesa tidak ada tinggi dan rendah, dan memahaminya sampai pada inti wisesa kita akan sampai pada pemahaman yang menyeluruh tentang semua hakikat atau Tattwa dari keberadaan ini," ulas Sandika.

Ditambahkannya, Bhatara Iswara Siwa sebagai kesadaran demikian sangat susah untuk dipahami dan dimengerti hanya melalui satu Wisesa, sehingga sejatinya banyak Wisesa adalah sebagai sebuah upaya untuk kita memahami hakikat Bhatara yang tidak terbatas. "Jangan sampai, kita seperti orang buta yang meraba seekor gajah. Orang buta pertama meraba belalai gajah seperti ular, maka ia akan mendefinisikan gajah seperti seekor ular. Orang buta kedua meraba kaki gajah seperti pilar, maka ia akan beranggapan bahwa gajah adalah seperti pilar, dan demikian seterusnya," kata Sandika yang juga menulis buku Tantra dan Whraspati Tattwa ini.

Tetapi bagi mereka yang tidak buta (Aturu), lanjutnya,  akan melihat gajah secara utuh sebagaimana gajah terdiri dari belalai, kaki, dan yang lainnya. "Demikianlah sekilas pengantar dari buku Siwa Tattwa ini, dan ada banyak lagi uraian kebijaksanaan purba yang dapat ditemukan dalam ajaran Siwa Tattwa dalam teks Wrhaspati Tattwa, sehingga akan dapat menuntun diri kita untuk menyadari Siwa sebagai kesadaran ada dalam diri," pungkas Sandika yang Sabtu (20/10) sore ini melaksanakan bedah buku di Warung Weeny, Bali Wisdom di kawasan Sanur.

Editor : I Putu Suyatra
#Siwa Tattwa #hindu #yoga