BALI EXPRESS, SINGARAJA - Spektakuler. Itulah kata yang tepat disematkan untuk pementasan Tari Rejang Renteng masal pada puncak HUT Kota Singgaraja ke-415 pada Sabtu (30/3) lalu. Tercatat sebanyak 7.289 penari yang berasal dari 145 desa di sembilan kecamatan ikut ambil bagian dalam pementasan kolosal itu dengan membentuk barisan mencapai 2 kilometer.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) Sabtu lalu, ribuan penari ini sudah berkumpul sejak pukul 15.00 Wita. Mereka berjejer di sepanjang ruas Jalan Veteran, Jalan Ngurah Rai hingga Jalan Pramuka Singaraja. Para penari yang didominasi kaum Ibu-ibu ini kompak menggunakan busana baju kebaya putih dan kamben berwarna kuning.
Kendati menari hanya 10-13 menit, namun menarikan Tari Rejang Renteng, bukanlah perkara gampang. Namun, sebelum menarikan tarian ini harus ada prosesi adat dan agama yang harus dilalui dengan lengkap.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Komang mengatakan, sebelum tarian massal ini dilaksanakan, panitia pelaksana telah melaksanakan matur piuning di beberapa pura. Diantaranya Pura Dalem Ped-Klungkung, Pura Gedong Suci Disbud, Pura Padma Bhuana, Tugu Singa Ambara Raja, Pura Kandikan Paras, Pelinggih di Taman Kota, Serta Pura Jagatnatha. Selain itu, panitia juga telah melaksanakan upacara mecaru di Tugu Singa Ambara Raja.
Panitia juga melaksanakan ritual persembahyangan khusus di Pura Jagatnatha sesaat sebelum tarian massal dimulai. Persembahyangan itu dipuput oleh 20 orang pemangku, dan diiringi dengan tarian Rejang Renteng yang ditarikan oleh 100 orang penari dari Kecamatan Seririt.
Gede Komang menyebut, Tarian Rejang Renteng ini harus ditarikan oleh perempuan yang sudah menikah, dengan jumlah yang ganjil. Menurutnya, pementasan tari Rejang Renteng ini sebagai rangkaian ritual menyambut HUT Kota Singaraja. Dengan harapan agar Buleleng damai, aman, ajeg, dan trepti, sehingga selalu dalam keadaan santi dan jagaditha.
“Sekaligus juga mensosialisasikan kepada 148 Desa/Kelurahan di Buleleng untuk memahami pakem-pakem tari Rejang Renteng,” kata Gede Komang.
Sebelum pentass di Sepanjang jalan raya tempat dimana tarian sakral itu dipentaskan diperciki Tirta dan Ngerauhang Bija. Barulah setelah seluruh penari nunas Tirta dan Bija, tarian massal itu siap dipentaskan.
Pementasan baru bisa dilakukan sekitar pukul 18.00 Wita, atau setelah Parade Budaya dan Lomba Busana Endek yang dipusatkan di Jalan Ngurah Rai Singaraja selesai dilaksanakan. Banyaknya penari yang hadir membuat panitia kewalahan mengaturnya.
Bahkan, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana turun tangan untuk mengatur penari melalui pengeras suara. Setelah rapi barulah pementasan fenomenal dan pertama di Buleleng ini dimulai.
Ribuan penonton dibuat terkagum-kagum dengan pementasan kolosal ini. Mereka berjibun di sepanjang jalan Veteran, Ngurah Rai dan Pramuka untuk menyaksikan momen langka ini.
Menariknya, pementasan Tari rejang Renteng secara massal ini juga dihadiri pemerhari Seni Tari, Ida Ayu Made Diastini. Birokrat di Dinas Kebudayaan Provionsi inipun memberikan apresiasi dan merasa bangga dengan langkah yang dilakukan Dinas Kebudayaan Buleleng.
Menurutnya, Tari Rejang Renteng ini telah dikukuhkan sebagai Tari Wali saat pelaksanaan WorkShop di Taman Budaya Depasar Bulan Februari lalu. Dengan pengukuhan itu, Ia pun mengajak seluruh masyarakat Bali terutama kaum ibu-ibu yang akan menarikan tarian ini untuk paham dan mengikuti aturan dalam Tari Wali ini.
Diastini mengatakan tari rejang renteng telah memiliki pakem tersendiri. Mulai dari enam gerakan inti, kostum penari, hingga syarat penari.Dari sisi kostum, Tari Rejang Renteng menggunakan kostum yang sederhana, yakni menggunakan kebaya putih polos lengan panjang, selendang kuning, kain cepuk kuning, menggunakan tapih kuning, pusungan rambut tagel, sasakan polos, menggunakan asesoris sederhana berupa bunga jepun putih Bali, dan subeng sederhana.
Sementara dari segi syarat penari, yang boleh menarikan tarian ini adalah perempuan yang sudah menikah, atau perempuan yang disucikan seperti Jro Mangku.“Kalau tidak menaati pakemnya jangan menarikan tari rejang renteng. Sudah saya sampaikan agar diketatkan ke Desa Pakraman. Kalau memang mau menarikan, mari ikuti aturannya,” tegasnya.
Suksesnya pementasan inipun mendapat apresiasi dari Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Menurutnya, semangat para penari Rejang Renteng untuk tampil pada puncak HUT Kota Singaraja sangat luar biasa. Ini dirasakan ketika para penari mempersiapkan diri sejak awal sampai dipentaskan.
”Ketika mereka diberikan ruang untuk tampil, semangat mereka luar biasa. Antusiasnya itu bisa dilihat dari latihan hingga gladi, sangat, sangat luar biasa semangatnya,” ujar Suradnyana.
Bupati Suradnyana juga menyebut, pada perayaan HUT Kota tahun mendatang, akan terus memberikan ruang kepada masyarakat untuk tampil, dengan jenis tari yang lain. “Tahun depan mungkin dengan jenis tari yang lainnya. Harapan saya, event ini dapat menjadi perhatian dan tanggung jawab kita semua. Bukan hanya pemerintah semata, melainkan seluruh masyarakat Buleleng,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra