BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pura Taman Sari yang berada di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, juga kerap dijuluki Pura Pancasila atau Pura Nusantara. Julukan itu menurut Agung Ngurah, tak lain karena pemedek yang tangkil untuk memohon sesuatu hal tak hanya berasal dari umat Hindu semata. Tapi umat non Hindu yang berasal dari luar Bali, seperti Lombok, Kalimantan, Jawa, hingga Sumatera pernah memohon ke pura tersebut. Mereka biasanya datang saat Purnama Tilem, atau saat Pujawali, bertepatan dengan Purnama Sasih Kelima atau sekitar bulan November.
Konon mereka menerima pawisik (bisikan) agar mendatangi Pura Taman Sari yang berada di pinggir pantai. “Ada yang meminta keturunan, memohon rejeki, jodoh, memohon kesehatan dengan cara melukat. Banyak sekali. Bahkan bukan dari umat Hindu saja. Tetapi dari non Hindu. Sehingga Pura Taman Sari biasa disebut sebagai Pura Pancasila atau Pura Nusantara,” kata Kelian Adat Pura Taman Sari, Drs. Anak Agung Gede Ngurah, M.Si, 65.
Bukti banyaknya permohonan pemedek yang dikabulkan, dijelaskan Agung Ngurah terlihat dari banyaknya penauran atau bayar kaul yang dilakukan para pemedek. Seperti maturan dana punia, wastra, atau ngaturang guling sebagai wujud syukur atas dikabulkannya permohonan mereka.
“Kalau pinunasnya kedagingan (permohonannya dikabulkan, Red) sudah pasti naur kaul. Bentuknya beragam, sesuai kemampuan pemedek,” ujar pensiunan pengawas Disdikpora Buleleng ini.
Sedangkan, bagi pemedek yang mengalami sakit fisik maupun psikis, juga kerap mendapatkan kesembuhan setelah melukat di areal Pura Taman Sari. Tepatnya di mata air yang berlokasi di madya mandala pura atau di bawah Pohon Juwet.
Mata air ini begitu jernih dan sejuk. Kendati dekat pantai, namun tidak sedikit pun terpengaruh kadar garam. Rasa air cenderung segar, dan sejuk, serta tawar. Air inilah dipergunakan membersihkan badan lewat prosesi penglukatan.
Setelah melukat di bawah Pohon Juwet, pemedek selanjutnya melangkah ke Palinggih Dalem Salukat yang masih berada di areal madya mandala. Palinggih ini menyerupai seorang pendeta tua sakti berambu panjang, berjenggot putih, yang kerap dianalogkan sebagai sosok suci Pendeta Ratu Dang Hyang Nirartha.
Di sanalah para pemedek dilukat untuk dibersihkan, sehingga melebur segala kekotoran yang melekat. Begitu bersih, barulah boleh melangkahkan kaki ke utama mandala pura, untuk memohon wara nugraha dari Ratu Dewa Ayu Sarining Amertha.
“Berbicara melukat di Pura Taman Sari sangat lengkap. Ada tirta penglukatan, penyucian hingga wara nugraha. Cukup membawa dua pejati. Satu dihaturkan di areal penglukatan, dan satunya lagi di utama mandala,” jelasnya.
Selain itu, di areal penglukatan ini juga ditemukan pancaka tirta, sebagai simbol dari Panca Dewata. Yakni Dewa Wisnu, Iswara, Brahma, Mahadewa dan Siwa. Bahkan lengkap dengan patung Lingga Yoni.
Pancaka tirta ini, juga kerap diminta para pemedek untuk nempil tirta agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan upacara di rumah tangga sehari-hari. “Jadi pancaka tirta ini juga sering ditunas (dimohon) oleh para pemedek untuk digunakan di rumah tangga dalam setiap upacara sehari-hari,” bebernya.
Editor : I Putu Suyatra