Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Pesimpangan Taman Pole, Abiansemal, Badung

I Putu Suyatra • Sabtu, 23 November 2019 | 22:33 WIB
Sejarah Pura Pesimpangan Taman Pole, Abiansemal, Badung
Sejarah Pura Pesimpangan Taman Pole, Abiansemal, Badung


ABIANSEMAL, BALI EXPRESS - Hanya ada dua palinggih di Pura Pesimpangan Tamam Pole di Abiabsemal, Badung. Letaknya bersebelahan dengan merajan yang hanya dibatasi  sekat setinggi satu meter. Pura ini dibangun lantaran situasi keamanan kurang bagus di era penjajahan dahulu.


Pura Pesimpangan Tamam Pole jika dilihat dari luar tampak bahwa ada banyak palinggih, seperti umumnya pura. Namun, ketika masuk ke dalam, maka akan tahu bahwa ada dua buah pura yang berdiri di area yang sama.


Pura Pesimpangan Taman Pole yang  terletak di Banjar Pakandelan, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung ini, berdiri di area sebelah utara,  dibatasi dengan sekat tembok kurang lebih setinggi satu meter. Sedangkan di area sebelah selatan terdapat  merajan keluarga.


Pangarep Pura Pesimpangan Taman Pole, I Made Latrem, 62,  menceritakan dari tutur tetua keluarganya, bahwa  Pura  Pesimpangan Taman Pole  dibangun di era kerajaan zaman dahulu. “ Dari cerita leluhur terdahulu, konon karena masa perang keluarganya tidak berani pergi keluar desa. Apalagi sembahyang ke pura leluhur di Pura Taman Pole Ubud, Gianyar," ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Agar bisa memuja beliau  yang berstana di Pura Taman Pole, Ubud, leluhur I Made Latrem mencari  solusi. Alternatif solusi untuk mengatasi  agar tetap bisa bersembahyang kepada Ida Batara yang malinggih di Pura Taman Pole Ubud, akhirnya diputuskan membuat sebuah pura pesimpangan. “Pura pesimpangan pun didirikan di area sebelah utara merajan ini. Hingga saat ini kami keturunannya ngempon di Pura Pesimpangan Taman Pole ini,” ucap pria empat anak ini.



Diakuinya, keluarganya sudah lama tidak datang  nangkil ke Pura Taman Pole di Ubud.
Setiap nangkil ke Ubud butuh waktu beberapa jam karena jalan kaki dari Abiansemal.
Kesempatan agar bisa kembali sembahyang ke pura kawitan keluarganya ini akhirnya kesampaian juga, ketika masa kakek I Made Latrem.


“Waktu itu jalan kaki ke Pura Taman Pole yang di Ubud. Lumayan perjalanannya tidak seperti sekarang ya,” ucap Ni Made Warsa, 67, juru sapuh Pura Taman Pole.



I Made Latrem dan Ni Made Warsa pun menceritakan bahwa perjuangan sembahyang juga kadang terkendala dengan melewati jembatan bambu. Selain itu,  pernah ada begal ketupat. I Made Latrem  mengungkapkan, begal ketupat sering meminta ketupat yang dibawa sehabis sembahyang.


“Iya waktu itu kondisi ekonomi warga juga  tak begitu bagus ya,” jelas I Made Latrem yang diiyakan Ni Made Warsa.



Ditambahkan I Made Latrem, sebagai pura dengan status kawitan, dahulunya sempat tidak dibatasi antara area merajan dengan Pura Pesimpangan Taman Pole. Hal ini, konon sempat katanya membuat keluarga leluhurnya hidupnya tak akur dan kerap ribut.


Leluhurnya pun mencari akar permasalahan keluarga dengan cara melakukan mapinunas (meminta petunjuk) pada tokoh spiritual. Didapat dari hasil mapinunas bahwa tidak boleh ada  dua pura dalam satu area. Maka selanjutnya diputuskan  membuat pembatas.  "Pintu masuk ke pura juga dikhususkan, yang merajan di sebelah selatan dan Pura Pesimpangan Taman Pole di timur,” paparnya sambil menunjuk ke arah kori agung.


“Leluhur yang saya anggap kakek itu lah yang mulai membangun tembok pembatas ini. Sejak pembatas dibuat semuanya akhirnya baik baik saja,” tambah I Made Latrem.



Pura Pesimpangan Taman Pole  kini diempon oleh tiga kepala keluarga, semuanya berasal dari satu leluhur yang sama. Di pura dibangun palinggih stana Dewi Sri, Gedong sebagai pesimpangan dari Ida Batara dari Pura Taman Pole, dan  sebuah Pelik Sari. Walau kecil, rupanya piodalan di pura ini tetap menggunakan gong.



Walau diempon tiga KK saja, keluarga I Made Latrem dan Ni Made Warsa tetap melangsungkan tradisi menggunakan gong setiap upacara Ngeramen di Pura Pesimpangan Taman Pole ini. “Kalau Rabu (20/11) lalu  pas acara Ngeeng, jadi tidak memakai gong. Kalau pakai gong, berarti di piodalan enam bulan mendatang,” ujar Ni Made Warsa.



Diakuinya hingga saat ini  belum punya pemangku, dan bila ada upacara meminta bantuan pemangku dari luar.  Disinggung soal kejadian berhubungan dengan soal gaib, Ni Made Warsan dan I Made Latrem mengakui tidak ada hal-hal niskala di pura, walaupun pura ini sudah berdiri sejak lama.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pura #sejarah pura