Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Maduwe Karang, Ukiran Meneer Belanda Jadi Magnet Turis

I Putu Suyatra • Rabu, 2 Januari 2019 | 21:02 WIB
Pura Maduwe Karang, Ukiran Meneer Belanda Jadi Magnet Turis
Pura Maduwe Karang, Ukiran Meneer Belanda Jadi Magnet Turis


BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pura Kahyangan Maduwe Karang merupakan salah pura yang ada di Desa Kubutambahan, Buleleng. Pura ini dikenal sebagai pura yang unik dari segi ukiran. Terutama ukiran seorang pria yang mengendarai sepeda. Konon ukiran itu merupakan perwujudan seorang meneer Belanda yang disegani masyarakat setempat.


 


Pura Maduwe Karang memang tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan mancanegara. Setiap harinya, selalu ada wisatawan mancanegara yang berwisata ke pura tersebut. Daya tarik utamanya, ukiran meneer Belanda yang menunggangi sepeda, lengkap dengan kamben dan udeng.


Ukiran meneer Belanda itu juga menjadi salah satu pertimbangan, hingga akhirnya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menetapkan Pura Maduwe Karang sebagai cagar budaya pada Juni 2008 silam.


Pura Maduwe Karang cukup mudah dijumpai. Pura ini berjarak sekitar 20 kilometer arah timur Kota Singaraja. Sekitar 112 kilometer arah utara Kota Denpasar. Pura ini terletak di pinggir Jalan Raya Singaraja-Amlapura, sehingga tidak sulit dicari.


Kelian Adat Desa Pakraman Kubutambahan, Jero Ketut Warkadea mengatakan, dari sisi sejarah, Pura Maduwe karang diketahui dibangun pada tahun 1890 dan selesai dibangun pada tahun 1895.


Secara etimologi nama Pura Maduwe Karang terdiri dari dua suku kata. Meduwe berasal dari kata “duwe” yang berarti punya, mandapat awalan me manjadi “meduwe” yang berarti mempunyai. Sedangkan Karang berarti tanah atau tegalan. Dengan demikian Pura Meduwe Karang adalah sebuah pura pertanian, yang erat hubungannya denagan tanah kering (tegalan).


“Sampai saat ini para petani masih memiliki suatu kepercayaan, segala kegiatan pertanian baik di tegalan maupun di kebun selalu didahului dengan memohon keselamatan dan restu di Pura Meduwe Karang dengan mengaturkan banten. Sehingga petani dapat memanen hasil pertanian dengan baik,” ujar Warkadea.


Layaknya pura-pura tua yang berdiri di Bali Utara, ukiran serta ornamen yang ada di pura ini, khas dengan ukiran Buleleng. Ukiran yang didominasi tanaman-tanaman rambat. Selain ukiran khas Buleleng, ada pula ukiran wujud Raja Buleleng Ki Barak Panji Sakti, ukiran Ganesha, serta ukiran penari Legong. Tuntas dengan ornamen ukiran di seluruh bagian pura, sejak 1895, pura akhirnya digunakan sebagai pusat kegiatan spiritual.


Kala itu, kegiatan yang dilakukan di pura ini bukan hanya persembahyangan. Namun juga upacara meajar-ajar. Masyarakat yang tidak bisa ke Besakih, cukup melakukan upacara meajar-ajar di Pura Maduwe Karang dengan cara ngayat ke Besakih. Maklum saja, jaman itu transportasi belum sebagus saat ini.


Hingga pada tahun 1904, datang seorang meneer Belanda yang bernama W.O.J. Nieuwenkamp. Tak diketahui pasti dari mana asal usulnya. Ada yang menyebutnya sebagai pelukis keliling berkebangsaan Belanda yang sudah keliling dunia. Namun ada pula yang menyebutnya sebagai seorang pejabat di era kolonial.


“Setahu saya, dia itu pejabat kolonial di Tangsi Belanda. Dia bertugas keliling dan pernah tugas di Batavia juga,” imbuh Warkadea.


Terlepas dari asal usulnya, Nieuwenkamp memberikan pengaruh besar bagi masyarakat di Kubutambahan, juga memberikan pengaruh besar bagi ukiran di Pura Maduwe Karang. Nieuwenkamp dikenal sebagai meneer yang murah hati, sehingga disegani dan dihormati masyarakat.


Sebagai bentuk penghargaan, masyarakat ingin mengabadikan Nieuwenkamp melalui media ukiran di Pura Maduwe Karang. Nieuwenkamp setuju. “Katanya dulu dia setuju diukir, biar nanti ada banyak turis yang datang kesini. Pura ini biar dikenal ke seluruh dunia,” cerita Warkadea.


Nieuwenkamp diukir di sisi utara jeroan Pura Maduwe Karang. Nieuwenkamp digambarkan sebagai sosok meneer Belanda yang mengenakan kamben dan udeng, sambil mengendarai sepeda. Ukiran itu dikerjakan tiga orang sesepuh di Kubutambahan, yakni kaki (kakek, Red) Balag, kaki Jeneng, dan kaki Ragia.


Ucapan Nieuwenkamp kala itu pun terbukti. Kini Pura Maduwe Karang ramai kunjungan wisatawan mancanegara. Utamanya dari Perancis dan Belanda. Wisatawan dari Perancis bahkan bersedia berlama-lama di pura itu, dan menyisihkan punia sekadarnya, hanya untuk mendengarkan kisah berdirinya pura ini.

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #hindu #pura #sejarah pura