Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK, di Penuktukan Ada Tradisi Antar Roh dengan Matuun dan Mamarek

I Putu Suyatra • Rabu, 25 September 2019 | 18:11 WIB
UNIK, di Penuktukan Ada Tradisi Antar Roh dengan Matuun dan Mamarek
UNIK, di Penuktukan Ada Tradisi Antar Roh dengan Matuun dan Mamarek

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Setelah seorang meninggal dunia akan dibuatkan upacara Ngaben. Upacara Pitra Yadnya bagi umat Hindu ini, bertujuan untuk melepaskan Sang Atma atau Roh dari belenggu keduniawian. Namun, berbeda dengan tradisi yang ada di Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Tidak ada ngaben. Yang ada adalah Matuun dan Memarek.


Di Desa Penuktukan, Tejakula, Buleleng, tingkatan upacara untuk orang yang sudah meninggal disebut Matuun dan Mamarek. Upacara ini tujuannya  sama seperti upacara Ngaben, dan  sudah dijalankan turun temurun dan merupakan warisan  leluhur.
Menurut Kelian Banjar Adat Penuktukan, Jero Penyarikan Nyoman Adnyana,  serangkaian upacara Pitra Yadnya di Penuktukan ada dua, yaitu Matuun dan Mamarek. Upacara tersebut dilakukan karena  merupakan tradisi krama Desa Penuktukan yang sudah didapat dari awalnya ada desa ini.


"Setiap ada orang yang meninggal dunia, maka akan dikuburkan di setra yang bersebelahan dengan Pura Dalem Beten Ancak," urainya. 


Dijelaskan Nyoman Adnyana, konon sebelum upacara dilaksanakan dipercaya bahwa Sang Atma atau Roh tersebut masih berkelana kesana kemari serta berada di bawah pengawasan Ida Bhatara Prajapati atau Atma tersebut masih mengabdi kepada Beliau.


"Maka, tujuan dari upacara tersebut  agar Sang Atma atau Roh bisa diizinkan untuk menjalani upacara pembersihan atau panyucian sebelum berstana di tempat berstananya para leluhur yang masih ada hubungan keluarga dari purusa atau cowok (Pura Sindetan). 


Di samping itu, lanjutnya, Atma atau Roh yang sudah bersih dan suci tersebut bisa menyatu dengan Tuhan atau menjadi Atma Atau Roh yang sudah menjalani upacara Matuun dan Mamarek dan berstana di Pura Sindetan (Dewa Hyang).


Ditekankannya, dalam prosesi Matuun ada aturan yang yang harus ditaati sesuai dengan tradisi, yaitu orang atau krama desa yang meninggal minimal sudah satu tahun dikuburkan. Jangka waktu tersebut ditentukan, karena  menyatunya jasad dengan ibu pertiwi prosesnya butuh satu tahun.


Setelah waktunya memenuhi syarat,  baru pihak keluarga bisa melangsungkan upacara tersebut untuk Sang Atma atau Roh anggota keluarganya. 


Tiga hari sebelum puncak upacara Matuun  akan dilangsungkan upacara pembersihan (penyucian)  segala sarana banten, raga, dan juga pikiran yang  biasa disebut dengan upacara Ngingsah. Selanjutnya pada puncak acara Matuun, cukup dilaksanakan di rumah dengan memanggil Sang Atma atau Roh dengan memohon permakluman atau permohonan penganugerahan dari Ida Bhatra yang berstana di Pura Prajapati yang berada bersebelahan dengan Pura Dalem Beten Ancak (sebutan orang terdahulu).


Upacara dilaksanakan selama sehari, “Umumnya kalau sesuai dengan tradisi yang ada, memang aturan untuk melaksanakan upacara Matuun itu minimal usia dari krama desa yang meninggal dunia sudah satu tahun dikubur, namun bisa juga lewat,” imbuhnya.


Setelah memanggil Sang Atma atau Roh, maka akan disediakan media sebagai tempat berstananya berupa Jemek atau Cicilian. Kemudian media tersebut sebelum mengikuti prosesi upacara Matuun akan dipersembahkan minuman dan makanan yang biasanya disebut Soda.


Beberapa menit kemudian akan dilangsungkan rangkain puncak dari upacara Matuun. Setelah selesai prosesi Matuun, maka Jemek tersebut akan melewati upacara Ngalebar atau Sang Atma dibebaskan kembali.


Prosesi itu dilaksanakan tepat di lebuh (pintu masuk rumah). Namun, sesuai Loka Dresta (aturan) yang ada dalam tradisi upacara Matuun, Sang Atma masih dianggap sebel (kotor). Maka yang diutus untuk memimpin prosesi ini bukanlah pemangku, melainkan oleh sesepuh atau tetua yang dipercaya oleh keluarga bersangkutan.


