Lontar Wrati Sasana: Ajarkan Kepemimpinan Berbasis Etika dan Pengendalian Diri

BALIEXPRESS.ID-Konsep kepemimpinan dalam ajaran Hindu tidak hanya berbicara soal kekuasaan dan kemampuan mengatur masyarakat, tetapi juga menekankan pengendalian diri, moralitas, serta tanggung jawab spiritual. Nilai-nilai itu salah satunya tertuang dalam Lontar Wrati Sasana, sebuah naskah klasik Hindu yang memuat ajaran etika kepemimpinan bagi pemimpin agama maupun pemimpin sosial di masyarakat.
Akademisi IAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti menjelaskan bahwa Lontar Wrati Sasana sesungguhnya sangat relevan diterapkan dalam konteks kepemimpinan modern saat ini. Menurutnya, di tengah banyaknya krisis moral dan menurunnya integritas pemimpin, ajaran dalam lontar tersebut menjadi pengingat penting agar kepemimpinan tetap berjalan di jalur etika dan spiritualitas.
“Lontar Wrati Sasana mengajarkan bahwa seorang pemimpin bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mengendalikan diri, menjaga kejujuran, serta memiliki ketulusan dalam melayani masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Wrati berarti brata atau disiplin hidup, sedangkan sasana berarti aturan atau tuntunan. Karena itu, Lontar Wrati Sasana dapat dimaknai sebagai pedoman suci mengenai tata perilaku dan etika yang wajib dijalankan seorang pemimpin Hindu dalam menjalankan swadharma atau kewajibannya.
Menurut Dr. Murniti, dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa seorang pemimpin sejati harus mampu menjaga stabilitas pikiran, ucapan, dan tindakan. Hal itu tercermin dalam ajaran Yama Brata yang menjadi dasar pengendalian diri seorang pemimpin.
Dalam salah satu sloka disebutkan:
“Yamamsca niyamaamcewa yada raksennu panditah, tesam sangraksitenaiva buddhirasya na calyate.”
Sloka itu menjelaskan bahwa seorang pandita atau pemimpin yang mampu menjaga Yama Brata dan Niyama Brata akan memiliki pikiran yang teguh dan tidak mudah goyah.
“Maknanya sangat dalam. Pemimpin harus memiliki keteguhan moral agar tidak mudah tergoda oleh kepentingan pribadi maupun tekanan kekuasaan,” jelasnya.
Dalam ajaran Yama Brata terdapat lima nilai utama yang wajib dijalankan pemimpin. Pertama adalah Ahimsa, yakni tidak melakukan kekerasan atau membunuh. Menurut Dr. Murniti, pemimpin harus mengedepankan kasih sayang dan menghindari tindakan yang merugikan masyarakat.



