Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Penjelasan Penggagas Video Canang Dibungkus Senteng

I Putu Suyatra • Jumat, 7 Juni 2019 | 01:11 WIB
Begini Penjelasan Penggagas Video Canang Dibungkus Senteng
Begini Penjelasan Penggagas Video Canang Dibungkus Senteng


BALI EXPRESS, GIANYAR  - Vidio pendek tentang pengurangan sampah plastik saat membeli canang dibungkus dengan selendang terjadi pro dan kontra para netizen setelah viral di media sosial. Pro dan kontra itu pun memang tujuan dari rumah produksi film pendek tersebut dan akan menerima konsekwensinya. Hal itu diungkapkan oleh salah satu penggagasnya, Rai Pendet saat  ditemui  di Jalan Nyuh Bulan, No. 24, Banjar  Nyuh Kuning, Kecamatan Ubud, Kamis (6/6).


Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pria alumnus Jurusan Film Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja ini juga mengaku tujuan awalnya adalah mengajak masyarakat agar mengurangi penggunaan sampah plastik. “Kita ingin kampanyekan plastik yang digunakan membungkus canang itu membuat leteh, makanya kita setting saat pembuatan video si pembeli canang tidak membawa tas untuk membawanya. Dagang canangnya juga tidak menyediakan, sehingga apa yang melekat pada badan pembeli ini itulah digunakan pembungkus canang, maka kita gunakan selendangnya itu,” jelas dia.


Pria yang baru selesai menyelesaikan Magister perfilman pada salah satu universitas di Kuala Lumpur ini juga mengaku pihaknya membuat dua film pendek. Pada video yang pertama diperankan oleh seroang pria namun membeli buah dan menggunakan bajunya untuk tempat buah tersebut. Sedangkan video yang kedua diperankan oleh perempuan dengan membeli canang yang menggunakan selendangnya yang membuat pro kontra ini.  


“Kita memang konsepkan vidionya itu lanang wadong (laki-perempuan), keduanya kita bikin barengan pada 12 April 2019 lalu di Pasar Batubulan. Tapi yang pro kontra hanya pada video pembeli canang dengan dibungkus selendang ini. Tapi kita fokuskan pada pengurangan sampah plastik, entah ada yang kontra kita akan terima konsekwensinya. Jika ada yang protes juga saya siap beri argumen,” ungkap Rai.


Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengaku ketika hal itu dipermasalahkan bagaimana dengan membeli canang dan mengendarai sepeda motor di taruh pada tempat barang. Tentu ada di depan tempat duduk, apakah itu tidak termasuk leteh?, sehingga ia menampik jika video yang diproduksinnya tersebut kekurangpahaman pihaknya tentang arti leteh. Lantaran ia berpikir setiap menghaturkan sesuatu berupa canang dan sesajen tentu ada penglukatan terlebih dahulu jika masuk pura.


“Kita sudah pikirkan itu saat membuat naskah awal Maret lalu, saat syuting juga kita berkoordikasi dengan pemerannya, makanya kita pilih gunakan selendang. Ketika video ini tayang untuk mengajak pengurangan penggunaan sampah plastik dan mendapatkan respon dan argument di publik, itulah yang kita inginkan. Yang penting vidio itu menceritakan ketika keadaan urgent sekali dan si pembeli tidak membawa apa-apa untuk menaruh canangnya,” ucap pria 27 tahun tersebut.


Sedangkan dikonfirmasi Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Gianyar, I Nyoman Patra mengaku hal itu bukanlah salah. Melainkan hanya perlu dipoles agar lebih matang terkait makna tata,susila dan acara yang ingin disampaikan. Sehingga tidak akan menjadi tumpang tindih di tengah masyarakat. Lantaran video yang berdurasi satu menit tiga detik tersebut hanya memfokuskan mengajak publik agar tidak menggunakan sampah plastik saja.


“Kita tidak menyalahkan ya, tetapi pesan yang ingin disampaikan kan hanya mengajak publik agar mengurangi penggunaan pasltik saja. Namun lupa dengan tatwa, susila dan acara yang terkandung di dalamnya. Kalau dibilang leteh tidak juga, karena setiap sesajen apapun yang kita haturkan ke pura pasti kita lukat terlebih dulu, jangan sesajen diri kita sendiri juga kan disirat toh mau masuk pura,” tegasnya.


Menanggapi video tersebut, ia menyarankan agar lebih berkoordinasi dengan tokoh agama terlebih dahulu ketika membuat iklan yang berisi tentang ajaran kegamaan. Sehingga pesan yang disampaikan ke pada publik sesuai tata,susila, dan upacara, bisa tepat sasaran, dan dapat meminimalisir kekeliruan.  

Editor : I Putu Suyatra
#hindu