“Yang menghaturkan upacara bukan jro mangku, melainkan sesepuh khusus untuk upacara Pitra Yadnya Matuun,” jelasnya.


Pada tahapan selanjutnya, setelah 12 hari  upacara Matuun selesai dilaksanakan, maka  dilanjutkan dengan upacara Mamarek. Terkait upacara ini, tiga  hari sebelum puncaknya juga akan dilakukan upacara Ngingsah di sumur suci yang dipercaya krama desa sebagai tempat memohon tirta.


Kenapa harus 12 hari? “12 hari karena sesuai cerita pangelisir atau sesepuh terdahulu, 12 hari itu merupakan perhitungan cuntaka orang, sehingga dipakai untuk tingkatan upacara Mamarek. Sebelum tiga hari menuju puncak acara, juga akan dilakukan upacara Ngingsah sama seperti rangkaian awal pas upacara Matuun,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.


 


Pensiunan Kepala Sekolah Dasar ini juga menambahkan, rangkaian upacara Mamarek, pihak keluarga akan melaksanakan persembahyangan di empat tempat, yaitu Pura Penyambutan, Pura Dalem Beten Ancak, Pura Dalem Pingit, dan terakhir di Pura Sindetan.


Diawali dengan upacara Nyambutin (memanggil) Sang Atma di Pura Penyambutan Pengacangan. Di tempat ini pihak keluarga yang dipimpin oleh pemangku akan memohon izin serta restu agar Sang Atma diizinkan untuk kembali masuk ke dalam media Jemek atau Cicilian untuk menjalani proses Mamarek.


Pada saat upacara akan ada ayam (Penyelidii) yang sesuai jenis kelamin Sang Atma dilepas dan diterbangkan sebagai tanda syukur pihak keluarga kepada Ida Bhatara yang berstana di pura tersebut.


“Setelah upacara Matuun Sang Atma akan berkelana kembali ke tempatnya. Nah di sini Sang Atma akan dipanggil kembali agar masuk ke dalam Jemek atau Cicilian karena akan dibuatkan upacara Mamarek,” imbuhnya.  


Setelah selesai rangkaian upacara di Pura Penyambutan, maka Jemek atau Cicilian dibawa pulang ke rumah dan diberikan persembahan berupa minuman ataupun makanan (Soda). Selang beberapa menit, pihak keluarga akan melanjutkan ke Pura Dalem Beten Ancak dengan membawa serta Jemek atau Cicilian tersebut.


Di tempat ini pihak keluarga mengucapkan rasa terima kasih, memohonkan  maaf yang meninggal bila ada kesalahan. Setelah itu, pihak keluarga akan mengantarkan Sang Atma yang berupa Jemek atau Cicilian ke status Pesuciannya kepada Ida Bhatara atau Sang Hyang Widi Wasa yang berstana di Pura Dalem Beten Ancak. 


Kemudian setelah selesai di tempat tersebut, upacara dilanjutkan ke Pura Dalem Pingit. Di pura ini dilakukan semacam upacara Nyegara Gunung. Pemangku  sebagai perantara dari pihak keluarga mengucapakan rasa terima kasih kepada Ida Bhatara Bhatari yang berstana di gunung maupun yang berstana di laut, karena sudah memberikan berkah untuk memakai sarana yang dihasilkan untuk melaksanakan upacara Mamarek, baik yang berasal dari gunung maupun laut.


Dan, di tempat ini juga sebagai simbolisasi beberapa pura yang biasa dipakai maajar-ajar dalam upacara Ngaben. Prosesi ini menyebabkan krama Desa Penuktukan tidak perlu lagi melakukan upacara seperti Maajar-ajar karena sudah cukup di tempat ini. 


Setelah selesai di tempat tersebut, maka Jemek atau Cicilian  dibawa pulang kembali untuk diberikan  persembahan berupa makanan dan minuman seperti sebelumnya. Selanjutnya setelah beberapa menit kemudian, akhir dari rangkaian upacara Mamarek adalah menuju Pura Sindetan untuk melaksanakan upacara menyatukan Sang Atma dengan Ida Bhatara atau para leluhur (Ngenemang).  Jemek atau Cicilian ditempatkan di Kemulan Pura Sindetan dan Sang Atma dipercaya telah menyatu dengan-Nya.


"Rangkaian terakhir dari upacara, Jemek atau Cicilian tersebut dilebar kembali," tutupnya. (darma wibawa)

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #ngaben #hindu #tradisi hindu #tradisi unik #buleleng