Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pelihara Burung Tak Sekadar Terkait Mistik

I Putu Suyatra • Sabtu, 6 April 2019 | 17:52 WIB
Pelihara Burung Tak Sekadar Terkait Mistik
Pelihara Burung Tak Sekadar Terkait Mistik


BALI EXPRESS, TABANAN - Dalam konteks kekinian, manusia secara hakiki memiliki keterkaitan dengan kekuasaan. Artinya, masyarakat memelihara burung, bukan semata-mata karena keyakinannya akan nilai-nilai mistik  yang terkandung, melainkan juga untuk menunjukkan bahwa dirinya memiliki kekuasaan.


Guru Besar Bidang Sosiologi Pendidikan UNHI Denpasar, I Ketut Suda, mengatakan, secara lebih luas, jika dilihat dari perspektif postmodernisme, masyarakat, termasuk masyarakat Hindu di Bali telah berkembang menjadi masyarakat tontonan. Hal ini berakibat masyarakat dalam mengartikulasikan atau memaknai aktivitas memelihara burung, tidak lagi pada dimensi-dimensi yang bernuansa mistik (magis). Akan tetapi, lebih pada motif-motif untuk pamer kekuasaan, kekayaan, dan prestise kepada orang lain, melalui kuasa simbol.



Hal ini sangat beralasan, sebab simbol mampu menggiring siapapun untuk memercayai, mengakui, melestarikan, bahkan mengubah persepsi, hingga tingkah laku orang dalam bersentuhan dengan realitas. Pandangan ini diperkuat dengan asumsi bahwa daya magis simbol tidak hanya terletak pada kemampuannya merepresentasikan kenyataan, tetapi realitas juga direpresentasikan lewat penggunaan logika simbol. "Dengan menggunakan simbol-simbol agama  (simbol-simbol mistis), masyarakat modern saat ini telah mencoba memobilisasi semesta simbol untuk membentuk, mengembangkan, dan melestarikan relasi sosial tertentu, berdasar pada kekuasaan asismetris yang berjalan secara sistematis," papar Suda kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin di Denpasar.



Lebih lanjut dikatakannya, hal ini tentu tidak dapat dipahami oleh orang kebanyakan, karena dibutuhkan kemampuan untuk melakukan pembacaan kritis atas semesta raya simbol yang dijadikan alat pembenaran bagi selera budaya penguasa. Artinya, individu atau kelas sosial tertentu berupaya memproduksi sistem simbol tertentu untuk mempertahankan posisi yang sedang mereka tempati saat ini. Semua ini dilakukan melalui permaian simbol yang sesungguhnya menyembunyikan relasi kuasa tertentu.


"Jadi, intinya di balik pemaknaan pemeliharaan burung perkutut dari dimensi-dimensi mistik (magis), yakni burung perkutut dimaknai sebagai ‘ Jimat’ yang dapat membawa keberuntungan, rezeki, ketentraman, dan kebahagiaan bagi pemiliknya," terangnya. Namun, masih ada makna lain yang dapat disingkap, lanjutnya, yakni kebiasaan yang berhubungan dengan ketidaksetaraan sosial berdasarkan kekuasaan dan kelas sosial.


"Semua itu dibuktikan dengan munculnya stigma dalam masyarakat bahwa memelihara burung perkutut hanya boleh dilakukan oleh golongan tertentu," pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu