Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Inti Upakara Hindu di Bali; Kurangi Semarak Banten Pangiring Upakara

I Putu Suyatra • Kamis, 2 Januari 2020 | 22:39 WIB
Inti Upakara Hindu di Bali; Kurangi Semarak Banten Pangiring Upakara
Inti Upakara Hindu di Bali; Kurangi Semarak Banten Pangiring Upakara

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam ajaran Agama Hindu, Inti dari Yadnya yang utama adalah Yadnya yang sesuai dengan hukum dan aturan Kitab Suci, yang dilandasi dengan hati yang tulus dan ikhlas. Terkait dengan masalah upakara dalam masyarakat Hindu sekarang ini, ternyata sering menimbulkan dilema khususnya dalam hal perekonomian masyarakat.


Seperti yang diungkapkan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, kentalnya pelaksanaan tradisi di Bali sering kali disebutkannya membuat pelaksanaan ritual yang ada di Bali terkesan mahal. “Sehingga hal ini memberatkan masyarakat Bali khususnya dalam kehidupan ekonomi yang pas-pasan ataupun mereka yang kekurangan,” jelasnya.


Untuk itu, Ida Rsi menyebutkan jika dalam setiap pelaksanaan ritual masyarakat perlu mengetahui dan memahami mengenai tujuan dari dilakukannya upacara, maka dikatakannya sudah pasti ada inti dari upakara tersebut, sehingga setiap pelaksanaan upakara bisa bermakna.


Seperti misalnya disebutkan Ida Rsi, untuk upacara ngaben, maka inti dari upacara tersebut adalah Nasi Angkeb, bubur Purata, panjang ilang, pisang jati, angenan, pangruyagan, pengadang-adang dan tirtha pengentas. Dari jenis upakara tersebut, masyarakat diakui Ida Rsi sudah mengetahui jika tujuan dibuatnya ritual tersebut adalah untuk upacara ngaben.


Meskipun inti dari upakara tersebut adalah sederhana, namun bagi sebagian besar masyarakat pelaksanaan upacara Ngaben masih terkesan mahal, karena banten-banten inti ini pada umumnya dibuat menjadi semarak karena dilengkapi dengan Banten Ayaban Pengiring (yang mengiringi atau yang mengikuti banten inti).


Banten pengiring inilah yang dikatakan Ida Rsi membuat upacara Ngaben atau jenis upacara lainnya menjadi mahal. “Sepatutnya upakara bisa dibuat lebih simple, selain itu bagi para Sulinggih semestinya juga berkenan untuk muput karena upakara yang dibuat meskipun sederhana, namun sudah sesuai dengan tatanan agama,” lanjut peraih penghargaan Reformasi Ritual ini.


Disamping itu, dikatakan Ida Rsi, upakara yang dibuat secara sederhana, juga tidak bisa digolongkan menjadi Nista, Madya atau Utama, namun upakara yang buat ini seharusnya digolongkan menjadi upakara inti (sederhana), Upakara Sedang dan Upakara Besar, dan pelaksanaannya disebutkan Ida Rsi bisa disesuaikan dengan kemampuan dari masyarakat penyelenggara upakara.


Hal ini dikatakan Ida Rsi karena dalam ritual agama Hindu, nilai spiritual dari sebuah upacara, bukanlah karena besar maupun mewahnya penyelenggaraan dan pengiring yang digunakan dalam membuat upakara tersebut, namun nilai spiritual tersebut akan timbul apabila upacara tesebut dilakukan dengan rasa Tulus Ikhlas tanpa menimbulkan kesengsaraan setelah pelaksanaan upakara.


Karena sesungguhnya Banten Inti inilah yang memberikan nama pada upacara yang diselenggarakan, sehingga banten inti inilah yang perlu ditonjolkan dan bukan banten pengiringanya. Namun pada kenyataannya diakui Ida Rsi, jenis upakara yang ditonjolkan dalam aktivitas ritual di masyarakat saat ini justru banten ayaban pengiringnya. “Sehingga upacara Yadnya di Bali seolah-olah harus dilakukan secara besar-besaran dan memberatkan umat,” paparnya.


Jika umat Hindu di Bali diakui Ida Rsi sering merasa was-was untuk melakukan aktivitas ritual karena biaya yang mahal, berbeda halnya dengan umat Hindu yang ada di luar Bali. Menurut Ida Rsi umat Hindu yang ada di luar Bali justri lebih nyaman dalam melakukan aktivitas ritualnnya.


Hal ini dikatakannya karena ada dan kebiasaan yang berlaku di Bali berbeda dengan tradisi yang berlaku bagi umat Hindu yang ada di luar Bali. “Seperti contohnya di Jawa, dalam melaksanakan aktivitas ritualnya, umat Hindu Jawa senantiasa melakukannya sesuai dengan ada dan budayanya,” jelasnya.


Sehingga pelaksanaan upacara dan upakara yang digunakan dalam aktivitas ritual umat Hindu Jawa ini diakui lebih simple. Sehingga umat Hindu di luar Bali dikatakannya tidak akan takut apabila ingin melakukan upacara yadnya, seperti Ngaben, potong gigi dan sebagainya.


Selain itu Ida Rsi juga berharap untuk pura-pura atau candi-candi Hindu yang ada di luar Pulau Bali, dalam pelaksanaan piodalannya selayaknya menggunakan sarana upakara yang disesuaikan dengan budaya setempat. Sehingga tidak ada kesan bahwa Agama hindu itu identik dengan budaya Bali. “Sehingga menyebabkan orang takut untuk menjadi Hindu, padahal agama Hindu itu adalah universal,” tambahnya.


 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #ngaben #bangli #hindu