Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dalam Hindu, Kesedihan Istri Bisa Bikin Keluarga Hancur

I Putu Suyatra • Rabu, 4 Maret 2020 | 23:15 WIB
Dalam Hindu, Kesedihan Istri Bisa Bikin Keluarga Hancur
Dalam Hindu, Kesedihan Istri Bisa Bikin Keluarga Hancur


DENPASAR, BALI EXPRESS - Wanita ketika menjadi istri dan menantu sering masih dianggap orang luar, sehingga ada saja yang merasa tidak bahagia ketika menikah. Bagaimanakah memposisikan peran wanita sebagai seorang istri?


 


Ketika menikah, bagi seorang wanita tebtu bantak pertimbangan, bahkan menjadi keputusan yang cukup berat, meski sesuatu yang sangat kodrati. Masuk ke sebuah keluarga, lingkungan hingga pergaulan yang baru, sering membuat wanita harus cepat beradaptasi. Apalagi tantangan berat terkadang datang dari mertua, ipar hingga suami sendiri. Hal ini membuat ada saja kisah sedih yang dialami wanita ketika sudah menikah.


Padahal, dalam Hindu kesedihan seorang istri akan membawa petaka bagi keluarga suaminya, begitupun sebaliknya. Hal ini tertuang dalam Manawa Dharmasastra III. 57, Socanti Jamayo Yatra Vinasyatyacu Tatkulam Na Socanti Tu Yatraita Vardhate Taddhi Sarvada. Maksudnya, bila wanita hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, dan dimana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia. Hal ini dibenarkan Drs. I Putu Sarjana, M.Si, Dekan Fakultas Agama, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Bali.



Tak disanggahnya bahwa kenyataan di lapangan masih saja terjadi peristiwa wanita merasa bersedih, ketika tidak diterima baik oleh keluarga suaminya. "Terjadinya hal tersebut, karena lingkungan yang masih punya pandangan skeptis, bahwa seorang wanita hanyalah pelengkap saja.Sehingga wanita dipandang hanya sebagai tukang bersih-bersih rumah, buat banten dan lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan di rumah,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.


 


Kondisi yang demikian, lanjutnya,  pastinya akan menyebabkan wanita menderita. Beda kalau lingkungannya terpelajar, mengerti fungsi wanita sebagai menantu, bukan pelengkap saja, namun dianggap sebagai anak. Wanita sebagai menantu, lanjut  Putu Sarjana, adalah anak yang harus disayangi mertua, sebab  istri dari anak orang tua tersebut adalah guru bagi cucu-cucunya. "Seorang wanita ketika menjadi guru, dia adalah orang pertama yang akan mendidik anaknya dalam bidang agama," terangnya.



Dicontohkannya, seorang ibu melakukan Yadnyasesa, maka dia akan juga mengajari anaknya bahwa kegiatan itu adalah tanda bersyukur pada Tuhan. “Anak akan dapat pandangan hidup, pelajaran hidup dari ibunya. Bayangkan jika si ibu merasa menderita, bagaimana dia bisa mendidik anaknya dengan baik,” ungkapnya.



Dikatakannya, dalam realitas modern sekarang peran wanita pun semakin meningkat. Wanita bisa menajdi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier. Bagi pria asal Buleleng ini, hal ini adalah sebuah kewajaran dalam masa kesetaraan gender sekarang. Dia pun beranggapan agar keluarga suami tidak menuntut si istri untuk bisa total  majejaitan, memasak atau mencuci, apalagi  seorang istri juga mencari nafkah.Menurutnya, wanita Hindu kuat dan akan selalu melihat situasional cara dirinya. "Ketika tidak sempat belajar atau membuat banten, mereka bisa membeli yang sudah ada. Kemudian menggunakannya untuk mabanten. Jangan dipaksa sudah kerja seharian mesti pintar majejaitan. Saya yakin kalau wanita Hindu Bali tidak kerja atau ikut cari nafkah keluarga, urusan rumah tangga beres kok. Kalaupun bekerja,  mereka pasti akan cari waktu luang mengerjakan itu,” papar Putu Sarjana.


 


Tujuan dari tidak memaksa akan kehendak harus total bisa majejaitan atau memasak, lanjutnya, akan membuat si istri dihargai, dan akhirnya timbul saling pengertian, baik antara suami dan istri serta keluarga besar lainnya.


"Dari saling pengertian itu, akan tercipta keluarga yang harmonis. Si suami jika melakukan kegiatan akan cenderung dihargai istri, sebab istri merasa juga dihargai," urainya.


 


Model pemahaman seperti itu, karena kadang fakta dinlapanga tidak jarang wania lebih bagus kariernya daripada pria. "Jadi, hargai wanita sebagai istri maupun menantu. Sebab, mereka juga bekerja keras seperti itu pasti demi keluarga,” beber pria yang menjadi dekan sejak dua tahun lalu tersebut. Ditambahkannya,penegasan tersebut dimuat dalam Sloka Manawava Dharmasastra III.55 yang  meyebutakn 'Pitrbhir Bhatrhis, Caitah Patibhir Devaraistatha, Pujya Bhusayita Vyasca, Bahu Kalyanmipsubhih.'


Jadi, seorang istri harus dihormati dan disayangi oleh sang mertua, iparnya, saudara, suami hingga anak-anaknya, jika mereka hendak hidup sejahtera. Dalam sloka itu, lanjutnya, anak-anak dari si wanita pun harus menghormati ibunya, sebab sang ibu adalah guru pertama mereka. Peran ayah walau besar, tetapi cenderung ketika mendidik, ibulah menjadi guru pertama mereka. “Jika semua itu diabaikan, bisa terkena pengaruh lingkungan yang tak baik, sebab lupa dan tak peduli akan pelajaran hidup yang diajari sang ibu,” ucapnya.



Masalah sebaliknya juga akan terjadi jika ibu tidak bahagia, maka dia tidak akan bisa mengarahkan dengan baik sang anak, sebab merasa menderita di keluarganya yang dibangun sendiri. “Suami menghormati istri dan istri mengormati suami, anak, juga keluarga lainnya saling pengertian dan percaya. Saya pun berharap praktik di lapangan tentang istri hanya pelengkap makin berkurang dan nantinya hilang,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu