BALI EXPRESS, GIANYAR - Lunga atau yang disebut dengan Ngunya Sasuhunan (sosok yang disakralkan) jika di Gianyar bagian barat sudah tidak asing lagi. Pasalnya, tradisi itu biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali di masing-masing desa adat dengan nedunang (napak pertiwi) Sasuhunan yang ada, baik berupa Barong maupun Rangda, agar warga terhindar dari marabahaya.
Ngunya yang satu ini berbeda dengan yang biasa. Tradisinya dilakukan setiap enam tahun sekali, berlangsung 42 hari dengan berjalan kaki lintas kabupaten.
Tradisi Ngunya melibatkan Sasuhunan Pura Luhur Natar Sari dengan melintasi dua kabupaten yang ada. Yakni mulai dari lokasi pura yang ada di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, menuju Kecamatan Petang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, dan menuju wilayah Kabupaten Gianyar bagian barat. Konon tradisi tersebut untuk menetralisasi hal-hal negatif terhadap warga (krama) yang ada di ketiga kabupaten tersebut.
“Sebenarnya Ida Sasuhunan Pura Luhur Natar Sari Ngunya setiap tiga tahun sekali, namun tiga tahun di daerah bagian barat pura. Sedangkan tiga tahun selanjutnya di wilayah timur pura, yaitu Badung dan wilayah Gianyar, rata-rata waktu yang ditempuh selama 42 hari. Itu dengan cara memarga (jalan kaki), berawal dari Pura Pucak Padang Dawa saat Galungan, selanjutnya menuju arah timur ke Badung, Payangan, Badung kembali, dan balik ke Tabanan untuk melakukan piodalan,” terang Penyarikan Pura Luhur Natar Sari, I Wayan Subali kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu.
Disinggung soal sejarah, Sasuhunan yang berupa Barong, Rangda, dan Tapakan, ia menjelaskan sesuai sumber yang dapat digalinya dari lelingsirnya terdahulu. Yakni terkait sejarah Tapakan Bhatara Sakti Nawa Sanga, Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari. Dikatakannya, Tapakan Ida Bhatara yang distanakan di Pura Luhur Natar Sari, Apuan, bermula bahannya kayu dari Puri Ageng Mengwi yang ketika itu membuat kentungan dengan bahan kayu Selagui yang berasal dari Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur.
Sisa potongan kayu Selagui yang dipakai kulkul tersebut, lanjutnya, digunakan untuk membuat beberapa topeng, seperti Rahwana, (Ratu Ngurah Sakti Nga wa Rat), Delem (Ratu Ngurah Made) dan Sangut (Ratu Ngurah Ketut) dengan undaginya dari Griya Cepaka, Abiansemal, Badung.
Selain untuk membuat tiga buah topeng tersebut, juga dibuat satu buah Pratima berbentuk Ular (Naga). Namun terjadi keajaiban, topeng (Pratima Naga) tersebut sebelum dipasupati, ternyata terbang ke angkasa dan menghilang. Beberapa lama kemudian disusul menghilangnya tiga tapel yang dibuat sebelumnya.
Ketika dicaritahu, beberapa hari kemudian semuanya itu diketahui berada di Munduk Byas yang ada di Nusa Penida, Klungkung. Ketika itu di Munduk Byas Nusa Penida sedang dilakukan prosesi upacara Malelad selama 42 hari. Namun, ketiga tapel yang berada di Nusa Penida tersebut akhirnya juga menghilang dan tak seorangpun yang mengetahuinya. Dan, secara tak terduga topeng tersebut ditemukan di Pura Bedugul, Desa Payangan, Kecamatan Marga, Tabanan.
“Setelah beberapa lama, ketiga Tapakan Ida Bhatara itu akhirnya distanakan di Pura Luhur Pucak Padang Dawa, Apityeh, Baturiti. Untuk melindungi serta menjaga keamanan Tapakan Ida Bhatara, akhirnya distanakan di Pura Puseh Tua, Marga. Selain itu, juga sebagai pertanda tradisi Ngunya dilakukan selama 42 hari juga,” paparnya.
Lantaran adanya musibah, akhirnya Tapakan Ida Bhatara dipindahkan ke lokasi Pura Puseh Adat Apuan (sekarang Pura Puseh Desa Pakraman Apuan) yang satu areal (natar) dengan areal Pura Luhur Natar Sari. “Sehingga sampai saat ini Tapakan Ida Bhatara Pura Luhur Natar Sari berjumlah 9 buah. Selain Barong dan Rangda, salah satunya juga ada Barong Blas-Blasan, atau sering disebut dengan istilah Barong Kedingkling," urainya.
Subali menambahkan, Ngunya dilakukan menjelang karya di Pura Luhur Natar Sari, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Bahkan, dalam perjalannya melintasi berabagai macam kondisi jalan. Mulai dari jalan setapak, menyebrang sungai hingga naik perbukitan. Dari Desa Getasan, Kecamatan Petang, Badung menuju Banjar Sema, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan Gianyar juga harus melintasi jurang. Termasuk menyeberang Sungai Ayung, semuanya ia katakan dengan berjalan kaki. Bahkan, sekitar 26 kilometer menyusuri jurang dan tebing ngiring sasuhunan dari Getasan, Petang, menuju Payangan Gianyar.
“Kita jalan kaki ngiringnya, karena ini memang tradisi dari leluhur terdahulu dan tidak ada yang berani melanggarnya. Apalagi diubah dengan naik kendaraan, tidak ada yang berani. Tujuannya karena untuk macecingak (melihat langsung) panjak Ida agar diberikan keselamatan dan terhindar dari sekancan mala (segala musibah),” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, Subali menyampaikan khusus di Gianyar bagian barat, Sasuhunan lunga pertama di Banjar Sema, Desa Melinggih, Payangan. Kemudian menuju Pura Gunung Lebah, Ubud, Pura Ambara Sari, Banjar Katik Kantang, Desa Singakerta. Selanjutnya akan dilanjutkan menuju Kengetan untuk kemudian kembali ke di Desa Abiansemal, Badung. “Ida juga akan menuju Pantai Batu Bolong untuk prosesi Pamelastian. Setelah itu baru kembali ke Pura Luhur Natar Sari Apuan untuk dilangsungkan piodalan pada Tumpek Krulut mendatang,” tandasnya.
Dalam kesempatan terpisah, tokoh Puri Ubud, Tjokorda Raka Kerthyasa atau yang kerap disapa Cok Ibah mengatakan, khusus untuk desa dan pura tempat lunga Ida Sasuhunan Pura Luhur Natar Sari itu merupakan pasimpangan-Nya. Sehingga setiap enam tahun sekali dilakukannya prosesi Ngunya tersebut. Meski disebut jarang, ia juga mengaku prosesi Ngunya ke wilayah Gianyar, biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing desa. “Prosesi seperti ini juga melihat dresta masing-masing desa yang akan dilewati ataupun disinggahi. Kalau terjadi suatu kecuntakan otomatis tidak dilangsungkan lunga,” tandasnya. (putu agus adegrantika)