Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Di Pedawa, Menikah Disebut Melaib, Membuat Kemulan hingga 11 Rong

I Putu Suyatra • Rabu, 29 Januari 2020 | 14:22 WIB
Di Pedawa, Menikah Disebut Melaib, Membuat Kemulan hingga 11 Rong
Di Pedawa, Menikah Disebut Melaib, Membuat Kemulan hingga 11 Rong


Budaya di Bali memang unik. Salah satunya adalah proses menikah di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Istilah menikah di Pedawa adalah melaib (lari).


WIGRAYENI TRESNAYATI, BULELENG


DI BALI dikenal tiga jenis pernikahan, pertama pernikahan meminang (mapadik/ngidih) yang dilakukan oleh keluarga calon mempelai laki-laki ke rumah calon mempelai perempuan. Meminang dapat dilakukan bila telah ada kesepakatan antara kedua belah pihak.  Kedua Pernikahan ngerorod atau yang sering disebut kawin lari, dimaksudkan bahwa kedua mempelai saling mencintai tetapi tidak mendapat restu dari salah satu keluarga mempelai.


Dan yang ketiga Pernikahan nyentana, kebalikan dari pernikahan meminang, keluarga mempelai perempuan meminang mempelai laki-laki dikarenankan dari pihak perempuan tidak memiliki saudara laki-laki, jenis pernikahan ini umum atau banyak dilakukan di Kabupaten Tabanan.


Berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya, di Desa Pedawa, pernikahan disebut dengan melaib. Melaib merupakan istilah lokal dari masyarakat setempat yang artinya kawin atau melangsungkan pernikahan. Jenis-jenis pernikahan yang ada di Desa Pedawa yaitu ada enam, melaib ngemaling, melaib ngidih, melaib nangken, melaib negteg, melaib mebase tegeh dan melaib ngerorod.


Keunikan dari pernikahan melaib, setiap laki-laki di Desa Pedawa yang sudah menikah wajib membuat sanggah kemulan. Sanggah kemulan atau sering disebut sanggah nganten merupakan sebuah pelinggih (tempat pemujaan) yang terbuat dari bambu. Sanggah kemulan oleh masyarakat setempat dianggap sebagai simbol dari pembentukan rumah tangga baru dari pasangan yang baru menikah. Meskipun tidak ada awig-awig khusus yang mengatur tentang kewajiban untuk membuat sanggah kemulan namun kepercayaan masyarakat terhadap mitos leluhur terdahulu menyebabkan sanggah kemulan bertahan hingga sekarang.


Masyarakat Desa Pedawa percaya sanggah kemulan bertujuan untuk keharmonisan rumah tangga, agar selalu mendapat kebahagiaan dan terhindar dari penyakit. “Kepercayaan dari dulu sanggah kemulan di desa sudah ada sebelum penjajahan Majapahit dan masih ada sampai sekarang,” jelas Ni Ketut Tiki atau yang akrab di panggil Men Surya, salah satu tukang banten di Desa Pedawa.


“Kita di sini percaya kalau orang yang sudah menikah tidak membuat sanggah kemulan maka salah satu dari pasangan itu sakit. Karena upakara pernikahannya belum lengkap, belum mendirikan sanggah kemulan,” sambungnya.


Sanggah kemulan di Desa Pedawa semua bahannya terbuat dari bambu dan harus menggunakan bambu bali atau tiing bali, hal itu dikarenakan masyarakat percaya bahwa tiing bali dianggap sebagai simbol Dewa Brahma. Pada saat mencari bambu bali untuk membuat sanggah kemulan masyarakat tidak memerlukan hari baik atau dewasa ayu.


Sanggah kemulan terdiri dari beberapa ruang (rong) dan semuanya harus berjumlah ganjil, diantaranya ada yang berjumlah 7 rong, 9 rong dan 11 rong. “Yang membedakan jumlah rong di sanggah kemulan setiap keluarga yaitu bhatara bhatari atau dewa yang dipuja masing-masing keluarga. Tetapi jumlah rong tidak lebih dari 11rong, maksimal hanya 11rong. Karena ada sastra yang mengatakan 11 yang utama dan dari lontar itu lelulur kami terdahulu percaya sanggah kemulan itu sebaiknya tidak lebih dari 11rong,” ujar salah satu tokoh I Wayan Panggil, 64.


Keunikan lain dari sanggah kemulan ini menurut kepercayaan masyarakat di Desa Pedawa ada pengertian purusa dan predana yang harus saling mengikuti dan tidak dapat dipisahkan. Setiap laki-laki yang menikah dengan perempuan dari dalam maupun dari luar Desa Pedawa harus ikut ngelinggihang (menempatkan) bhatara bhatari dari pihak istri di sanggah kemulan mereka. Masyarakat Desa Pedawa percaya secara niskala leluhur dari pihak suami dan istri menikah di sanggah kemulan, karena itu kemudian mereka memujanya bersama-sama.


“Di sanggah kemulan masyarakat Pedawa yang kami sembah sesuai dengan masing-masing kepercayaan keluarga tersebut. Misalnya di sanggah kemulan yang saya sungsung ada Kemulan Taksu, Ida Bhatara Pemayun, Ida Bhatara Gunung Agung, Ida Tengaian Segara, Ida Bhatara Munduk Duur, Ida Bhatara Buah Kayu, dan Ida Bhatara Alas Kuwalon. Jadi setiap keluarga pasti berbeda sungsungan di sanggah kemulan nya, murni menurut kepercayaan keluarga yang mendirikan sanggah kemulan,” ujar sambung Wayan Sukrata.


Menurut kepercayaan masyarakat setempat hari baik yang dianggap bagus untuk upacara sanggah kemulan adalah pada saat purnama kapat dan purnama kedasa. Setelah menentukan hari baik maka akan dilakukan upacara ngamputang lis, tujuan dari upacara ini adalah untuk mlaspas (menyucikan) sebelum menempatkan leluhur yang di sungsung di sanggah kemulan. Upacara ngamputang lis dilaksanakan dengan mantra khas Desa Pedawa. Mantra khas Desa Pedawa namanya sesontengan, yang artinya banten apa yang dihaturkan maka itu yang diucapkan.


Ketika upacara ngamputang lis sudah selesai maka dilanjutkan dengan proses ngerapuh, yaitu air suci/tirta yang sudah dikumpulkan oleh pihak keluarga sehari sebelumnya di Pura-Pura di Desa Pedawa dipercikan ke sanggah kemulan, lalu kemudian pihak keluarga yang mendirikan sanggah kemulan melakukan persembahyangan untuk meminta keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.


Pada saat selesai sembahyang maka sudah selesai rangkaian upacara ngamputang lis, tetapi untuk semua banten yang digunakan di sanggah kemulan akan didiamkan terlebih dahulu atau istilah lokal masyarakat setempat ngayengan. Proses ngayengan ini berlangsung selama dupa yang ditaruh di sanggah kemulan habis atau padam. Setelah sanggah kemulan di upacarai setiap harinya masyarakat Desa Pedawa menghaturkan canang burat wangi di sanggah kemulan.


Masyarakat Desa Pedawa tidak mengenal konsep mata angin untuk penempatan bangunan seperti di Bali pada umumnya. Masyarakat setempat mempercayai konsep ulu-teben/tinggi-rendah. “Di ulu itu merupakan tempat yang lebih tinggi dan kami menganggap kawasan suci, dan teben merupakan tempat yang lebih rendah. Berbeda dengan masyarakat Bali umumnya yang menggunakan gunung dan laut sebagai patokan arah. Kami hanya menggunakan konsep ulu teben, ulu bearti lebih tinggi,” ujar warga lain Nyoman Kalam.  


“Yang ditempatkan untuk tempat suci atau sakral dan teben yang bearti lebih rendah, digunakan untuk kandang, jineng, tempat menyimpan kayu dan kamar mandi. Letak sanggah kemulan mempengaruhi posisi tidur, pada saat tidur di dalam rumah bagian kepala harus menghadap posisi sanggah kemulan dan tidak boleh bagian kaki yang menghadap sanggah kemulan.” sambung Kalam.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #tradisi #tradisi unik #buleleng