Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hari Ini Didiksa, Indra Udayana Mati Raga Saat Bulan Mati

I Putu Suyatra • Senin, 28 Oktober 2019 | 20:56 WIB
Hari Ini Didiksa, Indra Udayana Mati Raga Saat Bulan Mati
Hari Ini Didiksa, Indra Udayana Mati Raga Saat Bulan Mati

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Brahmacaria  Indra Udayana akhirnya memutuskan menjadi seorang Sulinggih. Bertepatan dengan Tilem (bulan mati)  Kapat Soma Umanis Bali,  Senin (28/10) hari ini, pendiri Ashram Gandhi Puri ini, didiksa sekaligus melaksanakan Nyeda (mati) Raga.


Prosesi madiksa untuk menjadi seorang Sulinggih dilaksanakan di Jeroan Saren Anyar, Jalan Pandu No 4, Banjar Jabon, Desa Sampalan Tengah, Klungkung, hari ini, Selasa, 28 Oktober 2019. Ada tiga nabe yang akan menuntun sekaligus menjadi saksi, yakni Nabe Tapak Ida Pandita Mpu Yaksa Daksa Acharya Manuaba dari Griya Agung Siwa Gni Manuaba, Denpasar.
Nabe Saksi Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Sidhanta Manuaba dari Griya Agung Manik Gni Manuaba, Badung, dan  Nabe Waktra adalah Pandita Nabe Sri Bhagawan  Agni Yogananda dari Griya Santabana Payuk, Bangli.



Dikatakan Indra Udayana, Diksa atau Madiksa yang  juga disebut dengan 'Divya Jnyanan' adalah  sebuah proses upacara  untuk dapat  menerima sinar suci ilmu pengetahuan
yang berfungsi untuk  melenyapkan kegelapan pikiran, agar mencapai kesempurnaan  
yang merupakan salah satu bagian dari  Saptangga Dharma, yaitu dengan cara menjalankan upacara  inisiasi agar dapat  menunggalkan diri dengan Tuhan. Di Bali, lanjut pria kelahiran 7 Oktober 1970 ini,  proses inisiasi ini dilakukan dengan cara Seda Raga, yakni salah satu cara untuk mengetahui jalan ke Nirwana atau Swahloka, sehingga bila jadi Sulinggih nanti, bisa menuntun atma-atma yang diupacarai dalam prosesi upacara Pitra Yadnya.



"Atau bisa saja menjadi Acharya yang bisa dilakukan dengan Upanishad dan saling berbagi dalam komunitas kecil dalam Gria atau Ashram yang sudah menjadi pelayanan sebelumnya. Sehingga selanjutnya bisa menjadikan Kita sang Diksita jauh belajar kedalam diri dan tidak hanya muput karya, tapi juga memahami hakikat hidup dan kehidupan,danberusaha memperbaiki diri dan tindak lebih baik," terang Indra Udayana kepada Bali Express (Jawa Pos Group ) di Klngkung, akhir pekan kemarin.


Dijelaskannya, Kata ,'Diksa' berasal dari bahasa  Sansekerta  dari akar kata ' 'di' dan 'ksa'. 'Di' artinya Divya Jnyana  atau  sinar ilmu pengetahuan. Sedangkan 'ksa' artinya ksaya atau
melenyapkan, menghilangkan.  


Dengan demikian, lanjutnya,  'Diksa' artinya divya  jnana atau  sinar suci ilmu pengetahuan yang melenyapkan kegelapan atau kebodohan itu.


Ditambahkannya, dalam sasana Pinandita atau ké Acharya, disebutkan bahwa Madiksa
sebagai suatu upacara umat Hindu dipimpin oleh seorang Pedande Nabe  untuk meningkatkan  kesucian  diri, guna mencapai kesempurnaan.


"Karena lewat kesucian diri itulah, manusia dapat berhubungan denga Sang Hyang Widhi Wasa," ujar pria menerima anugerah bergengsi dubia, Dr Abdul Kalam Award 2018.  Dedikasi award yang  diserahkan Menteri Dalam Negeri India, Mr Hansraj Air dan anggota parlemen India, Ramdas Tadas ini, khusus  diperuntukkan kepada  tokoh dari berbagai penjuru dunia yang konsen dengan perdamaian dan hubungan baik sesama manusia. Indra Udayana sudah sering  mendampingi KH Abdurahman Wahid (tokoh umat yang juga mantan Ptesiden RI), Network Mahatma Gandhi di penjuru dunia, Ibu Gedong Oka, dalam rangka komunikasi dan membangun hubungan lintas agama dan persatuan dunia atas nama kemanusiaan.


Bagi pria dengan nama komplet DR (HC) Agus Indra Udayana ini, apa yang diputuskan ini adalah sebuah  pelestarian budaya dan panggilan hati nurani, sekaligus usaha mendamaikan dunia, lewat doa dan tindak yang dilakukan,  setidak ikut mengontrol diri dan menjadi pembawa damai bagi sekeliling  dan persaudaraan.


