Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pande Wesi Dalem Majapahit; Lakukan Puja Sembilan Kali

I Putu Suyatra • Kamis, 22 Agustus 2019 | 18:15 WIB
Pura Pande Wesi Dalem Majapahit; Lakukan Puja Sembilan Kali
Pura Pande Wesi Dalem Majapahit; Lakukan Puja Sembilan Kali

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Pura Pande Wesi Dalem Majapahit, sebuah pura keluarga yang diempon soroh Pande ternyata banyak warga di luar Pande ikut bersembahyang. Wah kok bisa ya?


Pura Pande Wesi Dalem Majapahit yang terletak di kiri Jalan Raya Buduk, Badung, jadi kian menarik karena berdiri bersebelahan dengan Gereja Katolik Santa Maria Assumpta.
Pura ini diempon oleh keluarga Pande. Pande merupakan keturunan (klan) dari seseorang yang dahulu leluhurnya mempunyai profesi memande (membuat perkakas) dari logam berupa perunggu, besi, bahkan ada juga emas dan perak.



Mangku Pura Pande Wesi Dalem Majapahit, Mangku Made Budiyasa mengatakan tidak mengetahui kapan persisnya pura dibangun.  “Kakek saya pun dahulu juga jadi mangku, mungkin berdirinya sudah lama ya,” ujar pria 59 tahun ini.



Nama pura sendiri baru diketahui saat pemugaran. Dulu orang hanya tahu bahwa nama pura ini adalah Pura Pande. “Ia kami yang ngempon  tahunya hanya itu saja. Sampai saat pemugaran tahun 2001, kami menemukan secarik lontar di dalam gedong. Setelah dibaca akhirnya kami tahu bahwa nama pura kami adalah Pura Pande Wesi Dalem Majapahit,” bebernya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Saat ditanyai tentang hubungan dengan keturunan Pande Wesi dari Majapahit,
Mangku Made Budiyasa juga kurang mengetahui karena lontar yang ditemukan hanya berisikan tulisan nama pura saja. “Iya hanya selembar saja, isi nama pura. Makanya sekarang nama pura menjadi seperti itu,” terang mangku yang pernah kerja di salah satu bank swasta ini.
Pura Pande Wesi Dalem Majapahit ini rupanya punya keunikan sendiri. Di empon oleh sebelas Kepala Keluarga (KK), ternyata banyak pamedek di luar soroh Pande yang ikut bersembahyang saat piodalan yang  jatuh pada Anggara Kasih Wuku Kulantir.


Diakuinya, walau berstatus sebagai pura keluarga, namun  tetap mempersilakan warga lain bersembahyang.  "Konon, dahulu kakek saya selain sebaga pemangku juga  balian. Sehingga sering membantu untuk penyembuhan warga. Mungkin karena itu, akhirnya sampai sekarang warga dari luar sembahyang juga ke sini. Kami tidak menolak, toh semua muaranya menyembah Sang Hyang Widhi ,” terang pria yang dikarunia tiga anak ini.


Ada kisah miris yang dia ceritakan tentang perstiwa pencurian yang terjadi di puranya. Pratima milik Pura Pande Wesi Dalem Majapahit dicuri orang. Orang yang mencuri justru adalah orang Bali. “Saat saya melihat pratima yang berhasil diselamatkan oleh polisi, ternyata tidak ada pratima milik pura saya. Kemungkinan sudah digadaikan oleh pencurinya,” ucapnya lirih.


Namun ada sesuatu yang lucu baginya saat mendengar keterangan polisi. Ternyata tersangka pencuri mengambil juga pratima milik puranya sendiri.  


Pura Pande Wesi Dalem Majapahit sendiri memiliki beberapa palinggih, yakni ada Palinggih Perapen, Palinggih Ratu Biang Dewa Hyang Ibu, Palinggih Dewa Hyang, Palinggih Pelik Sari, Padmasana berbentuk candi, Taksu dan Manik Galih.  Kemudian tata urutan persembahyangan di pura yang terletak di Banjar Tampak Kerep ini, ada sembilan tahapan yang tentu berbeda dengan  umumnya yang dikenal masyarakat. “Tahapan pertama itu tidak dengan tangan tanpa sarana, tetapi langsung dengan kwangen,” terang Mangku Made Budiyasa.


Tahap pertama ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan kwangen. Tahap kedua juga ditujukan kepada Sang Hyang Widhi, namun menggunakan sekar (bunga) saja. Tahap ketiga dan keempat ditujukan pada Nabe Kawitan dengan sarana kwangen lalu selanjutnya sekar. Tahap kelima dan keenam dtujukan kepada Bhatara Aji Pande Sakti dengan kwangen dan selanjutnya sekar. Tahap ketujuh dan kedelapan ditujukan kepada Ring Dewa miwah ring Dewa Jang Kemimitan dengan dua kwangen, dan selanjutnya sekar  jangkep. Tahap terakhir ( kesembilan) sama dengan umumnya, yakni dengan tangan tanpa sarana.


Namun tak ditampiknya, suasana tidak seperti zaman dahulu. Mengingat kini   keluarga dari pengempon pura banyak kerja di luar bidang memande. “Jadinya, kami hanya punya perapen saja. Dahulu masih ada salah satu anggota keluarga yang memande, namun karena sudah tua akhirnya beliau pensiun,” terang Mangku Made Budiyasa saat mengantar koran ini menengok ke dalam pura.


“Namun, kita tetap mempertahankan dengan membuat perapen dan selalu menghaturkan bakti di sana,” imbuhnya lagi.


Selain itu, yang khas lagi tentang pura ini adalah karena bersebelahan dengan gereja, toleransi umat berjalan baik. “Dahulu gereja kan belum seperti sekarang ini. Saat pemugaran pura, karena kami kekurangan tempat akhirnya meminta izin dan dipersiakan pihak gereja untuk memakai halaman gereja untuk menaruh peralatan. Di Buduk ini, toleransi antarumat beragama sangat baik sejak dahulu,” pungkas Mangku Made Budiyasa. (agus sueca merta)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura