Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dewi Melanting, Dewi Kemakmuran untuk Kaum Pedagang

Nyoman Suarna • Jumat, 26 April 2019 | 20:39 WIB
Dewi Melanting, Dewi Kemakmuran untuk Kaum Pedagang
Dewi Melanting, Dewi Kemakmuran untuk Kaum Pedagang


BALI EXPRESS, BULELENG - Pura Melanting yang berlokasi di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat di Bali. Pura ini menempati posisi penting dalam deretan nama-nama pura yang ada di Bali. Sebab, Pura Melanting merupakan pura yang bersifat fungsional, sebagai tempat untuk memuja Ida Bhatari Melanting atau Dewi Melanting  untuk memohon kemakmuran, kesuburan, keselamatan dan agar dilancarkan dalam usaha dagang.


 


Pura Melanting sangat berkaitan dengan usaha dagang. Itulah sebabnya, setiap pasar didirikan Pura Melanting. Pemujaan Dewi Melanting di Pura Melanting bisa disejajarkan dengan Bhatara Rambut Sedana atau Dewa Kwera sebagai dewanya uang. Adapun yang berwujud sebagai Bhatari Melanting adalah Ida Ayu Swabawa yaitu putri dari Dang Hyang Nirarta yang telah berubah wujud. 


 


Saat menginjakkan kaki di Pura Melanting, vibrasi spiritual begitu terasa. Bagaimana tidak, selain memiliki panorama indah karena berada di kaki bukit Pemuteran, suasana pura ini tampak hening dan tenang. Selain itu, kemegahan Pura Melanting juga sangat mempesona.


 


Arsitektur pura yang dikombinasikan dengan warna keemasan di pelinggih utama Bhatari Melanting, kian menasbihkan pura ini sebagai tempat memohon kemakmuran dan kejayaan ekonomi.


 


Siapa sangka, di balik kemegahan Pura Melanting, tersimpan sejarah yang cukup unik dan mistis, karena berhubungan dengan perjalanan pendeta sakti dari tanah Jawa bernama Dang Hyang Nirartha.


 


Menurut Jro Mangku Mangku Semadi, keberadaan Pura Melanting dan pura pesanakan lainnya, berkaitan erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha dari tanah Jawa ke Bali dalam menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur agama Hindu kepada masyarakat Bali. Menurut babad, perjalanan Dang Hyang Nirartha ke Bali juga disertai istri dan anak-anaknya.


Lanjut Mangku Semadi, saat menempuh perjalanan jauh, istri Dang Hyang Nirartha bernama Dang Hyang Biyang Patni Keniten yang saat itu sedang hamil tua, merasa kelelahan. Akhirnya Dang Hyang Nirartha memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan sang istri ditemani salah satu putrinya yang bernama Dyah Ayu Swabawa dan sejumlah pengikutnya.


Sementara putra dan putri lainnya yang masih kuat berjalan kaki, diajak serta melanjutkan perjalanan. Kelak, seandainya Dang Hyang Nirartha telah sampai ke tempat tujuan, akan diutus pengikutnya untuk menjemput istri beserta anak-anaknya untuk bergabung kembali dengan keluarga besar mereka.


Selama tinggal di wilayah itu, Dang Hyang Biyang Patni Keniten, bersama  pengikutnya dan seorang anak perempuannya, kemudian membuka lahan untuk tempat tinggal berladang dan bersawah. Dengan berbagai ilmu kehidupan, ilmu agama dan kesaktiannya, Ida Patni Keniten, dengan penuh kearifan mengajarkan tentang ilmu kehidupan pada warga sekitarnya.


Namun, lama-kelamaan semakin dikenal dan memiliki pengikut ribuan orang dan menjadi ibu seluruh masyarakat di wilayah itu. Beliau akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Bagus Bajra, parasnya rupawan dan menawan.


“Anak-anak Dang Hyang Biyang Patni Keniten tumbuh semakin besar, begitu juga Dyah Ayu Swabawa menjadi putri tumbuh cerdas, penuh pesona, bijaksana memiliki wibawa seperti ayahandanya, bahkan terlihat lebih dewasa daripada umurnya,” ujar Jro Mangku Semadi.


Dalam babad itu juga disebutkan, Dyah Ayu Swabawa memiliki keahlian dalam ilmu dagang. Beliau sangat lihai memikat para pembeli atau memilih barang-barang yang diinginkan oleh pembeli, sehingga para pembeli selalu setia untuk kembali lagi.


Kawasan tempat tinggalnya menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para saudagar sehingga menjadi pusat perniagaan karena masyarakat memang senang berbelanja di tempat tersebut.


Sudah sekian lama menunggu, harapan Dang Hyang Biyang Patni Keniten beserta keluarganya akan kedatangan utusan dari Danghyang Nirartha untuk menjemputnya tidak kunjung tiba. Bahkan Dyah Ayu Swabawa hampir setiap hari memanjat pohon mengawasi dari ketinggian sambil berayun-ayun (bahasa Bali ngelanting), menantikan utusan ayahandanya datang.


Warga sekitar sangat sayang dengan Dyah Ayu. Karena memiliki keahlian memanjat dan berayun di pohon, orang-orang menyebutnya dengan nama Dyah Ayu Melanting. “Nama pura tersebut diambil dari julukan Dyah Ayu, sedangkan ibundanya yang arif, bijaksana dan suka memberi nasehat, diberi nama Mpu Alaki atau seorang arif (mpu) yang sudah memiliki suami (alaki), yang kini menjadi Pulaki,” imbuhnya.


Seiring perjalanan waktu, utusan dari Dang Hyang Nirartha tidak juga datang menjemput, tidak ada kabar berita. Peranda istri sangat menyesalkan perpisahan tersebut. Peranda istri merasa putus asa. Beliau menangis di tempat pemujaan sambil memohon kepada para dewa agar dirinya dan seluruh warga abadi, tidak termakan usia.


Karena kekhusyukannya, akhirnya Dewata memberkatinya, dengan satu syarat, Peranda Istri atau Mpu Alaki akan dibebaskan dari perputaran sang kala, bebas dari penuaan dan kematian, tetapi tidak bisa dilihat oleh orang lain.


Mengetahui hilangnya Dang Hyang Biyang Patni Keniten atau Peranda Istri, Dang Hyang Nirartha mengira bahwa Peranda Istri, anak-anak dan pengikutnya moksa. Hal itu baru disadarinya ketika Dang Hyang Nirartha moksa di ujung selatan Bali, di Pura Uluwatu.


Akhirnya tempat Dang Hyang Patni Keniten hilang bernama pura Pulaki, sesuai gelar beliau, Mpu Alaki. Sedangkan sang putri Diah Subawa Melanting distanakan di Pura Melanting.


“Putranya, Bagus Bajra distanakan di Pura Kerta Kawat sebagai pangeran Mentang Yuda. Pura ini merupakan sumber keadilan dalam memutuskan perkara, sedangkan pengikutnya berubah menjadi wong samar yang terbebas dari perputaran waktu,” tuturnya.


Sebagai pura fungsional, Pura Melanting setiap harinya selalu ramai dikunjungi oleh pemedek. Mereka berasal dari berbagai penjuru Bali. Bahkan pura ini tak hanya ramai dikunjungi saat Purnama dan Tilem, tetapi juga hari-hari suci lainnya.


Saat pujawali yang jatuh setiap Punama Sasih Kapat, yang diperingati setiap setahun sekali, ribuan umat Hindu datang dari berbagai pelosok Bali untuk memohon kelancaran dan kemakmuran usahanya.


Mangku Semadi menegaskan, sejauh ini rata-rata pemedek yang nangkil membuka usaha perdagangan di Bali, misalnya pedagang di pasar, toko sembako, pemilik warung, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan seperti perbankan, lembaga perkreditan desa (LPD) hingga koperasi simpan pinjam.


“Bagi yang berjualan atau memiliki usaha lain, biasanya membawa pejati dan Daksina Linggih untuk mepinunas,” ujar Mangku Semadi kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Menurutnya, tirta yang ditunas di Pura Melanting, dipercikkan di tempat usaha, sedangkan Daksina Linggih distanakan di tempat usaha. Langkah itu diyakini dapat melancarkan bisnis yang dilakoni.


 “Kalau mau ngentosin (mengganti, Red) Daksina Linggih juga bisa. Silahkan dilakukan setiap tahun. Bisa nangkil lagi, baru diganti dengan yang baru daksina linggihnya. Kemudian distanakan di tempat usaha,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#buleleng