Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Telek Kolosal khas Desa Jumpai Buka Festival Semarapura

I Putu Suyatra • Selasa, 30 April 2019 | 01:53 WIB
Tari Telek Kolosal khas Desa Jumpai Buka Festival Semarapura
Tari Telek Kolosal khas Desa Jumpai Buka Festival Semarapura


BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Pembukaan Festival Semarapura ke-IV, bertempat di Perempatan Agung (Catus Pata) depan monument Puputan Klungkung dimeriahkan Tari Telek kolosal khas Desa Jumpai, Klungkung. Jumlah penarinya sesuai tahun digelarnya festival, yakni 2019. Dengan melibatkan siswa SMP dan SMA di Klungkung, jenis tari wali itu pentas di Catus Pata.


Ribuan penari tampil dari empat penjuru arah mata angin. Namun hanya beberapa orang menggunakan pakaian khas Tari Telek. Sisanya menggunakan busana biasa, dengan warna sesuai Dewata Nawa Sanga. Penari dari utara pakaian hitam, timur warna putih, selatan merah, dan barat berwarna kuning. Di akhir pementasan, beberapa penari murwa daksina di Catus Pata.


Koordinator Tari Telek Kolosal I Dewa Gede Alit Saputra mengatakan, pementasan sengaja dikemas berdasarkan empat arah mata angin. Itu karena ingin menelurkan konsep religius. Sehingga tidak sekadar pentas ramai-ramai. “Kami memiliki Catus Pata sebagai pokok pancer. Kami punya folosofi Hindu. Ada tapak dara, suastika, ada purwa daksina. Itu kami kemas dalam Telek Catur Warna,” terang Dewa Alit.


Lanjut dia, tarian yang dipentaskan sekitar 30 menit itu juga sengaja pentas saat sandikala, yang merupakan peralihan sore dan malam hari atau sering disebut tenget. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan taksu tarian tersebut.


Dewa Alit memaparkan, Tari Telek berawal dari cerita seorang kakek di Desa Jumpai bernama Nang Turun. Konon, Turun secara tidak sengaja menemukan bongkahan kayu di pinggir pantai, menyerupai tapel rangda. Itu dibawa ke Pura Dalem Kekeran. Tiba-tiba muncul bayangan berwujud rangda, dan bersabda “tempe kai tempe kai” yang artinya “tirulah aku”.


Mendapat perintah tersebut, Turun memahat bongkahan kayu itu. Namun belum selesai, bayangan tersebut keburu hilang. Tapel rangda yang dibuatnya pun tidak berisi telinga. Sisa kayu itu kemudian dibuat tapel barong, jauk, dan tapel telek yang menjadi satu kesatuan dalam pementasan Tari Telek.


Saat pertama kali masolah, warga Jumpai mengalami gerubug (wabah penyakit). Tak sedikit yang meninggal. Warga Jumpai yang ketakutan memilih meninggalkan Desa Jumpai. Sedangkan yang bertahan akhirnya melarung tapel-tapel itu ke laut. Anehnya malah muncul lagi. Sehingga diputuskan disungsung, dan masolah pada hari-hari tertentu.


Salah seorang warga Jumpai Ketut Suarjana yang juga pembina sekaa gong yang mengiringi tarian kemarin mengatakan, Tari Telek masolah tiap 15 hari sekali atau tiap Kajeng Kliwon di banjar wilayah Desa Jumpai. Setiap sugihan bali (lima hari jelang Galungan) masolah di Catus Pata desa setempat. Begitu pula setiap piodalan atau karya di Pura Desa Jumpai juga dipentaskan Tari Telek.


Festival kemarin dibuka Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. Ia mengapresiasi festival tersebut. Itu sebagai salah satu upaya membangkitkan seni dan budaya. Sedangkan Suwirta mengatakan bahwa festival merupakan bagian dari promosi wisata. Klungkung mempunyai berbagai potensi, baik alam maupun budaya. Hal itu bisa menjadi sumber pendapatan daerah, salah satunya dengan mendatangkan wisatawan. “Wisatawan tidak datang dengan sendirinya, UMKM tidak maju dengan sendiri. Salah satu kuncinya adalah promosi,” ujar Suwirta. Pihaknya pun berharap masyarakat memahami arti penting promosi yang menelan anggaran tak sedikit.


Saat memberikan sambutan kemarin, Suwirta juga sempat menyinggung pementasan Tari Telek kolosal. Ia mengakui itu idenya. Itu berawal dari sembahyang di Desa Jumpai, kebetulan ada Tari Telek.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tari bali #klungkung