BALI EXPRESS, SINGARAJA - Nama Pura Pemayun yang berlokasi di Banjar Tegal, nampaknya tak begitu asing di kalangan pejabat, khususnya di Buleleng. Bagaimana tidak, di pura ini kerap didatangi pejabat mulai dari Bupati, Gubernur, dan politisi untuk memohon agar selalu menang dalam kontestasi pilkada. Menariknya, pura ini juga menyimpan keris pusaka yang diyakini warisan dari Raja Ki Barak Panji Sakti.
Pura Pemayun secara administratif berlokasi di Jalan Pahlawan, Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng. Posisinya berada di dalam Kota Singaraja, tepatnya 400 meter sebelah barat Kantor Bupati Buleleng. Pamedek (umat) yang hendak tangkil (datang sembahyang) bisa menjangkau dengan kendaraan sepeda motor ataupun mobil.
Pura ini memiliki dwi mandala. Di bagian madya mandala hanya terdapat wantilan dan bale pebatan. Sedangkan pada bagian utama mandala terdapat sebanyak 21 gugusan palinggih. Dari puluhan palinggih itu, yang paling menyita perhatian adalah Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji dan Dewa Sakti Bayu.
Juru Sapuh Pura Pemayun Jro Komang Arta Merta mengatakan, Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji diasosiasikan sebagai altar untuk memuja Dewa Ayu Ngurah Panji. Palinggih ini secara historis merupakan fakta yang menghubungkan pura ini dengan Desa Panji.
Hanya saja Jro Komang Arta Merta mengaku, jika sumber-sumber yang menjelaskan hubungan antara Pura Pemayun dan Panji Sakti sangat sedikit dan diperoleh secara oral dari para pendahulunya. Di dalam Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji yang menyerupai Gedong Simpen, disemayamkan Keris Pusaka milik Ki Barak Panji Sakti yang sangat dikeramatkan di Pura Pemayun.
“Keris milik Ki Barak Panji Sakti ini sangat dikeramatkan. Diyakini memiiki kekuatan magis. Jarang diperlihatkan kerisnya karena tidak boleh sembarangan,” kata Jro Komang Arta Merta kepada Bali Express (Jawa Pos Group), kemarin.
Selain terdapat Palinggih Dewa Ayu Ngurah Panji, di Pura Pemayun juga terdapat Palinggih Dewa Bayu Sakti. Palinggih ini menyerupai singgasana yang tingginya mencapai enam meter. Karena posisinya paling tinggi di antara gugusan palinggih, maka terdapat sembilan anak tangga untuk bisa menjangkau palinggih tersebut.
“Palinggih Dewa Sakti Bayu ini mirip seperti singgasana kerajaan. Menurut cerita leluhur, Dewa inilah katanya yang tertua di Pura Pemayun, karena bertahta di atas padmasana, sampai-sampai para pedanda pun mau memujanya, sehingga banyak pejabat atau politisi yang datang untuk 'memohon' jabatan. ” imbuh Jro Komang Arta Merta.
Selain sebagai tempat memohon jabatan, lanjutnya, banyak krama yang nangkil dari berbagai daerah untuk memohon tamba (obat). Rata-rata mereka yang nunas (memohon) tamba mengalami sakit secara niskala akibat black magic.
Tamba tersebut berupa tirta yang diperoleh dari Pura Pemayun yang telah dipasupati. “Selama ini memang banyak yang nangkil nunas tamba, utamanya yang sakit karena non medis. Astungkara juga banyak yang sembuh. Tiang hanya membantu nguningang (menyampaikan). Biar beliau yang memberikan kesembuhan,” tuturnya.
Uniknya lagi, pura yang disungsung sekitar 2.000-an krama Banjar Tegal ini, juga memiliki keunikan tersendiri. Dimana masyarakat dapat nunas Penerang untuk memohon cuaca tetap terang saat musim hujan.
Hal itu kerap dilakukan apabila krama memilik hajatan seperti upacara panca yadnya agar tak diguyur hujan. “Biasanya nunas Penerangnya di Palinggih Dewa Bagus Semar. Astungkara selalu diberkati. Tiang hanya ngawekasang saja,” ujar pria yang kejumput sebagai Jro Sapuh sejak usia delapan tahun tersebut.
Saat ditanya soal pujawali, Jro Merta menyebut pelaksanaannya dibagi menjadi dua. Yakni Agung (besar) dan Alit (kecil). Pujawali Alit dilaksanakan setiap enam bulan sekali berdasarkan perhitungan Wuku, tepatnya Buda Kliwon Pahang.
Sedangkan untuk Pujawali Agung dilaksanakan setiap dua tahun sekali. “Tetap waktunya dilaksanakan pada Buda Kliwon Pahang. Tetapi tingkatannya yaitu Nyatur. Pelaksanaannya bisa nyejer sampai lima harian. Nanti dipuput oleh Sulinggih saat Nyatur,” imbuhnya
Nah, saat pujawali itulah ada pementasan sejumlah tarian sakral. Seperti Baris Gede Demang-Demung, Baris Pencak Silat, Baris Pependetan. Dikatakan Jro Komang Arta Merta, khusus Baris Demang-Demung wajib dipentaskan saat pujawali. Terlebih para penari Baris Demang-Demung tidak boleh sembarangan dipentaskan selain di Pura Pemayun. Dimana penarinya hanya krama Banjar Tegal dan yang ngayah itu berdasarkan keturunan saja. “Baris Demang-Demung itu penarinya keturunan. Dulu jumlahnya delapan orang. Sekarang jumlahnya sudah 16 orang. Pakaiannya juga unik dan berwarna merah,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra