DENPASAR, BALI EXPRESS - Burung Garuda adalah lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut I Made Adi Surya Pradnya atau yang akrab disapa Jro Dalang Naber Roy, burung Garuda adalah salah satu burung yang terdapat dalam mitologi Hindu. Kisahnya ada dalam Kitab Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa.
Dalam momen ini, Bali Express (Jawa Pos Group) mencoba untuk kembali membuka memori mengenai filosofi hal-hal yang berkaitan dengan NKRI, khususnya lambang negara dan bendera yang menjadi identitas penting. Perlu dipahami bahwa tulisan ini bukan untuk memecah belah rasa persatuan atau mengurangi kehormatan terhadap kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan budaya. Namun tulisan ini sebagai bentuk penghargaan terhadap spirit yang terpendam dalam rasa kebanggaan dan persatuan dari segi filosofi Hindu.
Seperti yang kita ketahui bersama, lambang NKRI adalah burung garuda. Menurut I Made Adi Surya Pradnya, yang akrab disapa “Jro Dalang Nabe Roby” , burung garuda adalah salah satu burung yang terdapat dalam mitologi Hindu. Kisah tentang burung Garuda ditemukan di Kitab Mahabharata, tepatnya bagian pertama yaitu Adiparwa. “Diceritakan bahwa Garuda adalah anak dari Bhagawan Kasyapa. Bhagawan Kasyapa memiliki dua istri, yaitu Sang Kadru dan Sang Winata,” ungkapnya.
Karena keduanya lama tidak memiliki anak, Kasyapa memberikan 1.000 telur pada Kadru dan 2 telur pada Winata. Telur milik Kadru menetas menjadi 1.000 ekor ular sakti, dan milik Winata belum. Karena Winata merasa malu, lalu ia memecah satu telur tersebut. Keluarlah seekor burung kecil yang belum sempurna bentuknya, cacat tak berkaki, diberi nama Aruna yang kemudian dikisahkan menjadi kusir Dewa Matahari atau Surya. Telur yang tinggal 1 itu dijaga baik-baik oleh Winata.
Suatu hari, Winata kalah bertaruh dengan Kadru. Kadru yang curang membuat Winata harus menjadi budak dan melayani Kadru beserta 1.000 ekor ular. Setelah sekian lama, telur Winata satunya pun akhirnya menetas menjadi Garuda. “Untuk menolong ibunya, Kadru menyuruh Garuda mengambil Amerta, air kehidupan milik dewa sebagai syarat,” lanjutnya.
Garuda pun menyanggupi dengan pergi ke kahyangan dan bertempur melawan para dewa untuk mendapat amerta tersebut. Setelah semua dewa tidak sanggup menghadapinya, akhirnya Dewa Wisnu pun turun tangan. Dewa Wisnu bertanya mengapa Garuda menginginkan amerta tersebut. Garuda pun menjelaskan permasalahannya. “Dewa Wisnu bersedia menyerahkan amerta tersebut jika Garuda bersedia menjadi wahana atau tunggangannya,” tutur Dosen IHDN Denpasar tersebut. Garuda pun akhirnya bersedia.
Amerta tersebut kemudian dibawa oleh Garuda ke para ular. Sebelum tirta tersebut diminum, diberi pesan oleh Dewa Wisnu bahwa syaratnya harus membersihkan diri dulu. Para ular pun berebut untuk menuju sungai dan mandi, sementara amerta tersebut ditaruh di atas alang-alang. Air tersebut kemudian tumpah sedikit dan segera diambil kembali oleh Dewa Indra. Para ular yang telah selesai membersihkan diri pun hanya melihat bekas amerta yang tumbuh di alang-alang. Mereka akhir nya berebut untuk menjilati alang-alang tersebut. Dari mitologi ini dikatakan bahwa alang-alang merupakan rumput yang suci dan karena ular menjilati alang-alang tersebut lidahnya menjadi terbelah. Di samping itu, semenjak saat itu Dewa Wisnu senantiasa digambarkan menaiki wahana berupa burung garuda dan menginspirasi kerajaan Hindu dalam melukiskan rajanya. Salah satunya adalah Raja Udayana yang pernah berkuasa di Bali.
Kegigihan Garuda dalam membebaskan ibunda tercintanya dari belenggu perbudakan yang tidak mengenal rasa peri kemanusiaan inilah yang kemudian oleh para founding fathers yang diadopsi secara filosofis dan disimbolisasikan dalam lambang negara Indonesia. Garuda bermakna sebagai simbol pembebasan ibu pertiwi dari belenggu perbudakan dan penjajahan. Dengan lambang Garuda yang gagah perkasa, para pendahulu berharap Indonesia akan menjadi bangsa besar yang bebas dalam menentukan nasib dan masa depannya sendiri. “Sehingga sampai saat ini burung garuda adalah symbol Negara kita,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra