BALI EXPRESS, MENGWI - Pura Manik Galih adalah tempat pemujaan kepada Dewi Sri yang merupakan Sakti dari Dewa Wisnu. Pura yang ada di Desa Buduk, Mengwi, Badung, Bali, ini terbilang unik. Ada salah satu tempat pemujaan yang tidak seperti pada umumnya.
Dewi Sri yang juga disebut Dewi Padi, merupakan sosok yang diyakini sebagai Dewi Kesuburan berstana di Pura Manik Galih. Suburnya tanaman pangan menjadi tanda kemakmuran ekonomi masyarakat, patut disyukuri petani. Meski belakangan ini, areal persawahan terus menyempit digerus pembangunan infrastruktur, namun petani tak menyurutkan baktinya untuk tetap bersyukur. Lantaran itu pula, Pura Manik Galih yang diyakini sebagai stana Dewi Sri tetap menjadi tujuan utama petani di zaman modern ini untuk sembahyang mengucap syukur kepada beliau.
“Walau sudah banyak yang berprofesi diluar bidang pertanian, masih banyak pangempon yang punya sawah,” ujar pemangku Pura Manik Galih, Jro Mangku Made Pasek Arsana, 76, saat ditemui di rumahnya.
Konon menurut cerita tetua dulu, Pura Manik Galih yang berlokasi di Desa Buduk ini
dibangun karena pada masa lampau ada seorang raja dari Kerajaan Mengwi yang ikut Matajen (adu ayam), namun ayamnya lepas dan lari bersembunyi. Setelah dicari,
ayam kepunyaan raja tersebut ternyata bersembunyi di bawah pohon Keket.
Setelah ayam ditemukan, raja kemudian bersabda agar di area pohon Keket dibangun pura. Setelah pura dibangun lantas dinamai Pura Batan Keket. “Cerita orang dahulu seperti itu, tetapi karena tidak adanya purana, saya kurang bisa memastikan kebenarannya juga,” ujar Jro Mangku Made Pasek Arsana.
Selain itu, lanjutnya, kemungkinan raja itu juga memberikan laba pura berupa sawah sekitar 15 are, yang hasilnya bisa digunakan untuk piodalan. Perubahan nama pura akhirnya dilakukan di tahun 1985 menjadi nama yang dikenal seperti sekarang, yakni Pura Manik Galih.
Piodalannya jatuh pada Buda Kliwon Wuku Shinta bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi. “Bebantenannya sama dengan pura pada umumnya, ada tumpeng solas saat piodalan biasa. Kalau saat odalan jelih ya pulagembal,” tutur pria yang menjadi mangku sejak pensiun kerja ini.
Jro Mangku Made Pasek Arsana menambahkan bahwa pohon Keket dahulu ada di sebelah barat daya pura. “Sebelum dibangun balai gong ini, ada pohon Keket. Saya masih ingat itu. Kori agung pura ini pun masih berarsitektur tua, dibuat tahun 1973. Harapan saya semoga tetap bisa dipertahankan,” ujarnya bersemangat. (agus sueca merta)
Editor : I Putu Suyatra