DENPASAR, BALI EXPRESS - Umat Hindu baru-baru ini dikagetkan dengan berita bahwa pabrik perakitan skuter listrik Electric Vehicle Indonesia (Elvindo) menggunakan nama berunsur Hindu pada produknya. Pabrik yang baru diresmikan beberapa waktu lalu oleh PT Indo Jaya Electric tersebut mempunyai empat produk varian skuter listrik, yakni Arjuna, Bima, Rama dan Veda yang mengundang kontroversi bagi umat Hindu.
Penggunaan nama dengan unsur Agama Hindu ini sangat disayangkan oleh ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Sebab terkesan menyinggung dan melecehkan nama yang dihormati oleh umat Hindu. Dirinya pun berharap kepada sebuah perusahaan untuk berkonsultasi ketika hendak menggunakan nama berunsur agama dalam menentukan nama produk.
“Sebenarnya lebih bagus kalau menggunakan nama lain saja, karena nama-nama itu menyangkut unsur agama Hindu semua ya,” ujarnya saat dihubungi lewat telepon Rabu (15/1).
Selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Prof. Sudiana, menganggap tujuan dari perusahaan itu memproduksi sepeda motor listrik sudah bagus. Namun dalam pengaplikasiannya kurang bagus, seperti nama Rama yang merupakan salah satu nama Avatara yang tentu dihormati dalam Hindu di seluruh dunia. “Kejadian seperti ini pun sudah pernah terjadi, tetapi berhasil diselesaikan dengan baik, karena pihak bersangkutan mau dengan senang hati mengganti nama nama produknya. Tetapi sekarang justru kembali lagi terjadi,” ungkap Prof. Sudiana dengan nada menyesal.
Tidak hanya itu, dirinya merasa heran dengan penggunaan nama Veda. Padahal Veda adalah nama kitab suci Agama Hindu yang sudah diketahui banyak orang. Rektor IHDN Denpasar ini pun membandingkan, bagaimana sikap agama lain jika nama kitab suci agama mereka dipakai sebagai merk sepeda motor, tentu akan menimbulkan ketersinggungan.
“Penganut agama manapun pasti tersinggung jika nama kita suci agamanya dipakai jadi nama varian sepeda motor. Pasti dianggap pelecehan. Makanya bisa saya bilang, ini pakai nama Veda sudah melecehkan Agama Hindu ya,” tegasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
“Saya dari PHDI Bali sendiri, dengan tegas meminta perusahaan tersebut mengganti nama varian skuter listrik tersebut. Saya berharap perusahaan itu dengan senang hati melakukannya, lalu mencari nama lain yang tidak mengandung SARA, sehingga tidak timbul kontroversi lagi,” imbuh Prof. Sudiana.
PHDI Bali pun sudah mengirimkan surat ke PHDI Pusat agar segera mengurus kontroversi penggunaan nama yang disucikan dalam Hindu tersebut. Sampai kini, dirinya masih menunggu bagaimana kelanjutan dari kasus ini. “Kami serahkan ini ke PHDI Pusat karena punya wewenang lebih tinggi. Kami meminta agar PHDI Pusat bisa meminta langsung perusahaan tersebut mengganti nama varian motor itu,” ucap Prof. Sudiana.
Prof. Sudiana pun berharap jangan sampai kejadian nanti motor sudah diperjual belikan, ketika mengalami kerusakan atau dikendarai kosnumen akan timbul keresahan di masyarakat. “Bagimana jika rusak, kan si konsumen memaki nama varian motor itu. Tidak etis jadinya dan terkesan melecehkan Hindu,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra