Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mantan Tukang Tato, Sebelum Madiksa, Selalu Didatangi Wanita Misterius

I Putu Suyatra • Senin, 26 November 2018 | 16:38 WIB
Mantan Tukang Tato, Sebelum Madiksa, Selalu Didatangi Wanita Misterius
Mantan Tukang Tato, Sebelum Madiksa, Selalu Didatangi Wanita Misterius


BALI EXPRESS, DENPASAR - Menjadi seorang wiku atau sulinggih, memang tak mesti berasal dari latar pendidikan keagamaan. Bahkan, ada sulinggih yang mantan narapidana, pebisnis, dan wartawan. Seperti halnya kisah perjalanan hidup Ida Pandita Mpu Yogiswara yang seniman.


Menjalani kehidupan sebagai seorang wiku tidaklah semudah yang dibayangkan. Ketekunan, ketulusan dan rasa tanggung jawab yang tinggi, membuat seorang sulinggih harus mengikuti etika dan tata laksana kesulinggihan. Diakui Ida Pandita Mpu Yogiswara, masa transisi dari dunia seni menuju ke dunia kesulinggihan tidaklah mudah. Baginya, keputusan untuk menuju dunia pelayanan merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus dibawa hingga tiada. "Bagi saya keputusan untuk menyanggupi tuntunan nabe Madiksa merupakan tantangan berat, karena beban tanggung jawabnya besar. Saya butuh waktu lima tahun untuk menyanggupi malinggih," ujar  Ida Pandita Mpu Yogiswara kepada  Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar.



Dijelaskannya, tahun 2003 Sang Nabe, Ida Pandita Mpu Prama Yogiswara dari Griya Manik Mas Tabanan, menuntun dan mendorongnya agar malinggih menjadi seorang sulinggih. "Banyak alasan kenapa waktu itu saya ragu. Dari segi finansial saya akui sangat kurang. Orang tua saya hanya seorang petani, pekerjaan saya hanya  seniman tato. Lalu, anak saya juga masih bersekolah ketika itu. Saya ragu jika harus melepaskan seluruh tanggung jawab saya sebagai orang tua, sebagai suami dan sebagai seorang anak," jelasnya.



Ida Pandita Mpu Yogiswara mengakui sebelum Madiksa banyak kejadian niskala yang terjadi dalam kehidupannya. "Dahulu sebelum malinggih, saya sempat mengalami kecelakaan berkali kali. Puncaknya pada 2004 keluarga besar mengadakan upacara pembersihan besar di rumah. Mulai dari Macaru dan Ngenteg Linggih. Waktu itu kondisi saya tidak bisa bergerak karena kaki dan tangan patah," ujarnya.



Baginya saat itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Ia tak bisa melakukan apapun, bahkan bekerja untuk menafkahi anak pun tak bisa ia lakukan karena tubuhnya harus digift. Menariknya, seminggu sebelum upacara Ngenteg Linggih berlangsung, ia melihat seorang sulinggih perempuan melakukan Surya Sewana di merajannya. "Aneh, saya tidak mengenal ia siapa. Tapi setiap pagi saya melihat sulinggih perempuan itu melakukan Surya Sewana di sana. Sampai pada hari ketika pelaksanaan Ngenteg Linggih saya menghaturkan Siwa Pekrana di merajan. Tapi hal itu tetap terjadi," ujarnya.



Usai pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih, penglihatan niskala itu masih saja terus terjadi. "Semakin lama saya semakin gelisah, dengan semua masalah keluarga dan kecelakaan yang saya alami. Di tahun 2008 akhirnya saya mulai belajar kepemangkuan. Dan, di 2013 nabe saya mendesak saya untuk malinggih. Hampir lima tahun saya menolak, tapi akhirnya tahun  2015 saya membulatkan tekad,  dan di tahun 2017 terlaksana juga prosesi Madiksa," terang pria yang pernah menjadi koordinator kepemangkuan dan sangging ini.



Uniknya, seusai Madiksa, sosok wanita berpakaian sulinggih itu tak pernah muncul kembali. " Sosok sulinggih wanita tidak pernah lagi saya lihat  melaksanakan Surya Sewana di merejan. Setelah diusut, ternyata dahulu leluhur kami ada yang malinggih juga, namun keturunannya tidak ada yang melanjutkan. Kebetulan karma saya mengikat saya dan malinggih sebagai seorang wiku," tegas mantan kordinator sangging Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi ini.



Keputusannya untuk malinggih didasari juga usainya tanggung jawabnya mengantarkan putranya hingga menamatkan pendidikan menjadi  sarjana. "Salah satu alasan saya iklas menjalani ini adalah tanggung jawab saya mengantarkan satu satunya putra saya ke jenjang sarjana. Artinya, satu tanggung jawab saya sudah terlaksana. Mengenai biaya saya pasrahkan pada yang kuasa," ungkap pria kelahiran 28 Oktober 1975.



Meski tak memiliki biaya untuk menggelar prosesi Madiksa, namun  diyakininya Tuhan memberikan jalan untuknya. "Mungkin memang sudah jalannya, Agustus 2017 akhirnya ada prosesi upacara besar, dan hasilnya bisa untuk menggelar prosesi Madiksa. Seperti itu Tuhan memberikan jalan," paparnya.



Ia berharap semua komitmen dan tanggung jawabnya akan dapat berguna bagi masyarakat. "Saya berharap saya bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat," tegasnya.


 


 



Biodata

Nama Walaka              : I Wayan Mariadana
Nama Sulinggih          :  Ida Pandita Mpu Yogiswara
Lahir                            : 28 Oktober 1975
Nama Istri                   : Ni Ketut Surasni
Nama Sulinggih          : Ida Pandita Mpu Prami Yogiswari
Nama Griya                 : Griya Gede Manik Uma Jati, Jalan Dangin Uma, Banjar Jaba Jati, Kepaon, Denpasar.
Malinggih                    : 6 Agustus 2017

Editor : I Putu Suyatra
#hindu