Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Memaknai Burung Perkutut dari Perspektif Hindu

I Putu Suyatra • Sabtu, 6 April 2019 | 17:50 WIB
Memaknai Burung Perkutut dari Perspektif Hindu
Memaknai Burung Perkutut dari Perspektif Hindu


BALI EXPRESS, TABANAN - Umat Hindu di Bali tidak saja berhenti pada tataran bebantenan, tetapi menyangkut pula literasi dalam kehidupan lainya, termasuk memelihara burung tertentu yang dimaknai  khusus, tak sekadar jadi simbol semata.


 


Dalam berbagai praktik kehidupan, umat Hindu di Bali tidak bisa melepaskan diri dari pemakaian simbol-simbol. Lantaran itu pula, kerap menyebut Hindu adalah agama yang kaya akan simbol, baik simbol agama maupun simbol budaya.
Seperti misalnya, banten daksina yang dimaknai sebagai simbol patapakan Bhatara Siwa (Çiwa Lingga). Demikian halnya, ketika umat Hindu merasa bersalah dan kemudian mau meminta maaf  atau bertobat, maka mereka menyampaikan permohonan maafnya melalui simbol banten sasayut guru piduka.


Menurut Guru Besar Bidang Sosiologi Pendidikan UNHI Denpasar, I Ketut Suda, umat Hindu di Bali tidak saja berhenti pada tataran bebantenan, tetapi menyangkut pula literasi dalam kehidupan lainya. "Misalnya, pemaknaan atas simbol-simbol permata, keris, bahkan tidak jarang umat Hindu mampu memberi makna simbolis atas pemeliharaan hewan, seperti kucing, anjing, dan tidak terkecuali memakani pemeliharaan burung perkutut," ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin di Denpasar.



Menurut mitos Jawa Kuno, burung perkutut dengan ciri loreng di lehernya tanpa putus-putus diyakini sebagai jelmaan para pangeran Majapahit, yang diyakini pula dapat memberi kebahagiaan bagi pemiliknya. Demikian halnya dengan burung perkutut  jenis ‘Katuranggan’ yang diyakini memiliki karakter gaib yang dapat memberikan manfaat kebaikan bagi sang pemilik. Sesuai namanya, ‘Katuranggan’ berasal dari bahasa Jawa Kuno, yakni kata ‘Katura’ yang berarti mengemukakan dan ‘ Angga’ yang berarti badan. "Jadi, untuk mengenal perkutut jenis ini bisa dilihat dari bentuk-bentuk badannya," imbuhnya.



Dijelaskannya, masyarakat Hindu pun mengartikulasikan makna memelihara burung perkutut bagi kehidupan mereka. Dimana ada sebagian masyarakat Hindu yang memandang memelihara burung perkutut sebagai media atau ‘jimat’ untuk memperoleh rezeki, kebahagiaan. Bahkan, ada pula sebagian masyarakat yang meyakini memelihara burung perkutut untuk memeroleh ketentraman hidup. "Apa pun pandangan mereka tentang makna memelihara burung perkutut, semuanya  adalah keyakinan mereka, yang tentu kebenarannya sangat sulit dibuktikan secara akademik. Tetapi, secara faktual inilah yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Hindu di Bali," tegasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu