Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngalinggihang Weda, Kemampuan Mapuja Sulinggih Diuji

I Putu Suyatra • Sabtu, 22 Desember 2018 | 13:39 WIB
Ngalinggihang Weda, Kemampuan Mapuja Sulinggih Diuji
Ngalinggihang Weda, Kemampuan Mapuja Sulinggih Diuji


BALI EXPRESS, MANGUPURA - Diksa atau dwijati tidak selesai begitu saja. Berbagai tahapan masih harus dilalui seorang sulinggih. Salah satunya Ngalinggihang Weda. Prosesi ini seperti dilakukan Ida Pedanda Gede Batulumbang.


Pasca didiksa pada 7 November lalu, tahapan lain kembali dijalani Ida Pedanda Gede Batulumbang. Prosesi itu berupa upacara Ngalinggihang Weda yang dilaksanakan pada rahina Budha Pon Sungsang atau pada Rabu (19/12) lalu. Prosesi dilakukan langsung di Griya Batulumbang, Banjar Piakan, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Badung.
Dijelaskan, prosesi Ngalinggihang Weda merupakan tahapan yang dilalui seorang sulinggih pasca didiksa. Rentang waktunya yakni abulan pitung dina atau 42 hari. “Jadi setelah didiksa abulan pitung dina, hari ini saya melanjutkan dengan prosesi Ngalinggihang Weda,” ungkap Ida Pedanda.
Prosesi Ngalinggihang Weda, lanjut Ida Pedanda yang saat walaka bernama Ida Bagus Gede Ardana ini, menandai seorang sulinggih bisa memimpin sebagian upacara, kecuali pitra yadnya dan dewa yadnya tingkat utama. Kewenangannya akan penuh ketika usai melalui prosesi Mapulang Lingga. “Sesuai sastra suci, setelah Ngalinggihang Weda, seorang sulinggih berhak muput karya, kecuali pitra yadnya dan nyatur,” jelasnya.


Upacara Ngalinggihang Weda bermakna ngalinggihang Sang Hyang Weda ke dalam angga sarira sang sulinggih. Dengan upacara tersebut, maka diharapkan puja weda mantra yang diucapkan sang sulinggih memiliki taksu atau kekuatan.


Proses Ngalinggihang Weda dapat juga dilihat sebagai evaluasi bagi sang sulinggih yang baru melinggih, atas kemampuannya dalam melaksanakan kewajiban melafalkan puja weda mantra, sikap, dan perilaku lainnya, yang mencerminkan kasulinggihannya. Prosesi tersebut diakhiri dengan penyampaian pesan-pesan tertentu oleh guru nabe, guru waktra, guru saksi kepada sang sulinggih yang bersangkutan.
Lebih lanjut mantan Kepala Sekolah TP 45 Denpasar ini menjelaskan, mapulang lingga menunggu kesiapan batin yang bersangkutan. Jadi ketentuan mengenai waktunya tidak kaku. “Istilahnya, mapulang lingga bisa dilakukan ketika seorang sulinggih sudah mampu ngeregepang ajaran-ajaran dalam dirinya,” lanjutnya.
Adapun prosesi Agalinggihang Weda, pada intinya seorang sulinggih mulai ngaweda atau melantunkan mantra suci memimpin upacara.


Sementara itu, pantauan saat prosesi ini berlangsung menunjukkan, jika sejumlah sarana telah disediakan di merajan griya setempat. Sedangkan para sisya yang hadir, turut ikut menghaturkan bakti. “Jadi mulai nguncarang mantra-mantra. Itu intinya,” tegas Ida Pedanda.
Prosesi ini tidak hanya diikuti Ida Pedanda lanang, namun juga didampingi Ida Pedanda Istri Raka Batulumbang dan Ida Pedanda Istri Rai Batulumbang. Prosesi dimulai sejak pagi hingga berakhir sebelum pukul 12.00. “Astungkara, semua prosesi sudah berjalan lancar,” tandas Ida Pedanda.
Menariknya, di samping memimpin upacara, Ida Pedanda Gede Batulumbang juga menjalankan usada Pawacakan Melik. Pawacakan pada intinya berupa pengetahuan guna membaca karakter seseorang berdasar hari kelahiran. Sementara Melik adalah suatu istilah yang disematkan kepada seseorang yang terlahir pada hari tertentu, yang memiliki keistimewaan atau kelebihan.


“Jika orang Melik diperlakukan dengan benar, maka dia akan memperoleh kehidupan yang sangat baik dan berusia panjang. Tapi jika tidak, maka bisa berusia pendek. Demikian menurut sastra,” tegas lulusan Pascasarjana UNHI Denpasar tersebut.
Memutuskan meniti hidup hingga ke jenjang Dwijati bukan hal mudah. Pasalnya, kehidupan menjadi seorang yang disucikan, selain memiliki wewenang khusus, juga memiliki berbagai pantangan atau batasan. Inilah yang disebut dengan sesana Suliggih. Guna melaksanakannya, perlu batin, mental, hingga dukungan fisik yang prima.
Namun demikian, disinggung mengenai hal yang menjadi perhatiannya ke depan selaku pemuka umat. Ida Pedanda yang juga pernah menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Udayana saat masih menjadi walaka menyatakan, saat ini ada sebagian umat yang masih takut beryadnya karena terkendala biaya. Hal ini menurutnya patut diluruskan. Diingatkan, khusus dalam yadnya dalam bentuk upacara dan upakara, ada istilah alit, madya, dan utama.


“Jadi, jangan sampai umat kita takut beryadnya. Padahal yadnya sesuai dengan kemampuan umat itu sendiri,” tegasnya.
Dengan demikian, Ida Pedanda berkomitmen untuk melakukan pelayanan kepada umat Hindu setulus-tulusnya. Dia berharao kehadiran dirinya selaku Sulinggih bisa memberikan pencerahan bagi umat dan masyarakat luas.

Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih #hindu