"Di lingkungan kita banyak yang sudah memiliki gelar atau 'ngelarang' kepanditaan atau kepanditaan, baik gelar sekala maupun niskala," paparnya.


Tentunya untuk mendapat pengakuan di zaman seperti ini, lanjut Ibdra Udayana, haruslah ada legalitas, yakni pengakuan dari Guruni Nabe, pengakuan dari PHDI, juga pengakuan dari Desa Pakraman, dan juga adanya suatu proses secara upakara, sehingga dipandang sah untuk menuntun dan mengantar puja dan puji sebuah yadnya, minimal untuk skup keluarga besar. Bagi Indra Undayana, Madiksa bukan hal yang menyeramkan,  ini adalah sebuah usaha penyucian diri, sebuah panggilan hati nurani, juga sebuah kesiapan diri,
baik kesiapan jasmani dan rohani,  kesiapan fisik dan mental, juga soal kesiapan material dan spiritual.


Di samping itu, juga kesiapan kondisi lingkungan mengubah sebuah kebiasaan diri hingga dipandang  sebagai manusia yang dianggap mampu untuk mengantar dan menyampaikan puja-puji dalam ritual yadnya 'dianggap'  orang yang layak untuk digugu dan ditiru (Guru). "Penyucian diri sangat penting, dan setiap orang  ingin bersih. Bersih itu pangkal sehat. Sehat jasmani dan rohani. Bersih tubuh dapat dilakukan dengan cara mandi dan menggunakan sabun serta parfum, sedangkan bersih rohani dapat dilakukan dengan Malukat, Mawinten, dan Madiksa," ujarnya.



Menurut Indra Udayana, untuk dapat menjaga kesucian dirinya, seseorang yang telah melaksanakan upacara Madiksa, berkewajiban agar setiap hari  menyucikan diri dengan melakukan Puja Parikrama  atau Surya Sewana, setiap pagi, siang, dan sore hari. "Maka dari itulah sang diksita atau  wiku  'Tan keneng cuntaka', juga tidak nyuntakain, kecuali wiku wanita yang sedang dalam keadaan haid," paparnya.



Di dalam Yajur Weda XX, 25 disebutkan : Dengan melaksanakan brata
seseorang akan memperoleh Diksa;  Dalam tingkatan Dwijati  diharapkan mulai mematuhi segala peraturan kebrahmanaan. "Dengan melakukan Diksa, seseorang akan memperoleh Daksina, pendapatan yang suci, karena didapatkan dari perbuatan yang suci dan terhormat, dan tentunya secukupnya," paparnya.



Sebelum mengambil keputusan bulat, Indra Udayana mengaku sudah  mempersiapkan diri sejak lima tahun lalu. Mulai  dari proses memilih Nabe, belajar y,ang sederhana dari Guru Nabe dan proses pengendalian diri.


Proses memilih Guru Nabe, lanjutnya, tentunya dari pengalaman batin dan kedekatan spiritual, mudah komunikas. "Persembahan ke dalam, inilah rahasia dari Guru Nabe bersama Nanaknya," akunya. "Soal pendamping itu adalah spirit, kalau kita ada tekad dan kemauan yang kuat, astungkara pendamping sejati itu adalah alam yang akan menuntun kita," katanya.


Rencana yang panjang itu tak hanya soal bertalian dengan Sulinggih, namun jeberlangsungan Ahram Gandhi Puri juga jadi bagian yang sudah dipersiapkan


"Kalau soal ashram dari lima tahun silam sudah saya siapkan, siapa yang punya dedikasi totalitas dan loyalitas, alumni yang baik akan menuntun adik adiknya para Shantisena di Ashram," paparnya.


Dikatakannya, sejak awal  Ashram Gandhi Puri sebagai Laboratorium Kehidupan. Jadi, semua harus bertanggung jawab bersama, dan Shantisena menemukan Swakarma dan Swadharmanya. Disinggung soal langkah kedepan setelah sah secara sekala dan niskala menjadi seorang Sulinggih, selama dua tahun  Indra Udayana akan memanfaatkan waktunya untuk memahami diri sendiri, belajar sasana kawikon. Selain itu, tetap ingin melanjutkan program Kalingga Bali Sanggam, dimana genah (tempat) Ida Lelangit Maha Rshi Markandeya di Odisha. Sejumlah program memang sudah dilaksanakan Indra Udayana, diantaranya



Astakamala Initiative yang sudah mengirim beberapa putra Nusantara ke India, lalu ada Dharma Ashram Taruna, juga  Sacred Village Festival yang melibatkan  para praktisi Yoga dan kebudayaan dari India dan Indonesia, seperti Anjasmara Prasetya, Dikha AGP, Bona Alit, Harshita Takur, Vinit Sharma.



Sebelum Madiksa hari ini, Kamis (24/10) lalu, sudah dilaksanakan Diksa Pariksa PHDI Klungkung di Jeroan Saren Anyar, Banjar Jabon, Desa Sampalan Tengah, Klungkung.


 

Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih